*Apa Ruginya bagi AS Yang Surplus Kepentingan?*
2018-09-26 13:03:45
http://indonesian.cri.cn/20180926/b00dd48a-8a02-c59d-3e90-6c57df1b42c1.html
Dalam pergesekan ekonomi dan dagang Tiongkok-AS yang terus meningkat
dalam waktu setengah tahun ini, salahsatu keluhan pihak AS ialah
terdapatnya neraca besar dalam perdagangan AS terhadap Tiogkok. Ini juga
salahsatu sebab AS mengenakan tarif paksaan terhadap mitra dagang
utamanya antara lain Kanada, Meksiko, Uni Eropa dan Jepang. Maka, apakah
ruginya bagi AS dalam perdagangan dengan Tiongkok? Bagaimana gerangan
kenyataan?
Perunding Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Tiongkok
yang juga Wakil Menteri Perdagangan Fu Zhiying hari Selasa (25/9) di
Beijing menyatakan, neraca perdagangan hanya perbedaan volume
perdagangan bukan bedanya untung-rugi. AS tidak rugi dalam perdagangan
bilateral Tiongkok-AS dan ini sangat jelas bagi perusahaan dan konsumen.
Ia menunjukkan, bahwa dalam kerja sama ekonomi dan dagang Tiongkok-AS,
perusahaan AS memperoleh laba yang jauh lebih besar daripada perusahaan
Tiongkok. Surplus perdagangan berada di pihak Tiongkok,l tapi surplus
kepentingan berada di pihak AS.
Surplus kepentingan berada di pihak AS itu merupakan keadaan nyata dalam
hubungan bilateral Tiongkok-AS. Melalui perkembangan selama sekitar 40
tahun, ekonomi kedua negara Tiongkok dan AS berpadu secara mendalam dan
saling bergantung. Volume perdagangan bilateral Tiongkok-AS telah
mencapai 700 miliar dolar Amerika dan pendapatan pemasaran perusahaan
modal AS di Tiongkok juga mencapai 700 miliar dolar Amerika pertahun
dengan laba yang melampaui 50 miliar dolar Amerika.
Umum telah mencatat, tidak sama posisi Tiongkok dan AS dalam rantai
industri dan rantai nilai global. AS berada di bagian hulu, sedangkan
Tiuongkok berada di bagian tengah dan hilir. Juga harus diperhatian,
perusahaan Tiongkok lebih banyak memperoleh ongkos pengolahan, sedangkan
AS memperoleh kepentingan besar dalam rantai perancangan produk,
pensuplaian onderdil dan pemasaran.
Dilihat dari rantai konsumsi, produk Tiongkok yang bermutu tapi murah
dalam jumlah besar memasuki puluhan ribu keluarga AS sehingga telah
menambah pilihan konsumen AS, menurunkan biaya hidup dan menaikkan daya
beli riil kelompok pendapatan menengah dan rendah rakyat AS.
Tiongkok sebaga sebuah pasar raksasa tapi bertumbuh pesat telah
menyediakan banyak kesempatan bisnis kepada perusahaan AS.
Dilihat secara fundamental, hakekat perdagangan bebas ialah satu mau
beli dan satu lagi rela jual. Pihak AS membeli lebih banyak produk
Tiongkok dan itu sewajarnya mendatangkan lebih banyak neraca perdagangan
bukan karena jual-beli paksaan, melainkan hasil banyak faktor antara
lain struktur ekonomi kedua negara dan distribusi industri internasional.
Daya saing perdagangan berasal dari daya saing industri dan industri
yang kompetitif pasti lebih banyak ekspornya. AS selalu memelihara
surplus yang besar dalam industri unggulannya antara lain otomotif,
pesawat terbang, produk pertanian dan industri jasa.
Padahal, ketidak-seimbangan perdagangan Tiongkok-AS juga berhubungan
dengan pengontrolan AS terhadap ekspor terhadap Tiongkok. Menurut
analisa lembaga terkait AS, kalua diperlonggar pembatasan ekspor produk
iptek tinggi sipil, neraca perdagangan AS terhadap Tiongkok dapat
dikurangi sekitar 35 persen.
Kenyataan membuktikan, keuntungan dalam hubungan ekonomi dan dagang
Tiongkok-AS hampir seimbang, dan keuntungan bersih AS lebih banyak.
Adalah tak meyakinkan bagi AS yang mengalami surplus keuntungan dalam
perdagangan Tiongkok-AS melontarkan argumentasi tentang kerungian AS.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com