Kemiskinan dan Warung Digital
Oleh :
Bhima Yudhistira Adhinegara
Jumat, 31 Agustus 2018 07:00 WIB
0KOMENTAR
<https://kolom.tempo.co/read/1122234/kemiskinan-dan-warung-digital/full&view=ok#comments>
000
#
#
#
#
Inkowapi menggelar program
<https://statik.tempo.co/data/2018/07/25/id_721606/721606_720.jpg>
Inkowapi menggelar program "Digitalisasi Warung" di limakota. (dok.
Inkowapi)
*Bhima Yudhistira Adhinegara*
/Peneliti Indef/
Kemiskinan masih jadi topik hangat, terlebih di tahun politik.
Perdebatan terjadi karena perbedaan cara memandang angka kemiskinan.
Selama ini rujukan angka kemiskinan memang ada di Badan Pusat Statistik.
Per Maret 2018, tercatat angka kemiskinan berhasil menjadi single digit,
yakni 9,8 persen-sebuah capaian yang mesti diapresiasi.
Fakta menarik soal data kemiskinan BPS per Maret 2018 terletak pada
distribusi kelompok 40 persen pengeluaran paling bawah yang mengalami
kenaikan 3,06 persen sepanjang September 2017-Maret 2018. Adanya
kenaikan pengeluaran masyarakat terbawah ternyata lebih berkaitan dengan
gencarnya bantuan sosial non-tunai yang melonjak signifikan 87,6 persen
selama triwulan I 2018. Program beras sejahtera juga berkontribusi pada
penurunan kemiskinan karena tersalurkan sesuai dengan jadwal.
Dari data itu disimpulkan bahwa sebagian besar penyebab penurunan
kemiskinan bukan akibat naiknya produktivitas masyarakat kelas bawah,
melainkan tingginya bantuan sosial yang bersifat konsumtif. Apakah
penurunan kemiskinan yang bergantung pada anggaran negara akan
berkelanjutan? Jawabannya bergantung pada kemampuan anggaran pendapatan
dan belanja negara dan alokasi anggaran. Jika prioritas anggaran
disalurkan untuk membiayai infrastruktur, misalnya, penurunan kemiskinan
bisa melambat.
Karena itu penurunan kemiskinan yang sifatnya hanya temporer melalui
bantuan sosial harus dilengkapi dengan terobosan lain. Pemerintah tentu
punya keterbatasan dari sisi anggaran, sedangkan jumlah penduduk miskin
masih 25,9 juta orang. Peluang menurunkan kemiskinan harus bersumber
dari kenaikan produktivitas masyarakat miskin.
Basis produktivitas masyarakat miskin yang mudah ditemui berada di
sektor perdagangan. Salah satunya warung kelontong. Warung-warung kecil
di daerah jumlahnya puluhan juta dan menghidupi masyarakat miskin.
Namun, selama ini tata kelola warung belum dioptimalkan karena masih
menggunakan manajemen tradisional. Perkembangan Internet di era digital
ternyata mampu menciptakan peluang bagi warung tradisional untuk
bertransformasi menjadi warung dengan pelayanan modern.
Layanan digital KUDO dan Warung Pintar, misalnya, terbukti berhasil
mempermudah bisnis di warung-warung tradisional. Bermodalkan gawai,
pedagang dapat bekerja sama dengan pemasok maupun distributor barang.
Jika awalnya kesulitan warung adalah menumpuk stok barang di gudang yang
sempit, karena rata-rata warung luasnya hanya 3 x 3 meter, dengan
aplikasi KUDO, penjual hanya berfungsi sebagai reseller barang alias
tanpa stok. Konsep ini mengubah seluruh rantai pasok bisnis warung
dengan titik tekan pada efisiensi biaya dan kecepatan pelayanan.
Selain itu, warung dapat menawarkan kebutuhan sehari-hari di luar barang
dan jasa, seperti pembayaran pulsa dan listrik. Fenomena peningkatan
fungsi warung ini tentunya harus dikembangkan untuk menciptakan lapangan
kerja hingga ke pelosok desa. Efek bergandanya juga terjadi di seluruh
rantai pasok barang.
Di sisi lain, kemunculan program e-warung atau layanan warung non-tunai,
yang menggandeng 83 ribu warung di seluruh Indonesia, patut diapresiasi.
E-warung merupakan program pemerintah untuk mendistribusikan bantuan
sosial, khususnya dalam bentuk Program Keluarga Harapan (PKH). Dengan
memanfaatkan teknologi modern, satu e-warung bisa melayani hingga 120
penerima PKH.
Kolaborasi antara pemerintah dan layanan warung digital, khususnya di
wilayah pedesaan, perlu terjalin. Hambatan, seperti keterbatasan
listrik, sulitnya akses jalan, dan akses jaringan Internet, bisa
diselesaikan melalui pembangunan infrastruktur oleh pemerintah.
Sedangkan pola kemitraan antara penjual warung kelontong dan layanan
digital bisa terus dioptimalkan. Pengentasan kemiskinan berbasis
produktivitas masyarakat di kelas bawah inilah yang merupakan solusi
ideal dan berdimensi jangka panjang.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com