*Apa yang bisa dilakukan masyarakat jika rupiah melemah terhadap dolar USA
ke kisar atau lebih dari Rp 15.000. Panik bukan solusi mengatasi
masalahnya.* https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45424105 Rupiah
melemah ke kisaran 15.000, perlukah masyarakat panik?

   -

   8 jam lalu

Hak atas foto ANTARA/Rivan Awal Lingga Image caption *Pelemahan rupiah
terhadap dolar AS diprediksi belum akan berdampak langsung pada harga
kebutuhan pokok masyarakat. *

Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Masyarakat
diminta tetap tenang, meski kenaikan harga barang konsumsi diprediksi dapat
melonjak.

Menurut catatan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang tertera
pada situs Bank Indonesia, hingga Rabu (05/09), US$1 kini setara Rp14.927.

Sejumlah bank bahkan telah menjual dolar AS seharga Rp15.000. Angka itu
mencerminkan pelemahan rupiah yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir.

Sejauh ini pelemahan rupiah belum mendorong kenaikan harga kebutuhan secara
signifikan, seperti disampaikan Asja, pedagang daging di Pasar Rumput,
Jakarta.

Tapi ia mengkhawatirkan daya beli masyarakat.

"Tidak naik saja sepi, apa lagi harga naik. Dulu sehari saya bisa jual 50
hingga 60 kilogram. Sekarang 20 kilo saja tidak habis," ujar Asja.

Hak atas foto ANTARA/ARI BOW0 SUCIPTO Image caption *Karena bergantung pada
impor kedelai, pengusaha tahu dan tempe diperkirakan akan merasakan dampak
negatif depresiasi rupiah**. *

Akan tetapi, seperti dilaporkan sejumlah media lokal, pedagang tahu dan
tempe di beberapa kota, mulai merasakan dampak pelemahan rupiah.

Di Pasar Ciawi, Bogor, Jawa Barat, sebagaimana dilansir *Tribunnews*,
pasokan tahu-tempe mulai melambat.

Sementara itu, *Republika* melaporkan, pedagang tahu dan tempe di Banyumas,
Jawa Tengah, khawatir merugi karena harga kedelai kerap melonjak jika
rupiah melemah terhadap dolar AS.

Kedelai adalah salah satu bahan pangan yang masif diimpor pengusaha
Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat, pada 2017, setiap bulan impor
kedelai mencapai 242 ton, mayoritas dari AS.

Hak atas foto Getty Images Image caption *Presiden Jokowi menyebut
depresiasi rupiah disebabkan faktor eksternal, bukan kondisi perekonomian
nasional.*

Menurut ekonom dari Universitas Atmajaya Jakarta, Agustinus Prasetyantoko,
harga barang konsumsi yang bergantung pada produk impor seperti tahu-tempe
berpotensi melonjak jika rupiah terus melemah.

Namun, Prasetyantoko memprediksi dampak jangka dekat depresiasi rupiah
hanya akan dirasakan pelaku pasar keuangan dan pengusaha besar, bukan
masyarakat kelas menengah ke bawah.

"Besar penurunan rupiah dari awal tahun 2018 masih di bawah 10%, jadi ini
tidak serta merta membuat barang naik. Kalau pun naik, akan bertahap,"
tuturnya saat dihubungi via telepon.

Bagaimanapun, pemerintah menjamin depresiasi rupiah ini tidak akan berujung
pada krisis ekonomi seperti yang terjadi tahun 1997.

Alasannya, inflasi kini berada di angka 3,2%, sementara tahun 1997 inflasi
mencapai 78,2%.

Selain itu, pemerintah menyebut pertumbuhan ekonomi 2018 berada di angka
5,27%, berbeda dengan tahun 1997 yang justru minus 13,34%.

Presiden Joko Widodo berkata, depresiasi rupiah didorong faktor eksternal,
seperti kenaikan suku bunga AS, perang dagang antara AS-Cina, hingga krisis
ekonomi yang melanda Turki serta Argentina.

"Saya selalu melakukan koordinasi berkaitan sektor moneter, sektor
industri, pelaku usaha. Koordinasi yang kuat ini menjadi kunci," kata
Jokowi soal kiatnya menjaga perekonomian.

Hak atas foto ANTARA/SIGID KURNIAWAN Image caption* Direktur Bank
Indonesia, Perry Warjiyo, menyebut nilai tukar rupiah tidak akan
terperosok. *

Adapun Direktur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyebut lembaganya terus
mengawasi nilai tukar rupiah.

Ia memprediksi, tidak akan terjadi goncangan ekonomi akibat depresiasi
rupiah.

"Kita sudah pernah lewati level Rp9.000, Rp10.000, hingga Rp13.000.
Kalaupun terjadi depresiasi, tidak akan mendadak, tidak melonjak, tapi
gradual sehingga tidak muncul kepanikan masyarakat."

"Upaya yang kami lakukan, hasilnya mungkin memerlukan waktu beberapa bulan,
tapi harus kami lalukan sekarang," ujar Perry di Gedung DPR, Jakarta,
kemarin.

Hak atas foto DETIKCOM/Muhammad Ridho Image caption Masyarakat didorong tak
membeli dolar AS dan mengurangi belanja produk buatan luar negeri agar
nilai tukar rupiah stabil.

Pertanyaannya, apa sumbangsih yang perlu dilakukan masyarakat demi menjaga
nilai tukar rupiah terhadap dolar AS?

Agustinus Prasetyantoko berkata, kondisi psikologis publik perlu dijaga
agar tak khawatir rupiah bakal jatuh.

Caranya, kata dia, publik dapat berinisiatif mengurangi penggunaan produk
luar negeri.

Menurut Prasetyantoko, masyarakat juga perlu menghindari membeli dolar,
meski segala upaya swadaya ini tidak akan langsung memperkuat rupiah.

"Dampaknya tidak akan signifikan. Ini untuk menjaga efek psikologi. Kalau
dilakukan secara konsisten, tentu akan berdampak, terutama jika semakin
banyak orang mengikuti gerakan ini," ujarnya

Kirim email ke