Peneliti katakan stabilkan harga pangan untuk jaga inflasi
Minggu, 2 September 2018 12:54 WIB
Peneliti katakan stabilkan harga pangan untuk jaga inflasi
Ilustrasi. Sejumlah bahan kebutuhan pokok yang bisa memicu terjadi
inflasi. (ANTARA FOTO/Ivan Pramana Putra)
Stabilnya harga pangan memberikan dampak positif bagi perekonomian
Indonesia, salah satunya adalah menjaga nilai inflasi
Jakarta (ANTARA News) - Center for Indonesian Policy Studies (CIPS)
menginginkan kebijakan pemerintah dapat mendorong kestabilan harga
pangan dalam rangka menjaga inflasi dan daya beli warga.
"Stabilnya harga pangan memberikan dampak positif bagi perekonomian
Indonesia, salah satunya adalah menjaga nilai inflasi," kata Kepala
Penelitian CIPS Hizkia Respatiadi dalam rilis di Jakarta, Minggu.
Untuk itu, menurut dia, pemerintah sebaiknya tidak perlu memandang impor
sebagai opsi yang merugikan.
Ia berpendapat, impor hanyalah salah satu instrumen untuk menstabilkan
harga pangan di dalam negeri.
Dengan masuknya barang dan jasa dari luar negeri, lanjutnya, maka
konsumen akan memperoleh harga yang kompetitif dan lebih terjangkau,
sehingga membuat daya beli mereka meningkat.
"Untuk Indonesia, meski neraca perdagangan bahan pangannya defisit,
PDB-nya justru bertumbuh hingga 5,07 persen. Dengan demikian, semestinya
Indonesia tidak perlu terlalu khawatir karena masih mengimpor sebagian
besar bahan pangannya," paparnya.
Apalagi, Hizkia mengemukakan bahwa harga pangan yang cenderung lebih
stabil dinilai turut andil dalam menurunkan tingkat inflasi selama bulan
Ramadan dalam dua tahun terakhir.
Sebagaimana diwartakan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengubah
paradigma tanam padi sebagai salah satu upaya untuk menyetabilkan harga
beras.
"Intinya, kita mengubah paradigma tanam padi. Dulu ada paceklik, kita
telusuri masalahnya. Paceklik terjadi pada November-Desember-Januari.
Kenapa terjadi paceklik? Karena tiga bulan sebelumnya
Juli-Agustus-September tanamnya hanya separuh dari kebutuhan, 500 ribu
hektare," kata Amran Sulaiman di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat,
Kamis (30/8).
Lebih lanjut Amran mengatakan paradigma tanam padi diubah melalui
manajemen tanam yang baik sehingga bisa menekan kemungkinan ada masa
paceklik. Menurut dia, kunci agar tidak paceklik adalah menanam satu
juta hektare pada Juli, Agustus, September setiap tahun.
*Baca juga:Indonesia diharapkan hapus hambatan nontarif
<https://www.antaranews.com/berita/736156/indonesia-diharapkan-hapus-hambatan-nontarif>
Baca juga:CIPS: Perbankan harus permudah akses permodalan UMKM
<https://www.antaranews.com/berita/739776/cips-perbankan-harus-permudah-akses-permodalan-umkm>*
Pewarta:M Razi Rahman
Editor: Ahmad Wijaya
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com