Kepala Staf Kantor Kepresidenan apa tidak tahu justru Ma'ruf Amin-lah yg 
mengatakan agama dan politik tidak bisa dipisahkan, dan justru dijadikan 
cawapres.
 

 Ma'ruf Amien Sebut Agama dan Politik Tak Bisa Dipisahkan 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170330164805-20-203807/maruf-amien-sebut-agama-dan-politik-tak-bisa-dipisahkan

kutipan: Gelaran Ijtima ulama ini sempat disinggung oleh Kepala Kantor Staf 
Kepresidenan Moeldoko. Ia berharap masalah agama tidak dibawa ke dalam urusan 
politik.
 "Bukan enggak ada hubungannya antara agama dan politik. Ada (hubungannya), 
cuma jangan dibawa ke arah politik yang akhirnya masyarakat menjadi bingung," 
kata Moeldoko di area tugu Monumen Nasional, Jakarta, Ahad, 16 September 2018.

---In [email protected], <SADAR@...> wrote :

 Ijtima Ulama 2 dan Kekhawatiran Agama Jadi Komoditas Politik Reporter:  
Tempo.co 
 Editor:  Juli Hantoro 
 Senin, 17 September 2018 08:18 WIB
 Calon Presiden RI Prabowo Subianto (tengah), saat konferensi pers Sidang Pleno 
Ijtima' Ulama dan Tokoh Nasional II di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Minggu, 16 
September 2018. TEMPO/Muhammad Hidayat
 TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah tokoh agama yang tergabung dalam Gerakan Nasional 
Pengawal Fatwa (GNPF) menggelar Ijtima Ulama 2 pada Ahad, 16 September 2018. 
Tokoh dan ulama termasuk Rizieq Shihab yang mengikuti acara itu lewat sambungan 
video konferensi sepakat menyatakan dukungan untuk calon presiden dan wakil 
presiden Prabowo - Sandiaga Uno dalam pemilihan presiden atau Pilpres 2019.
 Baca juga: Ada Penolakan Ijtima Ulama II, Sekjen PAN: Dukungan Ulama Penting
 Keputusan Ijtima Ulama 2 ini berbeda dengan keputusan pada Ijtima Ulama 1 yang 
merekomendasikan nama calon wakil presiden Prabowo adalah Abdul Somad dan Salim 
Segaf Al Jufri. Pada kesempatan Ijtima Ulama 2, Prabowo diminta menjelaskan 
mengapa tak memilih dua nama yang direkomendasikan tersebut.
 Tidak diketahui apa alasan yang diungkapkan Prabowo soal alasan dia memilih 
Sandiaga Uno, bukan dua nama yang direkomendasikan di atas. Namun dalam 
beberapa kesempatan Prabowo mengatakan ia tak ingin memecah belah umat karena 
di kubu Jokowi telah memilih ulama sebagai calon wapres yaitu Ma'ruf Amin.
 Prabowo, usai penandatanganan pakta integritas menyampaikan, terima kasih dan 
terharu atas dukungan yang diberikan oleh ijtima ulama2.
 "Atas nama Prabowo-Sandiaga mengucapkan terima kasih kepada Ijtima Ulama 2 
dari GNPF Ulama atas kepercayaan yang diberikan kepada kami, atas dukungan yang 
begitu ikhlas diberikan, ini sungguh adalah waktu yang mengharukan bagi diri 
saya, dan saya sudah berjanji kepada ijtima akan saya berbuat yang terbaik, 
selruh jiwa dan raga saya persembahkan kepada bangsa dan negara Indonesia," 
kata Prabowo.
 Gelaran Ijtima ulama ini sempat disinggung oleh Kepala Kantor Staf 
Kepresidenan Moeldoko. Ia berharap masalah agama tidak dibawa ke dalam urusan 
politik.
 "Bukan enggak ada hubungannya antara agama dan politik. Ada (hubungannya), 
cuma jangan dibawa ke arah politik yang akhirnya masyarakat menjadi bingung," 
kata Moeldoko di area tugu Monumen Nasional, Jakarta, Ahad, 16 September 2018.
 Mantan panglima TNI ini menyarankan agar para pemuka agama tetap fokus pada 
kegiatannya membimbing umat. Jika terus bermain politik, kata Moeldoko, 
masyarakat yang akan terkena imbasnya. "Kasihan umat. Mau ke mana nanti," 
ucapnya.
 Menurut Moeldoko, sudah banyak publik figur yang tadinya aktif di kegiatan 
agama lalu beralih ke politik malah ditinggal jamaahnya. Ia berharap hal ini 
tidak sampai terjadi kepada para tokoh agama yang menggelar Ijtima Ulama 2 ini.
 Pemimpin Front Pembela Islam atau FPI Rizieq Shihab membantah tengah memainkan 
politik transaksional melalui Ijtima Ulama 2.
 "Para ulama bukan sedang menjalankan politik transaksional. Dukungan kami 
ikhlas untuk Prabowo - Sandiaga," kata Rizieq melalui pesan suaranya kepada 
peserta Ijtima Ulama II pada Ahad, 16 September 2018, di Hotel Grand Cempaka, 
Cempaka Putih, Jakarta.
 Rizieq mengklaim, adanya kesepakatan yang tandatangani dalam Ijtima Ulama 2 
murni dilakukan untuk kebaikan berbangsa dan bernegara. Ia juga mengatakan 
kemenangan yang nanti diperoleh dari pasangan yang diusungnya merupakan 
kemenangan berkah.
 Baca juga: Ijtima Ulama 2, Begini Kata Sandiaga Soal Janji Pulangkan Rizieq
 Kesepakatan untuk mendukung Prabowo-Sandiaga telah ditandatangani para 
petinggi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) dalam Ijtima Ulama II. 
Kesepakatan itu tertuang dalam Surat Keputusan Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional 
II nomor 01/IJTIMA/GNPF-ULAMA/MUHARRAM/1440 H tentang penetapan Presiden dan 
Calon Wakil Presiden.
 Dengan terbitnya pakta integritas itu, Rizieq meminta pengikutnya menggalang 
dukungan untuk calon presiden dan wakil presiden yang diusung.
 Pentolan FPI itu mengatakan dukungan ini dilakukan untuk memperjuangkan 
politik negara yang tunduk akan syariat dan konstitusi. Dia pun emoh bila ada 
pihak menyebut hal ini sebagai transaksi politik.
 Bagi Rizieq, yang dilakukan dalam Ijtima tersebut merupakan politik identitas. 
Politik identitas, kata dia, juga pernah dilakukan para pahlawan untuk melawan 
penjajah. Di antaranya pada masa Teuku Umar, Imam Bonjol, dan Pangeran 
Diponegoro.
 "Politik identitas juga pernah dilakukan Soekarno saat menandatangani piagam 
Jakarta dan Dekrit Presiden 1959," katanya. Rizieq mengklaim, ia dan kelompok 
penggerak 212 juga pernah menggalakkan politik identitas pada Pilkada DKI 2017 
lalu dalam rangka mengusung Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.
 Politik yang dimaksud ini dilakukan untuk menjunjung tinggi ayat suci di atas 
ayat konstitusi. "Agar konstitusi negara dan semua turunan 
perundang-undangannya selalu terjaga dan terkawal," kata dia.
 ADVERTISEMENT
 
 Sebelumnya, Ketua Presidium Aksi Bela Islam, Kapitra Ampera meminta Ijtima 
Ulama 2 dibatalkan jika isi rekomendasinya tidak mengindahkan rekomendasi 
Ijtima Ulama I dan malah bermuatan politik praktis.
 Baca juga:  Prabowo Tandatangani Pakta Integritas Ijtima Ulama II, Ini Isinya
 Dari informasi yang diperoleh Kapitra, Ijtima Ulama 2 akan mendeklarasikan 
dukungan kepada bakal capres-cawapres Prabowo Subianto - Sandiaga Uno dalam 
Pilpres 2019.
 "Saya minta batalkan Ijtima Ulama 2 kalau cuma mau dukung Prabowo-Sandi dengan 
kontrak politik. Antum pasti kecewa," kata Kapitra dalam konferensi pers, di 
Jakarta, Sabtu.
 Menurut dia, jika Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama berkomitmen 
pada isi rekomendasi Ijtima Ulama I, maka seharusnya ulama yang menjadi capres 
atau cawapres, namun yang terjadi, Sandiaga Uno yang dijadikan bakal cawapres 
mendampingi Prabowo padahal Sandi merupakan pengusaha dan politisi.
 Pihaknya pun heran dengan keputusan Ijtima Ulama 2 yang mendukung Prabowo - 
Sandiaga.
 "Ijtima Ulama I merekomendasi cawapresnya Prabowo dari ulama. Tapi ini 
diabaikan, ijtima dikhianati. Nama Sandi tidak masuk dalam rekomendasi itu. 
Kalau Ijtima Ulama 2 cuma bela Prabowo dan Sandi, berarti kita cuma 
terpolarisasi untuk kepentingan politik tertentu. Kembali ke Ijtima Ulama I, 
bahwa ulama harus jadi wapres," kata politisi Partai Demokrasi Indonesia 
Perjuangan (PDI-P) ini.
 AHMAD FAIZ| FRANSISC CHRISTY| ANTARA
 
 
 
http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient
 不含病毒。www.avg.com 
http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient
 #DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2
 

  

Kirim email ke