Orang miskin tinggal di Gunung Sugih, akhirnya jadi sugih.......
Koruptor tidak suka miskin, ditaruh di Sukamiskin..........., apa
kalau sudah keluar bakal kapok, tidak korupsi lagi kalau jadi
pejabat ?
On Sat, 15 Sep 2018 at 08:46, ChanCT [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected]
<mailto:[email protected]>> wrote:
Kisah Thohir dari Gunung Sugih
Jumat 04 November 2016 06:00 WIB
Red: Maman Sudiaman
/Nasihin Masha/
/https://republika.co.id/berita/kolom/resonansi/16/11/04/og2ffw319-kisah-thohir-dari-gunung-sugih
/
/Foto: Republika/Daan/
REPUBLIKA.CO.ID <http://REPUBLIKA.CO.ID>, Orang awam lebih
mengenal Erick Thohir daripada Boy Thohir, apalagi dibandingkan
dengan Mochamad Thohir. Boy adalah kakaknya, ia salah satu orang
terkaya di Indonesia dan salah satu pemilik perusahaan batubara
Adaro. Mereka, bersama Rika Thohir, adalah putra-putri Mochamad
Thohir atau yang akrab dipanggil Teddy Thohir.
Namun, Erick jauh lebih dikenal publik. Ini karena Erick terjun di
bidang yang menjadi pusat perhatian media. Ia pemilik Inter Milan,
salah satu klub sepak bola papan atas dunia yang bermarkas di kota
mode, Milan, Italia. Ia juga memiliki klub bola DC United di
Amerika Serikat. Sebelumnya pernah memiliki klub basket di liga
paling top di dunia, NBA, yaitu klub Philadephia 76ers. Saat ini
Erick menjadi ketua Komite Olimpiade Indonesia. Ia pernah menjadi
ketua umum Perbasi dan pemilik klub basket Satria Muda dan salah
satu pemilik Persib. Kini, Erick menjadi pemegang saham terbesar
di Republika.
Namun bukan karena keterkaitan dengan Republika sehingga kisah
tentang Teddy ditulis. Sudah lama saya ingin menulisnya. Selasa
(1/11) dini hari, Pak Teddy wafat dalam usia 81 tahun. Presiden
Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono datang melayat. Ketua MPR
Zulkifli Hasan ikut mengantar di penguburannya. Kisah pria
kelahiran 5 Maret 1935 ini layak menjadi inspirasi bagi seluruh
anak negeri. Ia lahir dan tumbuh di Gunung Sugih, Lampung Tengah.
Ayahnya, Abdul Halik, wafat ketika ia masih kecil. Bersama adik
dan ibunya, Teddy kecil hidup dalam keadaan yang miskin. Tinggal
di rumah bilik dan beralaskan tanah. Namun sejak kecil ia anak
yang teguh hati dengan tekad kuat. Diam-diam, di subuh hari, ia
pergi meninggalkan ibunya dan menemui pamannya yang seorang
pedagang di Metro, Bandar Lampung. Sekecil itu. Ia ingin sekolah.
Di sini ia menempuh pendidikan SMP.
Tak berhenti di situ, dilepas pamannya, usai tamat SMP ia merantau
sendirian ke Jawa. Ia ke Solo dengan naik kereta. Ia menempuh
pendidikan SMEA I di kota ini atas saran gurunya di SMP yang
mempunyai rekan yang menjadi guru di SMEA itu. Teddy lulus SMEA
tahun 1956. Ia bisa berangkat ke Solo berkat bantuan pedagang kaya
di Metro, tempat ia bekerja sambil sekolah. Di Solo ia juga
sekolah sambil bekerja. Simpati orang-orang lahir karena
kecerdasannya dan kegigihannya. Setelah itu ia bekerja di Jakarta.
Hidup sebatang kara dan kemudian jatuh cinta pada gadis Tionghoa,
rekan kerjanya di sebuah rumah sakit di Jakarta. Edna, nama gadis
itu. Ia seorang perawat. Jalinan cinta itu tak direstui kedua
orangtua Edna, yang berasal dari Kadipaten, Majalengka. Teddy pun
pulang kampung untuk menata hati. Diam-diam Edna menyusul dan
mereka menikah secara Islam. Setelah itu mereka kembali ke Jakarta
dan meniti hidup dari bawah, hingga memiliki satu anak, Rika. Saat
itulah kedua orangtua Edna datang. Tentu suasananya haru biru,
tangis yang bahagia.
Teddy memiliki rahang yang menonjol. Suaranya agak berat.
Intonasinya tegas. Ia murah senyum, namun wajahnya yang agak
persegi membuat dirinya memiliki kharisma. Kariernya di perusahaan
asing yang bergerak di bidang industri kimia, Union Carbide,
sangat baik hingga ia menjadi kepala administrasi. Namun jabatan
yang baik itu ia tinggalkan ketika mendapat tantangan yang menarik
saat istri TP Rachmat, yang punya hubungan dekat dengan Edna,
mengajak Teddy bergabung dengan Astra. Orangtua Edna juga akrab
dengan William Soeryadjaya, pemilik Astra. Astra kemudian menjadi
perusahaan raksasa dan dikenal sebagai raksasa otomotif serta
perkebunan. Teddy di Astra sejak perusahaan ini benar-benar mulai
dari awal sekali, hingga Teddy menjadi salah satu direkturnya.
Namanya cukup dikenang. Suharto, kini sudah almarhum dan pernah
bekerja di Astra namun kemudian bergabung dengan Tommy Soeharto
untuk mendirikan perusahaan mobil Timor, bercerita tentang
keluwesan Teddy. “Suatu saat saya diajak beliau ke suatu kampung.
Sesepuh kampung itu mencium tangannya. Eh, ternyata beliau menjadi
khotib di masjid di kampung itu,” katanya. Suharto bercerita bahwa
Teddy sangat persuasif. Saat itu Astra akan membeli lahan di
kampung itu.
Peter Gontha, kini duta besar di Polandia, menyebut Teddy Thohir
dengan singkat. “Luwes dan tidak punya musuh,” katanya. Gontha
mengaku berteman akrab dengan Teddy. Ia dan Teddy beserta sekitar
sembilan orang taipan sering berjalan bersama. Kelenturan, tekad,
keberanian, dan keteguhan membuat Teddy telah berevolusi dari anak
miskin menjadi profesional hingga menjadi seorang pengusaha. Ia
merintis bisnis di bawah naungan TNT. Tak hanya itu, ia juga mampu
mendidik anak-anaknya agar bisa terbang namun tetap berpijak di
bumi. Boy dan Erick disekolahkan di Amerika Serikat. Tentang
anak-anaknya, suatu saat Teddy bercerita bahwa ia sengaja
menyekolahkan anak-anaknya hingga SMA tetap di Indonesia. “Agar
mereka memiliki jaringan yang baik,” katanya. Bahkan sengaja
menyekolahkan di sekolah negeri dengan risiko terkena /bully/.
“Agar mereka bisa/ survive/ dan mampu mengatasi masalah karena
nantinya mereka akan berada di tengah-tengah bangsanya sendiri,”
katanya. Tak hanya itu, ia juga mengajarkan anak-anaknya agar
berpijak pada agama Islam secara baik, bahkan memiliki
prinsip-prinsip keluarga yang harus terpatri dengan kuat.
Teddy adalah fenomena berkah kemerdekaan Indonesia. Robert van
Niel, dalam buku Munculnya Elit Modern Indonesia, menulis bahwa
elite tradisional Indonesia berorientasi kosmologis. Sedangkan
elite modern berorientasi kemakmuran, karena pengaruh pendidikan.
Elite modern pertama lahir berkat politik etis pemerintah kolonial
Belanda. Namun yang bisa sekolah hanya kaum ningrat saja.
Kemerdekaan Indonesia mengubah segalanya. Semua rakyat Indonesia
memiliki kesempatan yang sama untuk bersekolah. Sehingga elite
modern yang muncul setelah kemerdekaan lebih beragam latar
belakangnya. Namun Teddy memang istimewa. Jika umumnya
berorientasi menjadi pegawai negeri, ia justru bekerja di
perusahaan swasta yang belum menjadi pilihan menarik saat itu.
Pilihan itu membawanya menjadi seorang pengusaha dan kini
diteruskan anak-anaknya sehingga mereka menjadi konglomerat
Indonesia. Erick selalu ingat pesan ayahnya: “Jaga nama baik,
karena itu yang utama.”
Kesempatan bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja. Bergiat
dan beranilah menjemput masa depan dengan modal di badan kita
sendiri. Teddy Thohir sudah membuktikannya. Dia dan keturunannya
menjadi gelombang baru anak negeri yang masih harus memperbesar
lapis entrepreneurshipnya, terutama dari generasi Muslim.
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
不含病毒。www.avg.com
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
<#m_-8824212063386786599_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>