http://mediaindonesia.com/read/detail/182843-bersatu-atasi-depresiasi-rupiah
*Bersatu Atasi Depresiasi Rupiah*
Penulis: *Andhika Prasetyo * Pada: Kamis, 06 Sep 2018, 01:15 WIB Ekonomi
<http://mediaindonesia.com/ekonomi>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/182843-bersatu-atasi-depresiasi-rupiah>
<http://twitter.com/home/?status=Bersatu%20Atasi%20Depresiasi%20Rupiah%20http://mediaindonesia.com/read/detail/182843-bersatu-atasi-depresiasi-rupiah%20via%20@mediaindonesia>
Bersatu Atasi Depresiasi Rupiah
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2018/09/f29bca7d87dfcca828e99efe5732d4e1.jpg>
/ANTARA/PUSPA PERWITASARI/
MASYARAKAT tidak perlu terlalu khawatir dengan nilai tukar rupiah yang
terdepresiasi dolar Amerika Serikat sebab fundamen ekonomi Indonesia
saat ini dinilai cukup stabil.
“Kita bisa lihat negara-negara berkembang lainnya, banyak yang
berantakan juga. Di saat ada tekanan eksternal yang kuat, mereka tidak
bisa menahan. Tetapi kita masih bisa mengendalikan rupiah. Kita harus
perkuat bersama sehingga depresiasi bisa kita tahan,” ujar anggota
Komisi XI DPR Johnny G Plate saat ditemui di kompleks parlemen, Jakarta,
Rabu (5/9).
Ia menilai kebijakan yang dilakukan pemerintah sudah tepat, seperti
pengendalian impor dan menahan beberapa proyek infrastruktur. Ia meminta
pemerintah dan masyarakat tidak saling menyalahkan. Seluruh pihak harus
bersama membangun sisi psikologis pasar yang kuat untuk menahan gempuran
dari sisi eksternal.
“Jangan ada kesan kita lemah, jangan ada kesan kita saling menyalahkan,
jangan juga ada kesan dipolitisasi. Kalau itu terus dilakukan, kita
menyumbang depresiasi rupiah dari sisi psikologis,” tuturnya.
Pendapat senada disampaikan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Oesman Sapta
Odang. Menurutnya, pelemahan rupiah yang terjadi karena siklus ekonomi
dunia, menurutnya, bukan hal yang perlu dikhawatirkan. “Saya ini Ketua
DPD yang mengikuti terus (perkembangan ekonomi) dan saya juga pengusaha.
Saya tahu persis penyebabnya ini adalah krisis dunia,” ujarnya.
Ketua DPP Partai Gerindra A Riza Patria pun meminta masyarakat tenang
dan tidak usah panik menghadapi pe-nguatan dolar AS terhadap rupiah yang
saat ini mendekati 15.000 per dolar AS.
“Masyarakat tetap tenang dan tidak usah panik karena pemerintah akan
berupaya mengatasinya dan membuat terobosan-terobosan mengatasi masalah
ini,” ujarnya seperti dikutip Antara, Rabu (5/9).
*Faktor eksternal*
Presiden ASEAN International Advocacy Shanti Ramchand Shamdasani melihat
kondisi Indonesia saat ini tidaklah terlalu buruk jika dibandingkan
dengan negara-negara berkembang lain. Indonesia masih memiliki fundamen
yang kuat guna menopang perekonomian di dalam negeri sehingga tidak
terperosok terlalu dalam.
Jika ditilik sejak September 2017 hingga September 2018, kata dia,
rupiah hanya terdepresiasi 11% dari 13.345 menjadi 14.815. Bandingkan
dengan masa September 1997 hingga September 2018 ketika rupiah anjlok
hingga 254% dari 3.030 hingga 10.725.
Cadangan devisa Indonesia saat ini juga jauh lebih baik hingga mencapai
US$118,3 miliar. Jauh di atas cadangan devisa pada 1998 yang hanya
US$23,61 miliar. “Tekanan yang terjadi sekarang lebih karena faktor
eksternal yang sulit dikendalikan. Perang dagang memiliki peran yang
sangat kental dalam situasi sekarang,” jelas Shanti.
Peneliti Center of Indonesia Policyn Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman
menilai selama ini pemerintah telah cukup responsif dan cekatan dalam
menahan pelemahan nilai rupiah. Ia mengingatkan, walau rupiah
terdepresiasi sekitar 7%, depresiasi itu masih lebih rendah ketimbang di
negara dengan perekonomian serupa seperti rupee India yang minus 9,7 %.
Dengan demikian, lanjutnya, kondisi rupiah masih cukup kuat sehingga
dalam waktu dekat tidak akan mengalami resesi seperti yang dialami Turki
dan Argentina pada saat ini. (Hym/Pro/E-2)
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/182843-bersatu-atasi-depresiasi-rupiah>
<http://twitter.com/home/?status=Bersatu%20Atasi%20Depresiasi%20Rupiah%20http://mediaindonesia.com/read/detail/182843-bersatu-atasi-depresiasi-rupiah%20via%20@mediaindonesia>