Artikel CNBC dibawah dengan tepat menunjukkan kenaikan suku bunga acuan Fed 
Fund Rates sebagai penyebab kenaikan dollar index, kenaikan nilai dolar 
dibanding mata uang yang lain dan tentu juga termasuk rupiah. 
Selain itu yg bersifat umum, ada hal khusus yang berkaitan dengan Indonesia 
(dan India) di-review-nya kembali Generalized System of Preference (GSP) yang 
merevisi bea masuk dari negara2 itu dari (sampai) 0% dijadikan normal (sampai) 
25%. GSP ini sebelumnya menghemat bea masuk barang2 Indonesia sekitar $2 
billion, tanpa GSP artinya ekspor ke US berkurang yang mengakibatkan current 
account deficit yg semakin tinggi. 
Jadi disini, 2 hal ini yang menjadi penyebab utama turunnya nilai rupiah yg 
melebihi mata uang lainnya.
kutipan:Indonesia:  USTR is launching a self-initiated GSP eligibility review 
of Indonesia based on concerns related to its compliance with the GSP market 
access criterion and related to its compliance with the GSP services and 
investment criterion.  Indonesia has implemented a wide array of trade and 
investment barriers that create serious negative effects on U.S. commerce. 
https://ustr.gov/about-us/policy-offices/press-office/press-releases/2018/april/ustr-announces-new-gsp-eligibility
---
Indonesia has been lobbying senior U.S. officials to keep the Southeast Asian 
nation on a list of countries that receive special trade terms under the 
Generalized System of Preferences, a facility that gives reduced tariffs to 
about $2 billion of Indonesian exports.

The U.S. Trade Representative’s Office in April said it was reviewing 
Indonesia’s eligibility for GSP in light of Jakarta’s imposition of a wide 
array of trade and investment barriers that create serious negative effects on 
U.S. commerce.
https://www.reuters.com/article/us-indonesia-usa-wto/u-s-seeks-350-million-annual-sanctions-in-indonesia-trade-dispute-idUSKBN1KS0HQ
  




---In [email protected], <noroyono1963@...> wrote :

Separah Apa Kurs Rupiah Dibandingkan Negara Emerging? MARKET - Alfado Agustio, 
CNBC Indonesia 05 September 2018 15:42  
Foto: Ilustrasi Rupiah (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Jakarta, CNBC 
Indonesia- Pada awal bulan ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika 
Serikat (AS) mengalami tekanan berat. Bagaimana tidak, hanya dalam dua hari 
posisi rupiah menembus level psikologis Rp 14.900/US$. Di tengah minimnya 
sentimen positif dari domestik, situasi ekonomi global ditengarai menjadi 
faktor penyebab terjadinya kondisi tersebut. 

Pada awal tahun, posisi rupiah di awal tahun masih di level Rp 13.565/US$. 
Namun pada saat ini, rupiah telah bertengger di posisi Rp 14.926/US$ atau naik 
hampir Rp 1.300/US$. 
| 

Sumber: Reuters |

 Depresiasi rupiah pun telah menyentuh 10% secara Year-to-Date (Ytd). Lantas 
bagaimana dibandingkan dengan negara-negara berkembang? Rupanya nasib rupiah 
masih lebih baik dibandingkan peso Argentina, lira Turki, real Brazil, rand 
Afrika Selatan dan rupee India.  


|  |


Mata Uang Dunia vs Dolar AS (Reuters)
Meskipun nasib rupiah tidak separah mata-mata uang negara-negara tersebut, 
namun tetap saja pelemahan ini bisa terus berlanjut. Kebijakan moneter Federal 
Reserve/The Fed yang diperkirakan masih agresif di sisa 2018, menjadi ancaman 
utama di depan mata.  Sejak awal tahun, The Fed telah menaikkan suku bunga 
acuan hingga dua kali. Kebijakan tersebut berpotensi berlanjut seiring 
data-data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang bagus.  Terbaru, inflasi inti bulan 
agustus di Negeri Paman Sam telah mencapai target the Fed yaitu 2%.  Belum 
cukup sampai disitu. Pada Jumat (7/8/2018) kantor statistik setempat akan 
melaporkan besaran tingkat penggangguran. Konsensus yang dihimpun Reuters 
memperkirakan, tingkat pengangguran di AS akan turun ke 3,8% atau terendah 
dalam 18 tahun terakhir.  

Data ini akan semakin meyakinkan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga 
acuan, terutama melindungi perekonomian AS dari overheating. Bahkan survei CME 
The Fed Watch meyakini hal tersebut dengan tingkat keyakinan mencapai 99,8%. 
Situasi ini akan mendorong investor ramai-ramai memburu dolar AS. Pergerakan 
dolar index(menggambarkan posisi dolar AS terhadap enam mata uang utama pada 
pukul 15:20 WIB, menguat 0,15%. 

Belum cukup disitu, anjloknya beberapa mata uang seperti di Turki, Argentina, 
Brazil dan sekarang Afrika Selatan menyebabkan kondisi ekonomi global kurang 
kondusif. Investor ramai-ramai menarik dananya dari pasar keuangan termasuk 
Indonesia. Pada pukul 15:24 WIB, aksi jual bersih (net sell) oleh investor 
asing telah mencapai Rp 780,48 miliar.  

Situasi tersebut menyebabkan pelemahan rupiah semakin tidak tertahankan. Pada 
pukul 15:25 WIB, pelemahan rupiah mulai berlanjut ke posisi Rp 14.940/US$. 
Selama belum ada sentimen positif dari domestik, posisi rupiah menembus Rp 
15.000/US$ bisa terjadi dalam waktu dekat.     

TIM RISET CNBC INDONESIA

(alf/dru) 
https://www.cnbcindonesia.com/market/20180905152613-17-31869/separah-apa-kurs-rupiah-dibandingkan-negara-emerging

Kirim email ke