https://news.detik.com/kolom/d-4228527/mereka-membunuh-sambil-bernyanyi
Seasa 25 September 2018, 16:34 WIB
Sentilan Iqbal Aji Daryono
Mereka Membunuh Sambil Bernyanyi
Iqbal Aji Daryono - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4228527/mereka-membunuh-sambil-bernyanyi#>
Iqbal Aji Daryono
<https://news.detik.com/kolom/d-4228527/mereka-membunuh-sambil-bernyanyi#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4228527/mereka-membunuh-sambil-bernyanyi#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4228527/mereka-membunuh-sambil-bernyanyi#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4228527/mereka-membunuh-sambil-bernyanyi#>
23 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4228527/mereka-membunuh-sambil-bernyanyi#>
Mereka Membunuh Sambil Bernyanyi Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi
Wahyono/detikcom)
<https://news.detik.com/kolom/d-4228527/mereka-membunuh-sambil-bernyanyi#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4228527/mereka-membunuh-sambil-bernyanyi#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4228527/mereka-membunuh-sambil-bernyanyi#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4228527/mereka-membunuh-sambil-bernyanyi#>
*Jakarta* - Adegan itu benar-benar di luar batas nalar. Ratusan orang
bersorak-sorai bersama-sama dalam sebuah gerakan ritmis. Dan, persis
dikelilingi oleh segenap peneriak yel-yel gembira itu, sesosok tubuh
ambruk tak berdaya. Ia berkubang dalam genangan darahnya, menggeliat
berusaha mempertahankan sisa-sisa napas terakhirnya.
Diselingi tangan-tangan yang teracung merekam dengan kamera telepon
genggam, beberapa orang dari barisan gembira itu terus menghunjamkan
pukulan dan tendangan. Dan, oh tidak. Dua anak kecil turut serta,
menginjak-injak tubuh itu, lalu mengayunkan balok kayu sekuat tenaga.
Allah, Allah, ampuni kami ya Allah....
Mohon dimaafkan gambaran sangat vulgar yang saya tuliskan, wahai pembaca
yang budiman. Mohon dimaafkan, benar-benar saya memohon untuk dimaafkan.
Tapi, tanpa gambaran tertulis ini, siapa pun Anda yang tidak kuat
menonton video itu tidak akan pernah tahu, bahwa ada di antara kita yang
mampu melakukan pesta pora sekeji itu.
Pada detik-detik awal saya menontonnya, langsung terlintas di kepala
saya video serupa dari kisah kelabu pembantaian di Cikeusik yang menimpa
warga Ahmadiyah, tujuh tahun silam. Adegan visualnya mirip, mirip
sekali, Saudara. Bagaimana tubuh-tubuh tanpa daya yang tengkurap itu
terus dirajang beramai-ramai tanpa iba sedikit jua. Orang-orang kalap
itu agaknya sedikit pun tak punya tujuan lain selain melenyapkan nyawa.
Namun, sebarbar apa pun para jagal di Ciekusik itu, saya masih menemukan
secuil penjelasannya. Mereka orang-orang yang ingin hidup sendirian di
muka bumi, tanpa kerelaan untuk berbagi. Mereka orang-orang yang gelap
mata dalam memperjuangkan sesuatu yang mereka yakini, tak sudi ada orang
lain yang memiliki keyakinan yang menabrak keyakinan mereka. Dan, karena
tabrakan iman itu terus terjadi, mereka pun mengeluarkan satu-satunya
hal yang mereka miliki: amarah.
Di Cikeusik, api amarah itu memang ada. Amarah itu berkobar dari
manusia-manusia yang enggan hidup bersama, dalam sebuah rumah besar
bernama Indonesia. Mereka ingin mendefinisikan /liyan/ sesuai standar
dan selera subjektif mereka, lalu berharap negara berpihak kepada
mereka. Sayangnya, tak mungkin negara menuruti salah satu golongan saja,
tak mungkin menuruti kemauan sepihak mereka saja. Sementara itu, kata
'kompromi' pun tak ada dalam kamus mereka. Maka, frustrasi komunal pun
tercipta. Mereka mengamuk.
Tapi, apa yang terjadi di Gelora Bandung Lautan Api hari Minggu lalu,
Saudara? Amarah jugakah? Mengamuk karena ledakan amarah yang tak terbendung?
"Iya, itu /amok/, Mas. /Amok/, komoditas ekspor kita yang mewarnai
khazanah linguistik Barat, tapi tidak menghasilkan devisa apa pun yang
memperkuat nilai rupiah dan menggembungkan kas negara. Sejenis perilaku
yang tak dikenal di Barat, tak bisa dicari padanan kata maupun padanan
fenomenanya di dunia Barat. Makanya, kata itu diambil begitu saja ke
kamus mereka. /Amok/, /running amok/. /Behave uncontrollably and
disruptively/, kata kamus mereka. /Amok/, mengamuk macam orang
kesurupan. Nah, kata dan kelakuan itu diambil dari kita! Dari kebudayaan
kita! Kita ini memang pelaku /amok/, Mas. Jadi ya jangan heran-heran amat."
/Amok/? Betulkah? Tidak, Saudara. Tidak. Saya tidak melihat amarah pada
wajah-wajah di parkiran Gelora Bandung Lautan Api itu. Tak ada nyala api
murka di wajah mereka. Tak ada ledakan akibat sejenis frustrasi dan
histeria massal yang muncul dari tatapan mata mereka. Tak ada yang
seperti itu, Saudara.
Lihat, lihatlah. Mereka meneriakkan yel-yel bersama-sama. Mereka
bernyanyi! Mereka bergembira! Mereka berpesta, wahai Saudara!
Tolong, tolong jelaskan, apa yang sesungguhnya sedang digelar telanjang
di hadapan kita?
Tolong juga jelaskan, dari mana cerita-cerita yang selama ini menancap
erat di benak kita, bahwa kita adalah bangsa beradab, adiluhung,
berbudaya, yang menjunjung tinggi tata krama, yang ramah tamah dan
membuat terkesan siapa pun tamu-tamu kita dari segenap sudut dunia?
Dari mana cerita-cerita itu, Saudara? Betulkah cerita-cerita itu nyata?
Atau, jangan-jangan, ah, ia cuma dongeng belaka, rangkaian legenda yang
sengaja dibikin untuk meninabobokkan kita, membuat kita merasa baik-baik
saja, padahal sejatinya kita adalah kumpulan manusia setengah hewan yang
bisa memangsa sesama sambil bernyanyi dan tertawa?
Tunggu, tunggu. Membunuh sambil bernyanyi dan tertawa. Sepertinya saya
pernah mendengarnya.
Ah, ya, itu muncul dalam/The Act of Killing/, film dokumenternya Joshua
Oppenheimer itu. Di situ muncul pengakuan tokoh-tokoh pembantai
orang-orang komunis dan para tertuduh komunis pada masanya. Dengan
bangga, sang tokoh menceritakan bagaimana ia mencekik korban-korbannya
sambil bernyanyi dan berdansa cha-cha-cha. Oh....
Jangan keliru, saya bukan pengagum filmnya Joshua itu, Saudara. Si Josh
alpa menggambarkan peta global pada sekitar kejadian-kejadian itu, dan
di mana posisi kita yang dipermain-mainkan di tengah pertarungan
kekuatan-kekuatan raksasa dunia. Josh hanya menggambarkan betapa
buruknya kita sebagai manusia. Tapi, setidaknya dari satu-dua fragmen di
filmnya kita jadi tahu, dalam segenap keterkejutan kita, bahwa memang
negeri ini ditinggali oleh manusia-manusia yang bisa membantai sambil
berdansa.
Itukah diri kita yang sesungguhnya?
Belum, saya belum akan menyerah di hadapan filmnya Joshua. Tanpa sedikit
pun membenarkan tindakan mereka, kita harus ingat situasi psikologis
pada 1965. Para algojo itu masuk pusaran narasi besar demonisasi,
peng-iblis-an atas /liyan/. Bagi jagal-jagal yang larut dalam
dongeng-dongeng bikinan Jakarta, sosok-sosok yang mereka bantai itu
adalah iblis belaka. Bagi mereka, darah-darah yang mereka tumpahkan itu
bukan darah manusia. Maka, mereka akan mengatakan bahwa mereka membasmi
PKI, membunuh PKI. Bukan membunuh "orang PKI", bukan membunuh "anggota
PKI". Anda tahu bedanya?
Nah, adakah demonisasi itu Bandung, hari Minggu lalu? Seberapakah
permainan bola dan kumpulan pendukung tim bola membentuk imajinasi kita
atas /liyan/, atas lawan, atas siapa pun yang berdiri berseberangan
dengan klub pujaan?
Kita tahu, memang pernah terjadi perang dalam arti sesungguhnya, karena
bola. Itulah La Guerra del Futbol, Perang Sepak Bola, antara Honduras
dan El Salvador. Baku tembak dan baku bom antara dua negara di Amerika
Tengah itu diletupkan oleh pertandingan sepak bola pada babak
kualifikasi pra-Piala Dunia 1970. Lebih dari 3000 nyawa manusia tumpas
karenanya.
Namun, jangan lupa. Sepak bola di situ hanyalah titik momentum letupan.
Sebelumnya, sudah cukup panjang latar konflik sosial yang terjadi antara
penduduk kedua negara. Bahwa Honduras menuding para pendatang El
Salvador melakukan pendudukan paksa di tanah-tanah milik warga Honduras,
bahwa sumber-sumber penghidupan mereka direbut, dan entah apa lagi. Dari
situ, krisis ekonomi tercipta, frustrasi massal menggumpal, dan ajang
sepak bola menjadi perayaan kemarahannya.
Tapi, di Bandung hari Minggu lalu, apakah juga sepanjang Honduras-El
Salvador latar konflik sosial yang mampu menciptakan pembenaran atas
tindakan-tindakan yang jauh melampaui batas-batas nalar dan batas-batas
kemanusiaan? Saya tidak percaya.
Yang pasti, tidak tampak ledakan amarah yang berkobar-kobar tak
terbendung di wajah mereka. Mereka menyiksa, membunuh, sambil
meneriakkan yel-yel dan bersorak sorai bersama-sama.
Dan, ah, sesungguhnya mereka bukan "mereka", Saudara. Mereka adalah
kita. Mereka lahir dari rahim kehidupan kita, bagian tak tersangkal dari
diri kita yang nyata.
Pada titik ini, saya mulai percaya: cerita-cerita indah masa lalu,
tentang betapa agungnya budi pekerti bangsa kita, memang cuma antologi
mitos belaka.
*Iqbal Aji Daryono* /esais/
*Simak Juga '#RIPHaringga, Ucapan Duka Cita Netizen untuk Haringga':*
*(mmu/mmu)
*