https://news.detik.com/kolom/d-4228271/jokowi-ke-kanan-prabowo-ke-tengah-kita-ke-mana
Selasa 25 September 2018, 14:30 WIB
Kolom
Jokowi ke Kanan, Prabowo ke Tengah, Kita
ke Mana?
Fitraya Ramadhanny - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4228271/jokowi-ke-kanan-prabowo-ke-tengah-kita-ke-mana#>
Fitraya Ramadhanny
<https://news.detik.com/kolom/d-4228271/jokowi-ke-kanan-prabowo-ke-tengah-kita-ke-mana#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4228271/jokowi-ke-kanan-prabowo-ke-tengah-kita-ke-mana#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4228271/jokowi-ke-kanan-prabowo-ke-tengah-kita-ke-mana#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4228271/jokowi-ke-kanan-prabowo-ke-tengah-kita-ke-mana#>
4 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4228271/jokowi-ke-kanan-prabowo-ke-tengah-kita-ke-mana#>
Jokowi ke Kanan, Prabowo ke Tengah, Kita ke Mana? Fitraya Ramadhanny
<https://news.detik.com/kolom/d-4228271/jokowi-ke-kanan-prabowo-ke-tengah-kita-ke-mana#><https://news.detik.com/kolom/d-4228271/jokowi-ke-kanan-prabowo-ke-tengah-kita-ke-mana#><https://news.detik.com/kolom/d-4228271/jokowi-ke-kanan-prabowo-ke-tengah-kita-ke-mana#><https://news.detik.com/kolom/d-4228271/jokowi-ke-kanan-prabowo-ke-tengah-kita-ke-mana#>
*Jakarta* - Jokowi membidik pemilih religius, Prabowo membidik pemilh
nasionalis. Keduanya banyak bertukar taktik. Saatnya rakyat menjadi
pemilih cerdas.
Lewat serangkaian acara dari penetapan pasangan capres, pengambilan
nomor, dan deklarasi damai, resmi sudah proses panjang kampanye Pemilu
2019 kita mulai. Kejutan sudah dimulai sejak Jokowi berpasangan dengan
KH Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno.
Kita lalu melihat kedua kubu sama-sama sibuk bikin pembenaran kenapa
harus KH Ma'ruf Amin, kenapa harus Sandiaga Uno, untuk dijelaskan ke
pendukungnya. Padahal, /nggak/ usah kaget. Dalam pendekatan /Rational
Choice/, ini adalah pilihan masuk akal bagi kedua kubu untuk memenangkan
Pilpres 2019. Sekali lagi, jangan kaget.
Justru inilah momen ketika kita sebagai rakyat, selaku pemegang
kedaulatan, melihat lebih utuh perilaku elite politik kita. Bukan
sekadar dukung mendukung, tapi memahami bagaimana situasi yang
sebenarnya terjadi. Jokowi kenapa sih? Prabowo kenapa sih?
Pertama, saya menilai baik Jokowi maupun Prabowo tidak cukup percaya
diri dengan basis pemilihnya yang asli. Suara pemilih nasionalis
tampaknya tidak cukup untuk memenangkan Jokowi. Maka, mereka memperluas
pasar pemilih ke arah kanan yaitu pemilih tradisional religius.
Tiba-tiba ulama satu per satu jadi pendukung Jokowi.
Prabowo juga sama saja. Suara pemilih tradisional religius rupanya tidak
cukup, mereka pun bergeser ke tengah untuk menyasar pemilih nasionalis.
Tiba-tiba, materi kampanye yang melimpah ayat, berganti membidik
emak-emak. Pasar pemilih yang sebenarnya belum menggambarkan keseluruhan
pemilih perempuan. Tapi, emak-emak ini /catchy/ buat dijual.
Pun begitu, mereka tidak mau kehilangan pemilih setia. Luhut Panjaitan
tampil dominan menjaga wajah nasionalis kubu Jokowi. Sedangkan, kubu
Prabowo juga tidak mau kehilangan pemilih tradisional religius. Sandiaga
Uno pun langsung disebut sebagai santri /post-islamisme/ dan sebulan
kemudian "naik pangkat" disebut sebagai ulama. Sama /to/?
Kedua, akibatnya dalam Pilpres 2019 nanti, kedua kandidat jadi tidak ada
bedanya. Apa yang ada di kubu Prabowo ada juga di Jokowi. Prabowo punya
Sandiaga Uno, Jokowi punya Erick Thohir untuk membidik pemilih muda.
Prabowo punya sosok Jenderal Djoko Santoso dan gerbong perwiranya,
Jokowi juga punya Luhut Panjaitan dan gerbong perwiranya juga.
Nomor urut kampanye pun kini saling bertukar. Kalau mau, mereka tukaran
saja semboyan jari-jari mereka. Tuhan suka yang ganjil dioper ke Jokowi,
salam dua jari dioper ke Prabowo. Beres kan?
Tapi, sadarkah kita bahwa pada ujungnya para pendukung di akar rumput
dipaksa untuk menerima manuver-manuver elite politik? Ahoker dipaksa
menerima kalau Jokowi memilih Ma'ruf Amin. GNPF dipaksa menerima kalau
Prabowo memilih Sandiaga Uno. Jadi, /ngapain/ kita ngotot dan bertengkar
kalau junjungan politik kita gampang berputar haluan?
Makanya, menyambut Pilpres 2019, ayo kita menjadi pemilih yang cerdas.
Ambil jarak agak jauh sedikit dan melihat gambarnya lebih utuh. Kali ini
kita menghadapi Jokowi rasa Prabowo dan Prabowo rasa Jokowi. Kondisi ini
justru bisa dimaknai positif bahwa kedua kubu capres meninggalkan titik
ekstrem mereka pada 2014 dan ingin merangkul semua orang di tahun 2019.
Kalau elite politik kita perilakunya cair, tidak ada kawan dan lawan
abadi, saling bertukar orang dan taktik, lantas kenapa kita sebagai
rakyat harus menjadi fanatik? Justru inilah saatnya menikmati pemilu
dengan lebih /woles/, abaikan semua provokasi busuk itu.
Kita kembali ke judul tulisan ini. Kalau Jokowi ke kanan, Prabowo ke
tengah, kita ke mana? Jawabannya adalah kita tetap di tempat kita
sekarang. Kita adalah rakyat yang memegang kedaulatan. Biarkanlah
Prabowo dan Jokowi berlenggak-lenggok di hadapan kita, menjual pesona,
menawarkan program, beradu gagasan. Jangan golput, dukunglah dengan
wajar, nilailah secara rasional. Berbeda pilihan politik itu biasa,
jangan mau diadu domba, jauhi fitnah dan /hoax/. Kita bikin pemilu lebih
seru dan gembira.
*Fitraya Ramadhanny* /Redaktur Pelaksana di /detikcom/. Tulisan ini
pendapat pribadi
/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!