https://news.detik.com/kolom/d-4184617/gerakan-2019-ganti-presiden-kenapa-diadang
Senin 27 Agustus 2018, 16:38 WIB
Kolom
Gerakan '2019 Ganti Presiden' Kenapa
Diadang?
Sudrajat - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4184617/gerakan-2019-ganti-presiden-kenapa-diadang#>
Sudrajat
<https://news.detik.com/kolom/d-4184617/gerakan-2019-ganti-presiden-kenapa-diadang#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4184617/gerakan-2019-ganti-presiden-kenapa-diadang#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4184617/gerakan-2019-ganti-presiden-kenapa-diadang#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4184617/gerakan-2019-ganti-presiden-kenapa-diadang#>
51 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4184617/gerakan-2019-ganti-presiden-kenapa-diadang#>
Gerakan 2019 Ganti Presiden Kenapa Diadang? Sudrajat
<https://news.detik.com/kolom/d-4184617/gerakan-2019-ganti-presiden-kenapa-diadang#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4184617/gerakan-2019-ganti-presiden-kenapa-diadang#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4184617/gerakan-2019-ganti-presiden-kenapa-diadang#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4184617/gerakan-2019-ganti-presiden-kenapa-diadang#>
*Jakarta* - Bila menyimak kembali asal-usul gerakan '2019 Ganti
Presiden', Mardani Ali Sera dalam sebuah kesempatan pernah menyatakan
bahwa hal itu sebagai /counter/ atas sikap sejumlah pihak yang ingin
agar Presiden Joko Widodo memperpanjang masa jabatannya hingga 2024.
Dalam sebuah acara di televisi pada 3 April lalu, politisi PKS itu
sengaja mengenakan gelang berlogo #2019GantiPresiden.
Beberapa hari kemudian tagar serupa mewujud dalam bentuk kaos di
pasaran. Lalu, pada 6 Mei 2018 gerakan itu resmi dideklarasikan. Tak
cuma dalam bentuk tulisan, gerakan ini secara kreatif juga membuat lagu
dengan tema sama. Kalau pun ada kontroversi pada awal Juni lalu, lebih
menyoroti bahwa lagu karya Sang Alang itu sebagai jiplakan /Better Man/
yang popular dinyanyikan Robbie Williams. Sang Alang telah menepis
anggapan tersebut.
Seiring dengan itu, gerakan '2019 Ganti Presiden' terus bergulir, dan
dideklarasikan di sejumlah daerah. Sejumlah tokoh yang kerap tampil
selain Mardani adalah (mantan) penyanyi dan aktris sinetron Neno
Warisman, serta musisi Ahmad Dhani. Deklarasi ini mendapat perhatian
luas dari publik ketika melakukan aksi di Solo pada awal Juli lalu.
Ketika itu mereka beraksi di ruas jalan persis di depan kedai martabak
milik Gibran Rakabuming, putra Jokowi.
Ada yang menyayangkan dan menilai aksi itu kurang elok. Sejak itu,
kritik berkembang menjadi aksi penolakan di berbagai daerah. Tak cuma
oleh ormas-ormas dan kelompok masyarakat tertentu, tapi juga MUI daerah.
Ekspresi penolakan antara lain dilakukan dengan cara-cara yang menjurus
ke kekerasan, seperti penghadangan Neno di Batam, lalu kemarin di
Pekanbaru. Hal serupa dialami Ahmad Dhani di Surabaya.
Aksi-aksi penghadangan macam itu patut disesalkan. Pun sikap kepolisian
yang tidak menerbitkan izin dengan dalih berpotensi memicu konflik
horisontal. Di alam demokrasi, gerakan '2019 Ganti Presiden' mestinya
disikapi atau diimbangi dengan gerakan serupa. Mereka yang tak setuju
bisa mendeklarasikan 'Gerakan Jokowi 2 Periode', misalnya. Bukan dengan
cara primitif lewat penghadangan oleh massa.
Apa yang dilakukan Mardani, Neno, dan Dhani sebetulnya juga bukan hal
baru dalam perkembangan politik kita. Di periode pertama kekuasaan
Susilo Bambang Yudhoyono yang didampingi Jusuf Kalla, 2004-2009, juga
terjadi gerakan seperti yang dilakukan Mardani Cs.
Seiring peringatan Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) pada 2007,
misalnya, sejumlah veteran demonstran turun ke jalan. Mereka antara lain
Hariman Siregar, Sjahrir, Sri Bintang Pamungkas, Soegeng Sarjadi, hingga
budayawan WS Rendra. Mereka mengusung /tagline/ dalam gerakannya 'Cabut
Mandat SBY-JK' karena dianggap gagal memperbaiki nasib rakyat.
Lantas, apa bedanya Gerakan Cabut Mandat SBY dengan 2019 Ganti Presiden?
Saya ingin membatasi kritik terhadap gerakan ini dari lagu yang mereka
rilis sejak awal Juni lalu. Hingga Senin (27/8), video klip /Ganti
Presiden/ sudah ditonton 1,718,192 kali, mendapat /like/ 38 ribu kali,
sedangkan yang tak suka 19 ribu. Saya baru tertarik untuk menyimak
dengan seksama lagu ini ketika rampai pemberitaan terkait penghadangan
terhadap Neno dan Dhani, kemarin.
Ternyata pesan lagu ini didominasi oleh /hoax/. Di pembukaan lagu ini
langsung menyatakan, "/Dulu kami hidup tak susah, mencari kerja sangat
susah/." Menurut saya pencipta lagu ini kurang riset atau mengidap
semacam amnesia selektif. Kenapa begitu?
Pada 1981, Iwan Fals merilis lagu /Sarjana Muda/ yang memotret fenomena
sosial kala itu, ketika para sarjana sulit mendapatkan pekerjaan.
"/Engkau sarjana muda, resah tak mendapat kerja/". Jadi, soal
pengangguran dan sulitnya mendapatkan pekerjaan itu bukan isu yang
terjadi dalam empat atau lima tahun terakhir ini.
Selanjutnya Sang Alang menulis syair, "/Sepuluh juta lapangan kerja tapi
bukan untuk kita/." Kalimat ini juga jelas /hoax/ dan merupakan
pelintiran dari kalimat Presiden Jokowi. Dalam sebuah acara, Jokowi
pernah mengungkapkan agar jumlah wisatawan asing, khususnya dari China
bisa berkunjung ke Indonesia meningkat sampai 10 juta orang. Sejak 2016
isu 10 juta tenaga kerja asing (asal Tiongkok) telah berkali-kali
dibantah. Media pun ramai memberitakan bahwa itu tidak ada. Toh Gerakan
'2019 Ganti Presiden' sepertinya tak peduli.
Memang ada buruh asing asal Tiongkok bekeja dalam sejumlah proyek. Tapi,
jumlahnya sama sekali tak sebesar yang mereka gembar-gemborkan.
Kehadiran mereka juga tidak permanen. Begitu proyek rampung, ya
dikembalikan ke negara asalnya.
Ada juga syair yang cukup menggelikan terkait kenaikan harga BBM yang
seolah dilakukan secara diam-diam di malam hari. Padahal sejak era
Soeharto, kenaikan harga memang selalu dimulai pukul 00.00. Bedanya, di
era Jokowi BBM yang naik adalah yang memang tak disubsidi negara alias
mengikuti mekanisme pasar, yakni Pertalite dan Pertamax. Karena
mengikuti mekanisme pasar itulah, ketika harga minyak dunia turun, harga
di dalam negeri pun akan ikut turun. Dan, itu berkali-kali terjadi.
Syair lainnya yang jauh dari fakta berbunyi, "/Bukan presiden yang suka
memenjarakan ulama./. Kalau memang Presiden saat ini suka memenjarakan
ulama, tentu Mamah Dedeh, Ustaz Maulana, Ustaz Abdul Shomad, Habib
Luthfi tak lagi bebas berdakwah di layar kaca maupun di daerah-daerah.
Presiden saat ini justru sangat menghargai ulama, buktinya Ketua MUI KH
Maruf Amin dipilihnya menjadi calon wakil presiden.
Lantas, siapa gerangan ulama yang dipenjara itu sebenarnya? Sejauh yang
saya ingat, ya cuma Alfian Tanjung. Dia dihukum dua tahun karena materi
dakwahnya jauh dari nilai-nilai Islam. Dia justru menebar fitnah dan
kebencian.
Sejauh yang saya ingat pula, Ketua FPI Rizieq Shihab pernah dibui di
rutan Salemba selama tujuh bulan pada 2003. Kala itu dia didakwa
melakukan penghasutan mengganggu ketertiban dengan merusak fasilitas
umum, dan merendahkan pemerintah.
Lima tahun kemudian, Rizieq kembali diadili. Di era SBY, dia divonis 1,5
tahun pada akhir Oktober 2008. Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
saat itu menilai Rizieq terbukti bersalah menganjurkan dan membiarkan
orang lain melakukan pidana berupa kekerasan.
Sang Alang mestinya berkaca dari Iwan Fals. Menjelang Pemilu 2004, Iwan
merilis lagu yang berisi kritik dan harapan terhadap Presiden. Tapi,
isinya selain santun dan normatif juga jauh dari unsur /hoax/. Judulnya,
/Manusia Setengah Dewa/. Anda sekalian dapat mencari sendiri di
/Youtube/ bagaimana lirik lagu tersebut. Enak di telinga, lebih meresap
di jiwa.
*Sudrajat* /wartawan /detikcom/. Tulisan ini pendapat pribadi, tidak
mencerminkan kebijakan redaksi/
*(mmu/mmu)
*