Jadi, betul, Jokowi mulai main kasar?

-

Akui Kasar, BIN Minta Maaf Pengusiran Neno Warisman


Agustus 28, 2018 09:41

Jakarta,Aktual.com – Badan Intelejen Negara (BIN) akhirnya angkat bicara 
tentangpembubaran deklarasi #2019GantiPresiden di Pekanbaru, Riau, pada Minggu 
(26/8)kemarin.

Jurubicara BIN, Wawan Purwanto pun membantah adanya tindakan intimidasi 
yangdilakukan kepada salah satu penggerak deklarasi #2019GantiPresiden, 
NenoWarisman, saat dipulangkan secara paksa dari Pekanbaru, Riau, ke Jakarta 
padaSabtu (25/8) lalu.


Wawan berdalih,yang ada hanya imbauan agar tak meneruskan acara karena saat itu 
kondisi sudahtak kondusif.

“Dalamkondisi lelah karena berjaga 24 jam, bisa saja orang jadi emosi, 
capai,akhirnya ada gesekan, gampang marah. Tapi itu risiko sebuah tugas di 
lapanganmaupun pemantau,” ujarnya di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Senin 
(27/8)malam.


Iamenambahkan, pihaknya meminta maaf jika penanganan deklarasi 
#2019GantiPresidenjustru menimbulkan masalah baru. Menurutnya, pembubaran ini 
semata-matadilakukan untuk mencegah terjadinya bentrok dan jatuhnya korban.


“Olehkarenanya ya mohon dimaafkan andai kata ada sikap yang dirasa kasar, tapi 
inisemua untuk evaluasi bersama, sebagai wujud kecintaan kita kepada Tanah 
Air,”katanya.


Lebihlanjut, menurut Wawan, jika memang ada yang kurang, kritik dan saran 
akanditerima mereka. Pihaknya akan menjadikan hal tersebut sebagai bahan 
evaluasi.


“Kalau adasesuatu yang dirasakan, dia merasa diperlakukan beginilah, sampaikan. 
Karenaitu ada evaluasi, evaluasi bersama. Tidak ada yang sempurna secara 
sistemik danini untuk kebaikan ke depan,” ujar Wawan.


(Teuku Wildan)



On Monday, August 27, 2018, 5:36:08 AM GMT+7, ajeg wrote:
    


Panik karena dukungan37% semakin menipis lalu mulai main kasar.

Apa 100 jubir yang disiapkan masih dirasa kurang sehingga harus

mengerahkan alat negara?




Bukannya menjaga ketentraman selama berlangsungnya Asian Games,

malah bikin kegaduhan baru.

-

Minta TNI-Polri Sosialisasi Kinerja Pemerintah, Jokowi Berpotensi LanggarUU dan 
Konstitusi




24 August 2018




PolitikToday – Ketua DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menilaiPresiden 
Jokowi berpotensi melanggar UU dan konstitusi. Penilaian inidisampaikan 
menanggapi perintah Jokowi kepada anggota TNI dan Polri untukmenjelaskan 
capaian kinerja pemerintah.


Karenaitu, Ferdinand meminta Jokowi untuk lebih banyak belajar mengenai arti 
alatnegara. Terutama dalam menggunakan TNI dan Polri.


Ferdinandmenyebut menginstruksikan TNI dan Polri menjelaskan kinerja 
pemerintahmerupakan bentuk penyalahgunaan wewenang. Sebab, TNI dan Polri, 
memiliki tugasmenegakkan kedaulatan NKRI, memeberikan perlindungan, memelihara 
keamanan danketertiban bukan bertugas sebagai penerjemah pemerintah yang berbau 
kampanye.


“Semualembaga harus tunduk pada aturan dalam UU sebagai turunan dari 
Konstitusi.Presiden tidak boleh melanggar konstitusi dan UU. TNI Polri tidak 
bolehberkampanye,” ujar Ferdinand seperti dikutip dari akun Twitter pribadinya 
@LawanPolitikJKW, Kamis(24/8/2018).


SambungFerdinand, dalam Pilpres 2019, Jokowi merupakan peserta. Karena itu, 
narasikampanye Jokowi tidak jauh dari capaian kerja selama ini. Dengan 
memintaTNI-Polri menjelaskan kinerja pemerintah, sama saja menyuruh alat 
negaramenjadi juru kampanye Jokowi.


“Inimelanggar UU dan Konstitusi. Yang mulia presiden @jokowi, mari kita 
lakukanDemokrasi ini dengan adil, jujur dan transparan. Kekuasaan itu amanah, 
sekerasapapun upaya kita, jika Allah tidak berkehendak maka itu tidak akan 
jadi. Makajangan kita bawa bangsa ini ke dalam situasi tak menentu dengan 
menabraki UU.Kasihan bangsa,” tuturnya.


(rt)

   

Kirim email ke