Iyaayaa, ... Sugih itu bahasa Jawa yang artinya kaya. Orang miskin yang tinggal di Gunung Sugih bisa saja ada yang muncul jadi KAYA dengan keberhasilannya yg brilian, keuletan, kerajinan dan keteguhan berjuang!

Tapi, ... sampai sekarang belum nampak koruptor kaya-raya yang dijebloskan dalam Sukamiskin jadi MISKIN! Sungguh menyedihkan, ...

Namun jadi teringat, kisah seorang nenek, pengusaha BERHASIL sudah berusia 83 tahun yg luar biasa ditayangan TV! Diawal tahun 80-an berhasil mendorong maju menjalankan usaha dengan kelincahan pergaulan, .... menyuap pejabat-pejabat memperlancar jalannya usaha! Entah sudah berapa kali terbang ke Paris, Italy hanya untuk belanja tas bermerk, parfum dan juga baju-sepatu bermerek. Namun sungguh sial dirinya tertangkap dan dijatuhi hukuman 18 tahun! Menjadi lebih sial, lewat setahun hidup dalam penjara, dicerai suaminya yang dapatkan perempuan lain. Pukulan lebih berat menimpa dirinya, ditahun ke-dua, mengetahui puteri tunggal kesayangannya BUNUH-DIRI! Membuat dia patah semangat untuk hidup didunia ini, ... usaha bunuh diri pun dicoba. TIDAK BERHASIL, tertolong dan dilakukan pekerjaan oleh pendidik penjara. Begitulahn akhirnya dia meneruskan tekad hidup menjadi manusia baik-baik didunia ini.

Selesai menjalani hukuman 18 tahun penjara, ... untuk meneruskan hidupnya didesa, kampung halamannya, pekerjaan pembersih WC dilakukannya sampai lebih 2 tahun. Tahun 2008, ada kebijakan pemerintah memberi kemudahan petani mendapatkan kredit usaha. Kembali pikiran bangkit berusaha ternak ayam dengan kredit 100,000 Yen. Lalu, menarik krabat sekampung gabung dalam koperasi dengan ketambahan kredit pula memperbesar usaha termasuk sayur-sayuran. Nenek yang pandai usaha dan berorganisasi, akhirnya bukan hanya memperkaya diri sendiri, tapi mengangkat kemakmuran seluruh desa! Diusia 83, naik diatas pentas masih berdandan aksi sebagaimana pengusaha menawan pejabat-korup sebelum dia dipenjarakan, tapi sekarang menjadi jutawan didesa kampung halamannya yang disanjung seluruh warga desa, ...! Heiibaat jiwa usaha yang ada pada diri nenek satu ini!



kh djie 於 15/9/2018 14:59 寫道:
Orang miskin tinggal di Gunung Sugih, akhirnya jadi sugih.......
Koruptor tidak suka miskin, ditaruh di Sukamiskin..........., apa
kalau sudah keluar bakal kapok, tidak korupsi lagi kalau jadi
pejabat ?

On Sat, 15 Sep 2018 at 08:46, ChanCT [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]>> wrote:


      Kisah Thohir dari Gunung Sugih

    Jumat 04 November 2016 06:00 WIB

    Red: Maman Sudiaman

    /Nasihin Masha/

    
/https://republika.co.id/berita/kolom/resonansi/16/11/04/og2ffw319-kisah-thohir-dari-gunung-sugih
    /

    /Foto: Republika/Daan/

    REPUBLIKA.CO.ID <http://REPUBLIKA.CO.ID>, Orang awam lebih
    mengenal Erick Thohir daripada Boy Thohir, apalagi dibandingkan
    dengan Mochamad Thohir. Boy adalah kakaknya, ia salah satu orang
    terkaya di Indonesia dan salah satu pemilik perusahaan batubara
    Adaro. Mereka, bersama Rika Thohir, adalah putra-putri Mochamad
    Thohir atau yang akrab dipanggil Teddy Thohir.

    Namun, Erick jauh lebih dikenal publik. Ini karena Erick terjun di
    bidang yang menjadi pusat perhatian media. Ia pemilik Inter Milan,
    salah satu klub sepak bola papan atas dunia yang bermarkas di kota
    mode, Milan, Italia. Ia juga memiliki klub bola DC United di
    Amerika Serikat. Sebelumnya pernah memiliki klub basket di liga
    paling top di dunia, NBA, yaitu klub Philadephia 76ers. Saat ini
    Erick menjadi ketua Komite Olimpiade Indonesia. Ia pernah menjadi
    ketua umum Perbasi dan pemilik klub basket Satria Muda dan salah
    satu pemilik Persib. Kini, Erick menjadi pemegang saham terbesar
    di Republika.

    Namun bukan karena keterkaitan dengan Republika sehingga kisah
    tentang Teddy ditulis. Sudah lama saya ingin menulisnya. Selasa
    (1/11) dini hari, Pak Teddy wafat dalam usia 81 tahun. Presiden
    Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono datang melayat. Ketua MPR
    Zulkifli Hasan ikut mengantar di penguburannya. Kisah pria
    kelahiran 5 Maret 1935 ini layak menjadi inspirasi bagi seluruh
    anak negeri. Ia lahir dan tumbuh di Gunung Sugih, Lampung Tengah.
    Ayahnya, Abdul Halik, wafat ketika ia masih kecil. Bersama adik
    dan ibunya, Teddy kecil hidup dalam keadaan yang miskin. Tinggal
    di rumah bilik dan beralaskan tanah. Namun sejak kecil ia anak
    yang teguh hati dengan tekad kuat. Diam-diam, di subuh hari, ia
    pergi meninggalkan ibunya dan menemui pamannya yang seorang
    pedagang di Metro, Bandar Lampung. Sekecil itu. Ia ingin sekolah.
    Di sini ia menempuh pendidikan SMP.

    Tak berhenti di situ, dilepas pamannya, usai tamat SMP ia merantau
    sendirian ke Jawa. Ia ke Solo dengan naik kereta. Ia menempuh
    pendidikan SMEA I di kota ini atas saran gurunya di SMP yang
    mempunyai rekan yang menjadi guru di SMEA itu. Teddy lulus SMEA
    tahun 1956. Ia bisa berangkat ke Solo berkat bantuan pedagang kaya
    di Metro, tempat ia bekerja sambil sekolah. Di Solo ia juga
    sekolah sambil bekerja. Simpati orang-orang lahir karena
    kecerdasannya dan kegigihannya. Setelah itu ia bekerja di Jakarta.
    Hidup sebatang kara dan kemudian jatuh cinta pada gadis Tionghoa,
    rekan kerjanya di sebuah rumah sakit di Jakarta. Edna, nama gadis
    itu. Ia seorang perawat. Jalinan cinta itu tak direstui kedua
    orangtua Edna, yang berasal dari Kadipaten, Majalengka. Teddy pun
    pulang kampung untuk menata hati. Diam-diam Edna menyusul dan
    mereka menikah secara Islam. Setelah itu mereka kembali ke Jakarta
    dan meniti hidup dari bawah, hingga memiliki satu anak, Rika. Saat
    itulah kedua orangtua Edna datang. Tentu suasananya haru biru,
    tangis yang bahagia.

    Teddy memiliki rahang yang menonjol. Suaranya agak berat.
    Intonasinya tegas. Ia murah senyum, namun wajahnya yang agak
    persegi membuat dirinya memiliki kharisma. Kariernya di perusahaan
    asing yang bergerak di bidang industri kimia, Union Carbide,
    sangat baik hingga ia menjadi kepala administrasi. Namun jabatan
    yang baik itu ia tinggalkan ketika mendapat tantangan yang menarik
    saat istri TP Rachmat, yang punya hubungan dekat dengan Edna,
    mengajak Teddy bergabung dengan Astra. Orangtua Edna juga akrab
    dengan William Soeryadjaya, pemilik Astra. Astra kemudian menjadi
    perusahaan raksasa dan dikenal sebagai raksasa otomotif serta
    perkebunan. Teddy di Astra sejak perusahaan ini benar-benar mulai
    dari awal sekali, hingga Teddy menjadi salah satu direkturnya.
    Namanya cukup dikenang. Suharto, kini sudah almarhum dan pernah
    bekerja di Astra namun kemudian bergabung dengan Tommy Soeharto
    untuk mendirikan perusahaan mobil Timor, bercerita tentang
    keluwesan Teddy. “Suatu saat saya diajak beliau ke suatu kampung.
    Sesepuh kampung itu mencium tangannya. Eh, ternyata beliau menjadi
    khotib di masjid di kampung itu,” katanya. Suharto bercerita bahwa
    Teddy sangat persuasif. Saat itu Astra akan membeli lahan di
    kampung itu.

    Peter Gontha, kini duta besar di Polandia, menyebut Teddy Thohir
    dengan singkat. “Luwes dan tidak punya musuh,” katanya. Gontha
    mengaku berteman akrab dengan Teddy. Ia dan Teddy beserta sekitar
    sembilan orang taipan sering berjalan bersama. Kelenturan, tekad,
    keberanian, dan keteguhan membuat Teddy telah berevolusi dari anak
    miskin menjadi profesional hingga menjadi seorang pengusaha. Ia
    merintis bisnis di bawah naungan TNT. Tak hanya itu, ia juga mampu
    mendidik anak-anaknya agar bisa terbang namun tetap berpijak di
    bumi. Boy dan Erick disekolahkan di Amerika Serikat. Tentang
    anak-anaknya, suatu saat Teddy bercerita bahwa ia sengaja
    menyekolahkan anak-anaknya hingga SMA tetap di Indonesia. “Agar
    mereka memiliki jaringan yang baik,” katanya. Bahkan sengaja
    menyekolahkan di sekolah negeri dengan risiko terkena /bully/.
    “Agar mereka bisa/ survive/ dan mampu mengatasi masalah karena
    nantinya mereka akan berada di tengah-tengah bangsanya sendiri,”
    katanya. Tak hanya itu, ia juga mengajarkan anak-anaknya agar
    berpijak pada agama Islam secara baik, bahkan memiliki
    prinsip-prinsip keluarga yang harus terpatri dengan kuat.

    Teddy adalah fenomena berkah kemerdekaan Indonesia. Robert van
    Niel, dalam buku Munculnya Elit Modern Indonesia, menulis bahwa
    elite tradisional Indonesia berorientasi kosmologis. Sedangkan
    elite modern berorientasi kemakmuran, karena pengaruh pendidikan.
    Elite modern pertama lahir berkat politik etis pemerintah kolonial
    Belanda. Namun yang bisa sekolah hanya kaum ningrat saja.
    Kemerdekaan Indonesia mengubah segalanya. Semua rakyat Indonesia
    memiliki kesempatan yang sama untuk bersekolah. Sehingga elite
    modern yang muncul setelah kemerdekaan lebih beragam latar
    belakangnya. Namun Teddy memang istimewa. Jika umumnya
    berorientasi menjadi pegawai negeri, ia justru bekerja di
    perusahaan swasta yang belum menjadi pilihan menarik saat itu.
    Pilihan itu membawanya menjadi seorang pengusaha dan kini
    diteruskan anak-anaknya sehingga mereka menjadi konglomerat
    Indonesia. Erick selalu ingat pesan ayahnya: “Jaga nama baik,
    karena itu yang utama.”

    Kesempatan bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja. Bergiat
    dan beranilah menjemput masa depan dengan modal di badan kita
    sendiri. Teddy Thohir sudah membuktikannya. Dia dan keturunannya
    menjadi gelombang baru anak negeri yang masih harus memperbesar
    lapis entrepreneurshipnya, terutama dari generasi Muslim.


    
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
        不含病毒。www.avg.com
    
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>


    <#m_-8824212063386786599_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>



---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke