*Makin banyak penderita HIV-AIDS makin besar bencana bagi rakyat Papua
untuk punah. Kalau orang papua makin hari makin berkurang akan sangat
menguntung bagi policy transmigrasi rezim neo-Mojopahit untuk memindahkan
penduduk dari wilayah yang padat penduduknya ke Papua, karena makin luas
tanah yang dapat dicaplok. Dari mana datang pembawa HIV-AIDS? *


*Sebagai catatan dapat diberitahukan bahwa pada zaman kekuasaan Belanda,
setiap orang yang mau ke pegunungan harus mempunyai sertifikat bebas
malaria.*


https://www.gatra.com/rubrik/nasional/pemerintahan-daerah/341589-Dinkes-Papua-Ungkap-2.003-Kasus-Baru-Penderita-HIV-AIDS
Dinkes Papua Ungkap 2.003 Kasus Baru Penderita HIV-AIDS

*Anthony Djafar* <https://www.gatra.com/penulis/808-Anthony%20Djafar>

02-09-2018 15:18



*Papua, Gatra.com* - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua menemukan
2.003 kasus baru penderita HIV-AIDS pada semua layanan di wilayah itu
selama periode Januari-Juni 2018.



Laporan itu dikemukakn kepala seksi HIV-ADS dan IMS Dinkes Papua, Dr
Rindang Pribadi Marahaba, di Papua, Minggu (2/9)

“Epidemi kasus HIV-AIDS di Papua membutuhkan penanganan bersama lebih
serius dengan melibatkan semua komponen masyarakat,” kata Dr Rindang
sebagaimana dikutip Antara.

Dr Rindang menyebut bahwa dalam penanggulangan HIV-AIDS di Papua, semua
pihak harus dilibatkan. Karena ini bukan hanya tugasnya orang kesehatan
atau Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) serta aktivis peduli HIV-AIDS saja,
tetapi juga semua masyarakat.

“Problem ini sifatnya multi sektor," katanya.

Data yang dilaporkan ke Dinkes Papua, hingga akhir Juni 2018 tercatat sudah
37.991 warga di Papua terinfeksi HIV-AIDS.

Temuan kasus terbanyak berasal di wilayah Nabire dan beberapa kabupaten di
Papua seperti Jayawijaya, Mimika dan Jayapura.

"Nabiire itu positif rate-nya paling tinggi yaitu sekitar 9 persen. Kalau
Wamena hanya 1,8 persen. Mimika cenderung stabil di angka 1 persen. Kalau
dari sisi wilayah adat, yang tertinggi itu wilayah Saireri, angkanya di
atas 9 persen," kata Rindang.

Sejauh ini kata Rindang, kendala yang dihadapi dalam penanganan masalah
HIV-AIDS di Papua yaitu tidak semua Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA ) bisa
mengakses layanan obat Anti Retroviral/ARV yaitu obat untuk menekan
pertumbuhan virus HIV dalam tubuh seseorang.

Dinkes Papua terus mengupayakan agar distribusi obat ARV bisa sampai ke
tingkat Puskesmas agar ODHA lebih mudah mengakses obat tersebut dari tempat
tinggalnya.

“Agar distribusi obat ARV bisa sampai ke tingkat Puskesmas, maka sangat
dibutuhkan komitmen petugas untuk melakukan pencatatan dan pelaporan kasus
secara valid,” katanya.

Di samping itu, dibutuhkan peran petugas Puskesmas dan Kelompok Dukungan
Sebaya/KDS untuk melakukan pendampingan kepada ODHA agar dapat meminum ARV
secara teratur.

"Persoalan yang kami temukan sekarang yakni ada banyak kasus kegagalan
minum obat ARV dari penderita HIV-AIDS karena berbagai sebab seperti
layanan yang jauh dari tempat tinggal mereka, lalu tidak punya uang untuk
bisa mengakses layanan dan lain sebagainya," tandas Rindang.

Selama tiga tahun terakhir sejak 2016, kasus HIV positif yang ditemukan di
Provinsi Papua berkisar pada angka 4.000-an kasus atau positif rate-nya
mencapai 3,9 persen.

Namun, penemuan kasus baru HIV-ADS tersebut tidak tersebar secara merata di
seluruh wilayah Provinsi Papua, mengingat di banyak kabupaten, terutama di
wilayah pedalaman belum tersedia banyak layanan pemeriksaan HIV-AIDS dan
layanan obat ARV.
------------------------------

*Anthony Djafar*

Kirim email ke