http://mediaindonesia.com/read/detail/186308-survei-lsi-korupsi-dan-intoleransi-penyebab-kemunduran-

demokrasi


 /*Survei LSI: Korupsi dan Intoleransi Penyebab Kemunduran Demokrasi*/

Penulis: *Thomas Harming Suwarta* Pada: Senin, 24 Sep 2018, 19:56 WIB Politik dan Hukum <http://mediaindonesia.com/politik-dan-hukum> <http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/186308-survei-lsi-korupsi-dan-intoleransi-penyebab-kemunduran-demokrasi> <http://twitter.com/home/?status=Survei%20LSI:%20Korupsi%20dan%20Intoleransi%20Penyebab%20Kemunduran%20Demokrasi%20http://mediaindonesia.com/read/detail/186308-survei-lsi-korupsi-dan-intoleransi-penyebab-kemunduran-demokrasi%20via%20@mediaindonesia>

Survei LSI: Korupsi dan Intoleransi Penyebab Kemunduran Demokrasi <http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2018/09/26cb1235eaad597eb4bd0c70f032fb0a.jpg>

/MI/SUSANTO /

SETELAH 20 tahun reformasi, demokrasi di Indonesia mengalami kemunduran. Ada dua persoalan besar yang ikut memengaruhi kemunduran demokrasi tersebut yaitu korupsi dan intoleransi.

Demikian temuan survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) tentang Persepsi Publik tentang Demokrasi, Korupsi dan Intoleransi saat dirilis di Jakarta, Senin (24/9).

“Temuan survei ini memberikan setidaknya gambaran bagaimana kita mengevaluasi demokrasi yang sudah berjalan selama 20 tahun setelah reformasi. Yang kita harapkan demokrasi kita makin maju ternyata justru mengalami kemunduran karena korupsi dan persoalan intoleransi,” kata Direktur LSI Burhanudin Muhtadi saat memaparkan hasil survei.

Ia menjelaskan, dari survey ini didapat fakta bahwa sebagai system pemerintahan dan nilai yang menjunjung tinggi kebebasan menjalankan agama, demokrasi didukung oleh mayoritas warga dengan tingkat kepuasan terhadap demokrasi yang cenderung meningkat.

“Mayoritas 83% setuju bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang terbaik dan 90% setuju tentang prinsip bebas memeluk agama dengan tingkat kepuasan akan jalannya demokrasi sekitar 68%. Hanya saja ini tidak sejalan dengan korupsi yang makin meningkat dan intoleransi yang cenderung tinggi terutama dalam politik,” jelas Burhanudin Muhtadi.

Dalam hal korupsi kata dia, mayoritas warga menilai bahwa korupsi dalam dua tahun terakhir meningkat meskipun di sisi lain warga juga menilai pemerintah serius melawan korupsi.

“Namun temuannya yang patut menjadi catatan adalah bahwa semakin sering terjadi korupsi masyarakat justru makin menerima korupsi sebagai sesuatu yang wajar, maka penting ke depan kita mengembangkan sikap anti korupsi warga,” sambungnya.

Dalam hal intoleransi temuan LSI menyebutkan bahwa warga muslim cenderung intoleran kepada non muslim terutama dalam hal politik, misalnya warga muslim keberatan jika non muslim menjadi pemimpin pemerintahan pada berbagai tingkatan.

“Dan hal ini juga terkonfirmasi pada aspek sosial kultural di mana sekitar separuh warga muslim saat ini merasa keberatan jika non muslim membangun tempat ibadah di dekat mereka,” kata Muhtadi.

Trekait temuan survei ini kata dia untuk mempromosikan demokrasi, maka pendidikanmasih menjagi kunci dengan asumsi bahwa warga yang lebiih terdidik cenderung lebih tolern dan bersikap anti korupsi dibandingkan warga yang kurang terdidik.

Pada kesempatan ysng sama Direktur Wahid Institute Yenni Wahid memberi apresiasi atas temuan survei yang dilakukan LSI kali ini yang mencoba mengikur perilaku warga Indonesia dalam soal demokrasi, korupsi dan intoleransi.

“Artinya hasil ini mencerminkan sikap warga kita yang harus kita respon dnegan berbagai langkah perbaikan agar kualitas dmokrasi kita makin baik dan pada saat yang sama sikap anti korupsi kita terus perangi samahalnya sikapp intoleransi terus kita perangi dengan pendidikan yang makin intensif,” jelas Yenni.

Survei ini dilakukan pada 1-7 Agustus 2018 dengan populasi survey seluruh warga Negara Indonesia yang punya hak pilih dengan jumlah responden sebanyak 1520. Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh pewawanara yang terlatih. (OL-4)







Kirim email ke