https://tirto.id/plus-minus-speaker-corong-yang-jadi-pengeras-suara-di-masjid-cUES
Plus Minus Speaker Corong yang Jadi
Pengeras Suara di Masjid
Ilustrasi pengeras suara Masjid. FOTO/iStockphoto
<https://tirto.id/plus-minus-speaker-corong-yang-jadi-pengeras-suara-di-masjid-cUES>
Ilustrasi pengeras suara Masjid. FOTO/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 24 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
/Speaker corong di masjid-masjid memiliki tingkat tekanan suara sebesar
110 dB. Apakah ini kelebihan atau kekurangan?/
tirto.id <https://tirto.id/> - Meiliana, warga Tanjung Balai, Sumatera
Utara sempat mengeluh suara speaker masjid di dekat rumahnya. Keluhannya
berujung kasus hukum. Polisi menetapkan status tersangka dan menjeratnya
dengan pasal 156 subsider 156a KUHP Pidana tentang penistaan agama. Pada
Selasa (21/8) Pengadilan Negeri Medan memutuskan Meiliana bersalah dan
menghukumnya dengan kurungan 1,5 tahun penjara.
Baca juga:
* Detail Kejadian Keluhan Suara Azan dan Kerusuhan di Tanjung Balai
<https://tirto.id/detail-kejadian-keluhan-suara-azan-dan-kerusuhan-di-tanjung-balai-cUg6>
Apa yang menjadi keluhan Meiliana soal speaker masjid memunculkan
pertanyaan soal kekuatan speaker yang sampai membuat tak nyaman.
Gunawan, teknisi audio yang juga berbisnis jual-beli perangkat /sound
system /di Jakarta, mengatakan masjid biasanya menggunakan /speaker/
jenis corong, khususnya bagi pengeras suara yang diarahkan ke arah
lingkungan sekitar.
/Speaker/ corong yang digunakan umumnya merupakan buatan Toa. Toa adalah
perusahaan yang didirikan oleh Tsunetaro Nakatani, orang Jepang
kelahiran 10 Agustus 1890. Pabrik pembuatnya adalah Toa Electric
Manufacturing Company di Kobe yang didirikan pada 1 September 1934.
Produk /speaker/ ini didistribusikan ke Indonesia melalui seorang
pengusaha keturunan Tionghoa asal Bangka bernama Uripto Widjaja.
Baca juga:
* Tak Ada Demo dan Dakwah Tanpa Toa
<https://tirto.id/tak-ada-demo-dan-dakwah-tanpa-toa-cyRz>
Speaker corong merek Toa yang digunakan oleh masjid umumnya memiliki
input daya listrik antara 25 watt dan 50 watt. Input daya 25 watt
umumnya digunakan pada masjid berukuran kecil hingga sedang, sementara
50 watt digunakan pada masjid berukuran besar. /Speaker/ corong dengan
input sebesar 25 watt sanggup terdengar dengan radius 500 meter dari
titik speaker corong berada.
Menurut Gunawan, radius suara sangat mungkin bertambah hingga jarak
sejauh 1 Km bila berada di kampung yang tenang dan kondisi suaranya
biasanya relatif kurang jelas. Speaker musik atau speaker biasa, yang
memiliki nilai input daya sebesar 125 watt, hanya sanggup terdengar
antara jarak 15 meter hingga 50 meter saja.
Inilah, yang menurut Gunawan, jadi keunggulan speaker corong yang tidak
dimiliki speaker lainnya.“Corong suaranya tajam dan (radius) jauh
keunggulannya,” kata Gunawan.
Selain punya keunggulan frekuensi jangkauan yang jauh, harga speaker
corong punya kelebihan harga yang relatif murah. Rata-rata, 1 speaker
corong dijual seharga Rp600 ribuan. Namun, speaker jenis ini punya
kelemahan yaitu bising.
Speaker corong merek Toa memiliki frekuensi suara antara 200 Hz hingga
6.000 Hz, atau setara dengan 0,2 kHz hingga 6 kHz. Yogie Natasukma,
seorang /sound engineer/, mengatakan /speaker/ corong yang digunakan di
masjid-masjid punya ragam merek dengan frekuensi antara 1 kHz hingga 5
kHz. Frekuensi tersebut punya keunggulan, yakni artikulasi yang
dihasilkan jelas. Konsekuensinya suara yang keluar dari /speaker/ bisa
tidak nyaman di telinga manusia.
Respons tubuh atas suara/audio bukan hanya terjadi pada telinga. Yogi
mengatakan frekuensi 20 Hz akan lebih terasa di dada manusia. Semakin
tinggi dari angka tersebut, organ tubuh yang merasakannya semakin ke
atas. Secara umum, manusia mendengar suara dalam frekuensi antara 20 Hz
hingga 20 kHz.
infografik speaker corong masjid
Melansir laman Tech Me Audio
<https://www.teachmeaudio.com/mixing/techniques/audio-spectrum/>,
rentang frekuensi yang dimiliki /speaker/ corong berada dalam rentang
frekuensi yang disebut sebagai "presence." Pada rentang ini, suara yang
dihasilkan dapat menjadi kasar dan menjengkelkan bagi manusia yang
mendengarnya. Menurut Gunawan, inilah yang jadi alasan mengapa terasa
bising di telinga kala suara /speaker/ corong didengar. “Speaker biasa
(terasa enak) karena ada bass-nya" Namun, hal tersebut tidak dimiliki
speaker corong.
Di dunia audio, tingkat tekanan suara diukur melalui besar kecilnya
nilai dB alias /decibel./ Ini merupakan suatu pengukuran yang mengukur
seberapa kuat gelombang suara di telinga manusia. /Speaker/ corong merek
Toa memiliki nilai tingkat tekanan suara sebesar 110 dB. Sementara itu,
speaker musik memiliki nilai tingkat tekanan suara sebesar 100 dB.
Alexander Sengpiel
<http://www.sengpielaudio.com/TableOfSoundPressureLevels.htm>, ahli
audio asal Jerman, membeberkan percakapan antara manusia berada di
tingkat tekanan suara sebesar 60 dB. Sedangkan tekanan suara sebesar 110
dB setara dengan suara /speaker/ corong, ini setara dengan suara gergaji
mesin yang terdengar pada jarak satu meter.
Baca juga:
* Aturan Main Pengeras Suara di Masjid
<https://tirto.id/aturan-main-pengeras-suara-di-masjid-cqbV>
Menurut Alexander Sengpiel tingkat tekanan suara yang dianggap membuat
pendengarnya tidak nyaman, ada di angka 120 dB. Artinya, suara gergaji
mesin dan suara speaker corong hanya terpaut 10 dB dari zona
ketidaknyamanan pendengaran manusia.
Tingkat tekanan suara /speaker/ corong berada di angka 110 dB. Secara
umum, suara speaker corong memiliki tingkat tekanan suara sebesar 65 dB,
yang didengarkan masyarakat sekitar masjid. Ini sama seperti level
tekanan suara yang dimiliki stasiun kereta, yakni 65 dB. Nilainya masih
terpaut 15 dB dibandingkan rata-rata tingkat tekanan suara lingkungan
perumahan yang berada di angka 45 dB hingga 50 dB.
Namun, apakah suara dengan tingkat tekanan suara besar langsung membuat
manusia berada dalam posisi tidak nyaman atau berbahaya? Michael Pinson,
<https://theproaudiofiles.com/sound-pressure-levels-part-1-of-2/>
seorang teknisi audio lulusan Birmingham City University, mengatakan
kondisi itu akan tergantung dengan durasi suara.
Menurut Pinson, suara dengan dB tinggi bisa ditoleransi asalkan tidak
memiliki durasi yang lama. Ia menegaskan “suara yang memiliki tingkat
tekanan suara rendah tapi memiliki durasi lama sangat mungkin jauh lebih
berbahaya.”
Yogi sependapat dengan Pinson. Menurutnya, tingkat tekanan suara yang
sebesar 65 dB bisa ditolerir pendengaran manusia hingga maksimal 8 jam.
Penggunaan /speaker/ corong memang punya banyak keunggulan. Namun, Yogi
punya pendapat lain, ia menyarankan kualitas suara yang dihasilkan
speaker corong bisa ditata lagi, dengan cara mengganti /equalizer/ dan
/speaker/ corong yang lebih baik. Selain itu bisa dengan melakukan
penempatan speaker corong yang tepat dan durasinya lebih singkat.
"Tempatkan sedikit condong lebih ke atas," kata Yogi.
Baca juga artikel terkait SPEAKER
<https://tirto.id/q/speaker-h5c?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
<https://tirto.id/author/ahmadzaenudin?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Teknologi)
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra