TNI AU: Diandalkan Sukarno, Dikucilkan Soeharto
Seorang personel TNI AU mengayuh sepeda di dekat sejumlah pesawat jet
tempur yang terparkir di Terminal Selatan seusai terbang mengikuti gladi
bersih Upacara Peringatan ke-71 Hari TNI AU tahun 2017 di Lanud Halim
Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (7/4). ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/kye/17.
<https://tirto.id/tni-au-diandalkan-sukarno-dikucilkan-soeharto-cBa6>
Seorang personel TNI AU mengayuh sepeda di dekat sejumlah
pesawat jet tempur yang terparkir di Terminal Selatan seusai
terbang mengikuti gladi bersih Upacara Peringatan ke-71 Hari
TNI AU tahun 2017 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta,
Jumat (7/4). ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/kye/17.
Oleh: Petrik Matanasi - 6 Desember 2017
https://tirto.id/tni-au-diandalkan-sukarno-dikucilkan-soeharto-cBa6
*/Angkatan Udara sering dianggap anak tiri setelah Sukarno lengser./*
tirto.id <https://tirto.id/>-Di masa Orde Lama,Menteri/Panglima Angkatan
Udara (Menpangau) Marsekal Omar Dani pernah dipercaya menjadi Panglima
Komando Mandala Siaga (Kolaga). Pada masa Demokrasi Terpimpin
(1959-1965), tiap kepala staf angkatan dijadikan panglima angkatan
masing-masing dan diberi jabatan menteri oleh Sukarno.
Sebelum Omar Dani, pejabat sebelumnya adalah Marsekal Soeriadi
Soeriadarma. Dia adalah kepala staf AU yang pertama sekaligus pemimpin
angkatan terlama. Belasan tahun jadi Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU).
Selain itu, Soeriadi juga pernah jadi Ketua Gabungan Kepala Staf di
zaman Sukarno.
*Baca juga:Mengenang Gugurnya Rombongan Adisucipto
<https://tirto.id/mengenang-gugurnya-rombongan-adisucipto-ctCy>*
Di zaman Demokrasi Terpimpin, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI)
didesain menjadi matra yang dapat diandalkan. Sukarno, seperti dicatat
dalam biografi Omar Dani,/Pergunakanlah Hati, Tangan dan Pikiranku:
Pledoi Omar Dani/(2001) yang disusun Benedicta Surodjo dan JMB Soeparno,
menginginkan semua angkatan kuat.
“Kita musti mempunyai angkatan darat yang kuat, angkatan laut yang kuat,
angkatan udara yang kuat. Ketiga-tiganya harus sekuat mungkin […] kita
tidak bisa kuat tanpa Angkatan Udara yang sekuat-kuatnya,” kata Sukarno
seperti dikutip dalam buku tersebut (hlm. 36).
Di masa itu, jelang pembebasan Irian Barat, menurut catatan Tomi Lebang
dalam/Sahabat lama, era baru: 60 tahun pasang surut hubungan
Indonesia-Rusia/(2010), “Angkatan Udara mendapat pesawat-pesawat MIG-21,
Ilyusin-28,TU-16 (Tupolev), dan pesawat angkut Antonov beserta 3 satuan
pertahanan udara lengkap dengan roket dan radarnya […] Bantuan
persenjataan Rusia membuat persenjataan Angkatan Udara meningkat baik
mutu maupun jumlahnya” (hlm. 102-103).
*Baca juga:**Kembali Berdaulat di Angkasa Indonesia*
<https://tirto.id/kembali-berdaulat-di-angkasa-indonesia-Doc>
Menurut M.C. Ricklefs dalam/Sejarah Indonesia Modern 1200-2008/(2008),
Angkatan Udara termasuk angkatan yang setia kepada Presiden Sukarno di
akhir-akhir kekuasaannya (hlm. 609). Sukarno dipandang terlalu jauh
menyeret angkatan-angkatan ke dunia politik. Omar Dani yang "buta"
politik pun dianggap berpolitik.
“Angkatan Udara itu angkatan teknis, berbeda dengan Angkatan Darat,”
kata mantan KSAU keempat (1966-1969) Marsekal Rusmin Nuryadin seperti
dikutip Salim Said dalam/Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno, dan
Soeharto/(2015: 159).
Menurut Salim, secara tidak langsung Rusmin sebenarnya mengkritik Omar
Dani dan para pemimpin Angkatan Udara lainnya yang ikut-ikut bermain
politik. Meski Omar Dani lebih bisa dipandang sebagai loyalis Sukarno
yang hanya ikut apa kata Sang Presiden. Dani kemudian digantikan
Marsekal Sri Mulyono Herlambang.
*Baca juga:Arsip Rahasia AS: Ide Membunuh Marsekal Kesayangan Sukarno
<https://tirto.id/arsip-rahasia-as-ide-membunuh-marsekal-kesayangan-sukarno-cyGU>*
*Tuduhan Keterlibatan dalam G30S*
Nama Omar Dani kerap dikaitkan dengan G30S 1965 karena basis pasukan
penculik para jenderal Angkatan Darat, Lubang Buaya, tak jauh dari
pangkalan udara Halim Perdanakusumah. Hingga Angkatan Udara terkesan
dipersalahkan. Tak heran jika nama baik Omar Dani rusak.
Chappy Hakim, mantan KSAU (2002-2005), dalam bukunya/Awas Ketabrak
Pesawat Terbang!/(2009) bercerita, “Suatu ketika pada masa Orde Baru,
seorang guru sejarah membawa murid-muridnya ke Museum Angkatan Udara di
Yogyakarta. Di situ terpampang foto-foto pimpinan Angkatan Udara dari
dulu hingga sekarang. Ada foto KSAU pertama tetapi langsung kepada KSAU
ketiga, dan seterusnya” (hlm. 183).
Jadi dari Marsekal Soeriadi Soeriadarma langsung ke Sri Mulyono dan Omar
Dani dilewati. Bahkan, fotonya tak ada. “Cara menghitung Orde Baru
memang ajaib: dari satu langsung tiga,” kata Prof. Dr. Ayatrohaedi dalam
sebuah seminar seperti dikutip Chappy.
Omar Dani sendiri, menurut Salim Said dalam/Dari Gestapu ke Reformasi:
Serangkaian Kesaksian/(2013), “mewarisi Angkatan Udara yang sejak awal
tahun lima puluhan memang sudah diposisikan Soeriadarma, sadar atau
tidak sadar, sebagai angkatan yang bersikap antagonis kepada Angkatan
Darat.”
Jika Omar Dani dikaitkan dengan G30S, maka Soeriadi tampaknya
dipersalahkan karena tidak ikut gerilya setelah Agresi Militer Belanda
II. Menurut Mohammad Hatta dalam/Mohammad Hatta: Memoir/(1979), Soeriadi
kala itu akan ditugasi mendampingi Presiden Sukarno ke India dan sedang
tidak menjalankan tugasnya sebagai KSAU ketika Yogyakarta diserang pada
19 Desember 1948 (hlm. 532).
*Baca juga:*
* *Operasi Gagak Menduduki Ibukota Republik*
<https://tirto.id/operasi-gagak-menduduki-ibukota-republik-b9ZD>
* *Mengapa Ibukota Republik Bisa Diduduki dalam Hitungan Jam*
<https://tirto.id/mengapa-ibukota-republik-bisa-diduduki-dalam-hitungan-jam-b9ZE>
Infografik daftar kepala staf angkatan udara
Di masa Orde Baru, perwira berbintang dari Angkatan Udara tak pernah
sekali pun menjabat Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
(ABRI). Juga tak ada marsekal Angkatan Udara yang pernah jadi Panglima
Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Hanya Sudomo,
seorang perwira Angkatan Laut, satu-satunya Pangkopkamtib yang tidak
berasal dari Angkatan Darat.
Setelah Soeharto lengser, dan ABRI ganti nama menjadi Tentara Nasional
Indonesia (TNI), pernah ada Marsekal Djoko Suyanto dalam posisi Panglima
TNI. Walau hanya dari 13 Februari 2006 hingga 28 Desember 2007.
Kira-kira hanya dua tahun kurang sebulan setengah saja. Setelah Djoko
Suyanto, tak ada lagi perwira-perwira dari angkatan yang harusnya
menguasai angkasa Nusantara itu menduduki kursi Panglima TNI.
Djoko Suyanto digantikan Djoko lain dari Angkatan Darat: Djoko Santoso
(2007-2010). Setelah itu, Laksamana Agus Suhartono dari Angkatan Laut
jadi panglima TNI (2010-2013). Lalu disusul Jenderal Moeldoko dari
Angkatan Darat (2013-2015).
Jika mengacu pada urutan tak resmi di atas, jabatan Panglima TNI
seharusnya dipegang AU pada 2015. Tetapi, Presiden Jokowi mengangkat
Jenderal Gatot Nurmantyo dari AD. Gatot masih menjabat hingga sekarang.
Dua hari lalu (4/12/2017),Presiden Jokowi merekomendasikan Marsekal
Madya Hadi Tjahjanto
<https://tirto.id/saat-perwira-angkatan-udara-akhirnya-menjadi-panglima-tni-cA8Q>dari
AU sebagai kandidat Panglima TNI. Nama Hadi diajukan sebagai calon
tunggal kepada DPR. TNI AU tampaknya bisa bernafas lega awal tahun depan.
Baca juga artikel terkaitSEJARAH INDONESIA
<https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>atau
tulisan menarik lainnyaPetrik Matanasi
<https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id -Politik)
Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com