https://sumsel.antaranews.com/berita/342006/sembilan-tantangan-indonesia-di-tahun-2019
Sembilan tantangan Indonesia di tahun 2019

Selasa, 25 September 2018 21:52 WIB

Ilustrasi. (ANTARA/REUTERS)

Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Pengamat ekonomi politik Ichsanudin Noorsy
menilai Indonesia menghadapi sembilan tantangan baik domestik maupun
internasional dari pendekatan Rancangan APBN 2019.

"Saya mencatat ada empat tantangan dalam negeri dan lima tantangan
internasional yang dihadapi Indonesia," kata Ichsanuddin Noorsy pada
diskusi "RAPBN 2019 dan Tantangan Pembangunan Nasional" di Gedung
MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Selasa.

Menurut Ichsanuddin, empat tantangan dalam negeri meliputi, pertama, adanya
pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. "Pada hari ini
nilai tukar Rupiah ada pada titik Rp14.910. Pada RAPBN 2019, asumsi rupiah
diusulkan Rp14.400," katanya.

Ichsanuddin memprediksi nilai tukar rupiah dapat melemah lagi sampai
melampaui Rp15.000 jika Bank Sentral Amerika menaikkan lagi suku bunganya.

"Kita tunggu saja dalam beberapa hari ke depan, apakah Bank Sentral Amerika
menaikkan lagi atau tidak suku bunganya," katanya.

Menurut dia, kalau Bank Sentral Asia menaikkan lagi suku bunganya, maka
rupiah akan melemah lagi. "Ini menunjukkan bagaimana Pemerintah menjaga
stabilisasi nilai tukar rupiah," katanya.

Kedua, pada saat nilai tukar rupiah melemah, Pemerintah seharusnya
menggenjot ekspor untuk menguatkan nilai tukar rupiah. "Ternyata tidak
dilakukan. Neraca pembayaran Indonesia tetap negatif. Defisit transaksi
berjalan tetap pada kisaran tiga persen," katanya.

Ketiga, Pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan terjadinya gejolak harga.
Menurut Ichsanuddin, harga minyak dunia saat ini sekitar 80 USD per barel,
harga tertinggi sejak 2008, sedangkan asumsi APBN untuk harga minyak dunia
hanya 70 USD per barel.

"Itu artinya ada defisit 10 USD per barel dari asumi APBN," katanya.

Menurut dia, kenaikan harga minyak dunia, berdampak mengerek naik harga
komoditas lainnya seperti batu bara, gas, sawit, dan sebagainya. "Kenaikan
harga-harga tersebut berdampak terjadinya inflasi," katanya.

Keempat, karena adanya inflasi maka perbaikan gini ratio yang sebelumnya
dipublikasi dari 0,408 menjadi 0,389, pada hakekatnya tidak bisa mencapai
apa-apa. "Terbukti dalam Nota Keuangan pada RAPBN 2019, gini ratio tetap
dinyatakan 0,389," katanya.

Ichsanuddin menegaskan dari empat tantangan Indonesia di dalam negeri
menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih rapuh.

Pewarta : Riza Harahap
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kirim email ke