Jadi utopi kan karena dunia terus dibiasakan secara paksa (halus maupun kasar) untuk memandang hidup dengan kacamata neolib. Untuk menghirup udara dengan nafas kapitalisme. Dan, selanjutnya menjalani hidup sampai mati dalam lakon kelas buruh-majikan, proletar-borju.
Jujur saja, itulah sebenarnya kelas sosial yang asli jadul, karena buah zakar kapitalisme ada di era feodal. Beranak-pinak menjadi kolonialisme, oligarki, Thatchernomics, Reaganomics, neoliberal dll. dst. Sedangkan kelas sosial Marhaen adalah media tumbuhnya adil-makmur. Buah peradaban budaya maju yang harus dibasmi karena menjadi ancaman besar bagi kelangsungan modernisasi feodalisme. --- roeslan12@... wrote: Apakah Adil Dan Makmur yang oleh Bung Karno disebut masyarakat Sosialis Indonesia itu UTOPI, dan ketinggalan Zaman (jadul)? Pada akhir Pidato Presiden Soekarno dalam sidang Istimewa Depernas pada tanggal 9 Januari 1960, beliau mengatakan: “Saya mengharap daripada Saudara-saudara sekalian untuk benar-benar memberi sumbangan kepada pembangunan semesta dalam arti menyelesaikan kita punya revolusi nasional, dalam arti menyusun satu masyarakat Indonesia sosialis, dalam arti masyarakt adil dan makmur“.(TUBAPI halaman ;:579) Selain itu pernyataan masyarakat adil dan makmur juga tercermin dalam Pembukaan (Preambule) UUD 45 yang mengatakan : Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang negara Indonesia yang merdeka, bersatu berdauilat, adil dan makmur. Dibawah ini adalah tanggapan saya terhadap Pesan Bung Karno, dan preambule UUD 45 : Prokalmsi Kemerdekan Indonesia itu adalah menuju pada terbentuknya suatu masyarakat yang adil dan makmur, yang oleh Bung Karno disebut sebagai masyarakat Sosialis Indonesia. Tapi anehnya di era ``reformasi`` yang sudah berjalan selama 20 Tahun berlalu ini, ada elemen-eleman dalam masyarakat Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai generasi millennial, menolak keras runusan Indonesia Adil dan Makmur, Ucapan tersebut tercermin dalam siaran You tube Timses Jokowi Ledek Nama Koalisi Prabowo: Nama Koalisi Prabowo Sangat Jadul .Jadul adalah kependekan dari perkataan jaman dulu. Memang benar perkataan Indonesia adil dan makmur itu adalah ucapan Bung Karno (9. Januari. 1960), yang tertuang dalam Preambule UUD 45,seperti yang saya kutip diatas. Untuk mecapai masyarakat Indonesia yang adil dan makmur itu kita bangsa Indonesia harus menempuh jakan demokrasi Ekonomi, yaitu ekonomi Pancasila dan Pasal 33 UUD 45. Jadi ucapan Bung Karno dan juga Preambul UUD 45, tentang Indonesia yang adil dan makmur itu ada hubungannya yang sangat erat dengan demokrasi ekonomi yang berdasarkan Pancasila dan Pasal 33 UUD 45. Maka sungguh relevan jika kita katakan bahwa penolakan istilah adil dan makmur dalam konteks ini langsung atau tidak langsung, secara terselubung menolak ideologi Pancasila, dengan alasan Jadul. Menurut pengamatan saya, jika ada generasi millennial yang menolak istilah Indonesia adil dan makmur, itu disebabkan oleh karena adanya kecenderungan latah dalam mengagumi globalisasi pasar bebas yang tertuang dalam ideologi Neoliberalisme, yang saat ini dilaksanakan oleh rezim Jokowi-Jk. Memang Demokrasi di Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila 1 Juni 1945, dan UUD 45 itu adalah Jalan dulu (jadul). Nampaknya jalan baru yang di nilai sebagai jalan ``modern`` oleh sekelompok elemen masyarakat yang mengklaim dirinya sebagai kelompok mellinnial abad 21; nampaknya mereka cenderung menggunakan ``meme`` baru, yang dewasa ini telah mendominasai kekuasaan di NKRI, yang mucul dalam bentuk : Demokrasi-liberal/neoliberal, yang mengikuti jejaknya sistem demokrasi dan ekonomi- menurut sistem neoliberalisme. Sistem neoliberal yang mendambakan globlisasi pasar bebas secara menyeluruh telah di ikuti oleh pemerintah NKRI yang dipilih secara langsung. Ini tercermin dalam kebijakkan-kebijakan yang meliputi disegala bidang perekonoimian; masalah yang menonjol misalnya masalah import beras yang menyengsarakan kaum tani, dibidang sumber daya alam , misalnya emas, perak ,tembaga, uran sampai pada minyak bumi telah dijual atau digadaikan pada pihak asing demi keuntungannya para pemodal asing yaitu negara-negara kapitalis neoliberalisme. Boleh dikata bahwa hampir semua aset-aset negara (BUMN) telah dijual habis. Sehingga kehidupan negara tergantung pada utang luarnegeri dan modal asing. Inilah dampak sistemik dari amademen UUD 45, yang saat ini terus dijalankan oleh elompok Oligarki Ekonomi, yang berhaluan ekonomi-politik neoliberal, yang pro-imperialisme AS. Inilah yang sekarang ini dipandang sebagai ``meme`` baru yang di nilai ``modern`` diabad ke 21. Kecenderungan yang latah, yang mengagumi ekonomi neoliberal dengan pasar bebasnya tidak boleh berlangsung terus, oleh karena itu kita harus kembali, back to the basics, mengutamakan kedaulatan rakyat daripada kedaulatan pasar.!!! Demi terlaksanakannya suatu masyarakat yang adil dan makmur!!! Inilah sebenarnya yang ditentang oleh mereka yang mengklaim dirinya sebagai kaum melinnial abad 21, yang menempuh jalan ``modern``, karena back to the basics adalah jadul menurut mereka. Apakah seruan Bung Karno tentang Masyarakat adil dan makmur atau masyarakat Sosialisme Indonesia itu adalah Utopi, dan sudah usang (jadul)? Dan haus ditinggalkan? Sosialisme Utopi itu terjadi dikarenakan oleh adanya pengkhianatan dari kalangan Elite Politik yang hidup di negara-negaea Sosialis Eropa timur,yang menampakkan dirinya seperti sekte millenarian sekitar tahun 1980-2000 atau sekitar abad ke-20-han dalam dunia yang terpisah; Dengan mempraktekkan sistem Demokrasi polisi khusus (polisi Rahasia), budaya Politisi korup, karena mengindap virus penyakait Konsum Syndrome, budaya Surat kabar yang dikendalikan oleh penguasa, budaya elite politik yang egosentris dan revisionis, dan budaya pengawasan negara yang bertindak tidak nyata dan rapuh dinegeri-negeri sosialis eropa timur di abad 20-han, yang sampai hari ini masih terus berlanjut. Dampaknya adalah kegagalan sistem sosialis di negara-negara eropa timur pada saat itu. Yang lebih jelas lagi adalah: Hancurnya Sosialismre di USSR, yang diprakarsai oleh penghianatan pemimpin-pemimpin PKUS dengan teorinya yang terkenal yaitu PERESTROIKA DAN GLASNOS sebagai ``meme`` baru yang berhasil mengantikan ``meme`` lama yaitu budaya sosialisme dimana klas buruh sebagai mayoritas seharusnya ditempatkan sebagai kekuatan substansinya dalam Demokrasi rakyat di USSR saat itu. Tetapi tidak dijalankan, dampaknya adalah sosialisme gagal total. Rupanya teorinya Korbacov tentang Perestroika dan Glasnos itu telah memberikan ilham kepada pemegang kapital dinegeri-negeri yang melakukan system kapitalisme. Banyak orang-orang „terpelajar“ yang keblinger tidak tahu, karena mereka melihat gejala hanya dari satu segi saja. Saat-saat sejak Kruscov, Bresjnev berkuasa sudah ada trend dampak ekses-ekses Kapitalisme itu; yaitu adanya korupsi dan hilangnya “nilai” menolong orang yang membutuhkan pertolongan, lambat laun menghilang karena dijejel konsum oleh negara-negara kapitalis monopol barat yang “serba ada“ khususnya imperialisme AS. Mengejar keuntungan-sebanyak-mugkin juga merupakan trend abad ke 21 ini. Aktivitas ini dilakukan bukan karena kekurangan uang, melainkan sudah terbiasa atau sudah kecanduan oleh impian betapa enaknya memiliki „segudang-uang“. Trend ini bukan hanya aktivitas para pedagang, melainkan juga dilakukan oleh para pegawai negeri maupun swasta misalnya dalam bentuk kerja-lembur sebanyak mungkin. Para birokrat yang berkesempatan mengambil uang negara, maka mereka tak tanggung-tanggung manyalah gunakan uang arakyat alias korup, demi untuk mengejar konsum yang melimpah. Sudah pasti hal ini tidak berlaku bagi orang yang bekerja-sambilan yang wajar. karena memang sangat membutuhkan uang buat menutup kebutuhannya yang mutlak diperlukannya atau pensiun yang “nyrempet-nyrempet bahaya” !. Dikalangan manipulator aktivitas ini makin menjadi-jadi yang dapat kita lihat pada phenomena bermacam-macam kejahatan yang merembes meliputi seluruh jagad, yang dapat kita nyatakan sebagai globalisasi-kejahatan. Jadi apa yang disebut konsum dalam tulisan ini bukan hanya berupa materi atau non-materi melainkan juga termasuk alat-pembayarbarang atau jasa . Konsum yang tadinya hanya berfungsi untuk menutupi keperluan hidup, kini sudah berubah fungsinya sebagai „penyakit“. Demikianlah antara lain interprestasi sejarah yang ujung-ujungnya mengatakan bahwa Indonesia adil makmur atau sosialisme Indonesia adalah ketinggalan zaman dan utopia, yang dinyatakan dalam perumusan JADUL oleh elemen-elemen anti Pancasila dan UUD 45 secara terselubung dalam masyarakat kita dewasa ini. Ternyata di dunia ini selalu ada ruang yang memicu kemungkinan runtuhnya setiap interpretasi sejarah umat manusia, seperti yang terjadi di USSR tersebut diatas, yang mengeluarkan gagasan trobosan : gagasan yang memicu Keruntuhan rezim-rezin Sosialis abad 20 di eropa timur eperti USSR (Rusia) dll, dan keruntuhan rezim Orde Baru pasca politik kediktatoran dan pembantaian massal 1965-1966. Tetapi mengapa kita tidak memiliki Fiksi yang yang bagus, yang dapat menggerakkan emajinasi pikiran kita untuk menggunakan akal sehat dan menggunakan kesempatan yang membayangkan kehidupan yang ideal dan masyarakat yang sempurna adil dan makmur (sosialis Indonesia) sebagai makhluk yang bebas dan berdaulat? Padahal ada budaya yang populer, yang telah melakukan trobosan ini; dalam bentuk melawan bencana pasca penjahahan kolonialisme Belanda, dalam bentuk perang kemerdekaan 1945-1949, dan bencana pembantaian massal kekuasaan rezim Orde baru dalam gerakkan reformasi 1998. Budaya pop terobosan dengan ide ini telah menhasilkan Keruntuhan dipihak penjajah kolonialisme Belanda, dan penguasa kediktatoran militer fasir Orde baru selama 32 tahun lamanya. Tetapi kita sebagai makhluk hidup yang rasional,mengapa tidak boleh memiliki kemampuan untuk memberikan kehidupan yang ideal dan masyarakat yang sempurna, yaitu masyarakat Indonesia yang adil dan makmur atau sosialime Indonesia, yang diharpkan oleh Proklamasi kemerdekaan Indonesi 17 Agustus 1945 ? Yang saratnya adalah back to the basics . Tapi sayangnya ada orang–orang yang usil yang mengatakan bahwa back to the basics adalah jadul yang harus ditinggalkan !!!. Sungguh disayangkan kondesi seperti itu !!! Jutaan orang mulai menyadari bahwa mereka telah digiring ke mimpi palsu yang menyodorkan janji-janji kosong, yang diringi dengan sesuatu yang baik-baiak.Kita harus mengatasi mimpi palsu ini dengan lebih dari sekumpulan mimpi lain, yang akan menghancurkan ekonomi neoliberal, yang memungkinkan pelaksanaan demokrasi ekonomi yang berdasarlkan teori analisis, yaitu demokrasi ekonomi , ekonomi Pancasila yang bedasarkan pada Pasal 33 UUD 45, dengnan desain (rancangan) yang dapat diverifikasi, kehidupan yang panjang Bumi NKRI . Mari kita bergegas untuk menjalankan gagasan mimpi baru yang di amanatkan oleh para pendahulu pendiri NKRI, seperti kutipan diatas. Roeslan
