https://news.detik.com/kolom/d-4198441/psi-dan-problem-politik-indonesia
Rabu 05 September 2018, 13:10 WIB
Mimbar Mahasiswa
PSI dan Problem Politik Indonesia
Rudi Hartono - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/tonex_mdr>
Rudi Hartono <https://connect.detik.com/dashboard/public/tonex_mdr>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4198441/psi-dan-problem-politik-indonesia#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4198441/psi-dan-problem-politik-indonesia#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4198441/psi-dan-problem-politik-indonesia#>
4 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4198441/psi-dan-problem-politik-indonesia#>
PSI dan Problem Politik Indonesia Partai Solidaritas Indonesia (PSI)
<https://news.detik.com/kolom/d-4198441/psi-dan-problem-politik-indonesia#><https://news.detik.com/kolom/d-4198441/psi-dan-problem-politik-indonesia#><https://news.detik.com/kolom/d-4198441/psi-dan-problem-politik-indonesia#><https://news.detik.com/kolom/d-4198441/psi-dan-problem-politik-indonesia#>
*Jakarta* -
Kehadiran Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di panggung politik
nasional cukup memberikan inspirasi bagi generasi milenial dalam melihat
politik dari segi yang berbeda. Selama ini, para politisi telah mengubah
/mindset/ masyarakat dalam melihat politik. Korupsi yang merajalela
membuat orang melihat politik seakan menjadi sesuatu yang kotor, keji,
dan tidak manusiawi. PSI berangkat dari problem politik semacam itu.
Kehadiran PSI seakan memberi petunjuk bagi masyarakat yang apolitis,
apatis, bahwa politik sejatinya adalah sesuatu yang baik sebab
dibasiskan pada moral. Sehingga, PSI mencoba untuk mendekatkan politik
kepada kebajikan. Melihat pandangan PSI membawa spirit pembaharuan
terhadap politik Indonesia pasca-Reformasi, karena selama in, politik di
Indonesia syarat dengan praktik koruptif, klientelisme, kartelisasi,
serta kuatnya budaya patriarki.
Sampai di sini, saya jadi teringat dengan Soe Hok Gie yang mengatakan
"politik itu kotor". Maka, bagi saya spirit pembaharuan PSI perlu
dilihat dalam kaitannya dengan politik riil pasca-Reformasi.
*Tantangan Politik
*
Terlepas dari pandangan ideasional PSI tentang politik, fakta politik
Indonesia di era demokrasi dan desentralisasi, monopoli kekuasaan yang
ditopang oleh praktik premanisme dan /money politic/ menjadi problem
kunci. Distribusi kekuasaan mengalir berdasarkan jaringan patronase,
baik di tingkat pusat ataupun lokal. Melalui kontrol atas parlemen dan
partai politik, aliansi bisnis terbangun dalam jaringan patronase. Di
sinilah tantangan politik PSI.
Alih-alih ingin menolak kepentingan politik lama, justru dengan masuknya
PSI ke dalam bangun koalisi pendukung Jokowi pada Pemilu 2019
sesungguhnya memperlihatkan pragmatisme dan oportunisme partai.
Tidak hanya itu, PSI juga mempertontonkan praktik komodifikasi terhadap
tubuh perempuan. Bukan berbicara visi dan kebijakan ideologis yang
hendak diperjuangkan, justru yang ada malah PSI mengeksploitasi tubuh
perempuan dalam iklan politik untuk meraup dukungan. Suatu tindakan
pragmatis yang selaras dengan logika kapitalisme mutakhir, di mana
kecantikan menjadi propaganda sedemikian rupa hanya untuk kepentingan
elektabilitas partai.
Dalam masyarakat kapitalis, tindakan PSI mengiklankan kecantikan kader
sangat menguntungkan. Karena cara itu, PSI bisa dikenal oleh masyarakat
luas. Bukan karena gagasan dan perjuangan riil partai, tapi lebih pada
jualan kecantikan kader semata. Alhasil, pandangan ideasional dalam
membawa perubahan politik Indonesia gagal dipraksiskan.
Di situs resmi PSI menyebut "tidak lagi tersandera dengan kepentingan
politik lama". Entah disadari atau tidak, tindakan PSI sejak beberapa
bulan terakhir malah mempraktikkan cara politik lama. Di mana ikut
membentuk kartelisasi partai dan membangun relasi klientelisme.
Meskipun PSI sendiri selalu menyuarakan jargon-jargon politik millenial,
tapi yang jelas esensi politik yang dimainkan tidak mencerminkan
milenial itu sendiri. Dengan mengadopsi cara-cara lama dalam berpolitik,
meskipun memakai sampul milenial, artinya PSI juga memiliki relasi
patronase dengan kelompok oligarki.
*Rudi Hartono */mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam UIN Maliki Malang
/
*(mmu/mmu)
*