APAKAH KARL MARX HARI INI MASIH MEMILIKI KEBENARAN?

 

Pada tahun 2008, Karl Marx memunculkan dirinya  untuk berbisik: `` dia kembali 
! `` Ini diumumkan  Londoner Time.  Dalam konteks ini percetakan buku di Jerman 
melaporkan adanya kenaikan jumlah penerbitan buku Das kapital, yang meningkat 
sampai mencapai sekitar 300 persen, salah satu menteri dari pemerintah Merkel 
menyatakan bahwa, suara ``hati nurani`` dari Marx tidak salah. Di Jepang, buku 
ini menyebar kemana-mana. Di Perancis, foto Nicolas Sarokzy yang, 
membalik-balik edisi buku karya Marx (Das Kapital) diterbitkan dalam bahasa 
Perancis .

Pemicu mengapa Marx menulis karyanya itu adalah karena adanya krisis keuangan : 
Kapitalisme runtuh. Jadi tepatlah apa yang telah diprediksi oleh Marx, seperti 
yang dikatakannya itu, itulah sebabnya dia sekarang ini harus dibenarkan,untuk 
mengevaluasi kembali karyanya, atau setidak-tidaknya ia harus diberi 
penghargaan dan diberi anumerta atas karya-karya itu. 

Demikianlah apa yang terjadi di negara-negara maju seperti Inggris, Jerman, 
Perancis dan Jepang.  Tapi anehnya Marx di indonesia di haramkan, ini tercermin 
dalam Tap MPRS No: 25 Tahun 1966.  Dengan adanya Tap MPRS No 25/1966 inilah 
yang sekarang ini menjadi halangan besar untuk menuntaskan pelanggaran HAM 
berat di Indonesia. Selama Tap itu belum dicabut, maka sampai, kiamatpun Kasus 
pelanggaran HAM berat di Indonesia tidak akan dapat dituntaskan. Jadi sungguh 
relevam jika  usualan almarhum Gus Dur ketika menjabat sebagai RI 1, yang 
mengusulkan agar supaya Tap MPRS no 25/1966 dicabut. Sayangnya usulan Gus Dur 
tersebut di tolak  oleh DPR dan MPR di NKRI, dampaknya adalah pelanggaran HAM 
berat di Indonesia tidak akan dapat di tuntaskan, karena disandra oleh Tap MPRS 
no.25/1966 tersebut, demikian juga demokrasi Pancasila di NKRI akan terus 
menghadapi rintangan besar, selama Tap MPRS no 25/1966 tetap diberlakukan untuk 
selama-lamanya.

 

Tetapi ada satu masalah yang harus kita fahammi: Marxisme adalah teori sejarah 
yang luar biasa: yang berdasarkan pemahaman Marxis tentang kelas, kekuasaan dan 
teknologi, sehingga kita dapat memprediksi perilaku si penguasa (kapitalis dan 
feodais), bahkan sebelum mereka bertindak.

Sebagai suatu teori krisis, bagaimanapun juga, Marxisme itu tentu saja ada 
kekurangannya; Jika kita ingin menggunakan Marx dalam situasi sekarang, kita 
harus sadar akan keterbatasan teori kita - dan harus mengerti dalam masalah apa 
para pengikutnya telah berusaha mengatasi batasan-batasan ini. 

Di Indonesia Marxisme namapaknya telah meberikan inspirasi pada Bung Karno 
dalam menciptakan teori tentang Marhainisme. yaitu marxisme yang disesuaikan 
dengan  kondesi masyarakat Indonesia di era penjahanan kolonialisme Belanda. 
Teori Bung Karno tentang Marhaenisme mengacu pada terbebtuknya suatu masyarakat 
yang adil dan makmur, yang oleh Bungkarno disebut Sosialisme Indonesia.Tapi 
sayangnya Marxisme di Indonesia kini telah diharamkan, sehingga Mahaenisme 
lumpuh tak berkembang.

 

Jadi apa masalahnya, dan mengapa Marxisme di Indonesia  harus haramkan ? 

 

Mengenai tuduhan bahwa ajaran ajaran Marxisme itu anti agama, biasanya si 
pemberi ceramah atau sipenuduh, menghubung-hubungkan dengan ucapan Karl Marx, 
yang mengatakan ``Agama sebagi candu`,` dalam konteks ini biasanya si penuduh 
(si penceramah) secara sengaja tidak mau mengatakan dalam konteks apa Karl Marx 
mengucapkan kata-kata demikian. Karena jika si penuduh atau si penceramah  
menjelaskan konteksnya, malah mungkin si pendengar akan membenarkan Karl Marx. 
Seperti apa yang sudah kita bicaralan diatas bahwa ajaran Marx itu ditulis 
dalam suatu karyanya karena adanya krisis keuangan : Kapitalisme runtuh. 

Marxisme adalah teori sejarah yang luar biasa: yang berdasarkan pemahaman 
Marxis tentang kelas, kekuasaan dan teknologi, sehingga kita dapat memprediksi 
perilaku si penguasa (kapitalis dan Feodalis), sebelum mereka bertindak.

 

Ajaran tentang Klas atau masyarakat Tauhid, juga terdapat persamaan  antara 
sosialisme dengan Islam, hanya istilahnya berbeda Karel Marx menyebutnya 
perjuangan klas, sedangkan Islam menyebutnya``usaha kaum``seperti yang tesebut 
dalanm surat Ar Ra´du (ayat 11), yang mengatakan : Sesungguhnya Tuhan tidak 
akan mengubah keadaan suatu kauam, kecuali kaum itu sendiri berusaha merubah 
diri mereka. Dalam konteks ini Tuhan telah mengeluarkan petunjuk dalan surat 
Al-Addiyat (ayat 8) dan surat An Nahl (ayat 7), yang isisnnya mengatakan bhawa: 
mereka itu batil, kikir,dan tetap hendak mengangkangi kekayaan yang telah 
mereka miliki. Islam itu sendiri juga mengakuai bahwa dulunya umat itu satu, 
kemudian terpecah belah dalam kaum-kaum atau klas-klas.  Sehingga terjadilah 
pertentangan kaum (klas) dan perjuangan kaum atau klas.. Untuk ini baca  Surat 
Al Mukminum ayat 52-53-54-55-56.

(perpustakaan Al Quran 30 Juz, terdiri dari 3 buku ( warna : Nerah, Hijau dan 
Biru) ,untuk ayat ini buku warna hijau (hal 540). Penerbit

Fa SUMATERS Jl,Rd Sartika 33 BANDUNG, disahkan oleh Mjelis Ulama Indonesia 
Ketum:  Prof. Dr. HAMKA)

 

Tentang Sosialisme adalah ajaran yang menolak penghisapan manusia atas manusia, 
atau ajaran  untuk membebaskan kaum tertindas (Mustadhafin) dari segala macam 
penindasan yang dilakukan oleh kauam feodalis dan kaum Kapitalis, Jadi logis 
jika pada saat Karl Marx mengatakan ``Agama sebagi Candu``itu, oleh karena pada 
saat itu Marx menyaksikan lembaga dan penguasa agama menawarkan janji-janji 
sorga disamping derita dan kematian. Yang paling kesal lagi  ketika Marx 
mengetahui para tokoh agama berkolusi dengan penguasa yang tiran yang menindas 
rakyat dan membodoh-bodhi rakyat. Menyaksikan penomena yang menjadikan

agama  sebagai tempat pelarian dari pergulatan sosial yang memerlukan 
penyelesain kongkrit,maka bagi Marx hal itu tak ubahnya sebagai candu, yang 
menghilangkan derita sementara. Sedang akar persoalannya tak tersentuh sama 
sekali.. Jadi kritk Karl Marx bukanlah hakekat Tuhan dan agama, melainkan 
praktek keberagaman yang tidak menyelesaikan akar penyakit derita yang dialami 
kaum tertindas di Dunia ini, Penomena seperti itu  juga terlihat di NKRI. 
(Karel Marx adalah keturunan Yahudi, dalam usia enam tahaun dia dibabtis masuk 
agama Kristen- Protestan, Marx hidup dari tahun 1818-1883).

 

Kesimpulan akhir : Karel Marx saat ini dan juga karya Bung Karno tentang 
Marhaenisne masih memiliki kebenaran!!!, ini dibuktikan oleh runtuhnya sistem 
Kapitalisme dan neolibralisme sekarang ini sudah tak dapat diragukan lagi. 
Tinggalkan system ekonomi Neoliberal.Dan oleh karena itu untuk selamjutnya  
NKRI harus kembali pada demokrasi Ekonomi yang bersandar pada Pasal 33 UUD 45,  
dan Pancasila 1 Juni 1945.

 

Roeslan.

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Sonntag, 6. Mai 2018 14:46
An: Yahoogroups; Daeng; Harry Singgih; Rachmat Hadi-Soetjipto; Mitri; 
[email protected]; Farida Ishaja; Lingkar Sitompul; Gol; Oman Romana; 
Harsono Sutedjo; Billy Gunadi; [email protected]; Ronggo A.; Sie Tik Tan; Sahala 
Silalahi; Andreas Sungkono; Nunu Nugroho; Tjoa; GELORA_In; WIN DJOYO; Everistus 
Kayep
Betreff: [GELORA45] Marx dan Tauladan Bagi Remaja: Memperingati 200 Tahun Karl 
Marx

 

  

Nggak mau baca tulisan Jose Maria Sison, karena dia komunis, nah ada tulisan 
seorang ulama yang menceritakan pengalamannya dalam berkenalan dengan ajaran 
Marx...Lain dengan Chan  yang begitu benci dan dendam pada PKI dan pimpinannya, 
si Murtadho malah merasa "didampingi" oleh Aidit dan Nyoto dalam pengenalannya 
pada Marxisme....

 

 


Marx dan Tauladan Bagi Remaja: Memperingati 200 Tahun Karl Marx*


 

 

Oleh:

Roy Murtadho

 

Mendengar nama Karl Marx, yang berkelebat dalam kepala kita adalah Partai 
Komunis Indonesia (PKI), yang digambarkan sebagai brutal dan biadab oleh Orde 
Baru Soeharto. Tulisan ini, tidak secara langsung, hendak meluruskan 
kesalah-anggapan tersebut. Tapi lebih sebagai catatan pribadi saya selama 
bersentuhan dengan pemikiran Marx di masa remaja. Di suatu waktu jauh di 
belakang kita, di awal reformasi, dimana berbagai gagasan dan pengetahuan 
tentang Marx dan Marxisme dimungkinkan kembali untuk dipelajari.

Saat itu sebagai remaja di kota pelajar Yogyakarta, menemukan buku-buku Marxis 
tidaklah sulit. Siapapun bisa mencarinya di banyak toko buku atau di 
perpustakaan Ignatius Loyola. Selain cerita silat karangan Asmaraman S. Ko Ping 
Hoo, hampir almari saya penuh oleh copy-an buku-buku Marx, juga berbagai buku 
pengantar Marxisme yang sedang ramai diterbitkan. Namun di antara semuanya, 
buku yang paling mengesankan bagi saya adalah karangan Klasik Nyoto, ‘Marxisme 
Ilmu dan Amalnya’ 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn1>
 [1]. Selain ‘Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan 
Revisionisme’ karangan Romo Magnis dan ‘Tentang Marxisme’ karangan D.N. Aidit, 
buku Nyoto tersebut beredar secara luas dalam bentuk fotocopy di kalangan 
aktivis Yogya. Buku tersebut menarik, selain ringkas dan terang bagi para 
pemula untuk menjelaskan butiran-butiran pemikiran Marx dari seseorang yang 
membaca dan mengamalkannya, juga terdengar islami di telinga saya sebagai 
seorang santri.

‘Ilmu dan Amalnya’. 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn2>
 [2] Tak ada santri yang tak terkesima dengan dua kata tersebut. Yang persis 
sama dengan sabda Nabi yang sangat masyhur: “Barang siapa beramal tanpa ilmu 
maka apa yang dirusaknya jauh lebih banyak dibandingkan yang diperbaikinya”. 
Atau sebagaimana diungkapkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Ilmu adalah 
pemimpin amal, dan amal adalah pengikutnya.” Hubungan Ilmu dan Amal ini persis 
seperti hubungan Iman dan Amal. 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn3>
 [3] Keduanya tak bisa dipisahkan, merupakan satu kesatuan. Lebih-lebih kata 
ilmu dan berbagai kata turunannya banyak sekali disebut dalam al-Qur’an. Karena 
itu kata ‘Ilmu’ dan ‘Amalnya’ sangat menakjubkan bagi saya.

Dengan judul itu juga, Nyoto telah dengan tepat menggambarkan wajah utama dari 
seluruh bangunan pemikiran dan ikhtiar perjuangan Marx, sebagaimana diungkapkan 
sendiri oleh Marx: “The philosophers have only interpreted the world, in 
various ways; the point, however, is to change it. 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn4>
 [4] Suatu tugas mulia seorang pemikir untuk tak hanya memikirkan dunia tapi 
mengubahnya menjadi lebih baik bagi manusia.

Saat itu, di antara sekian banyak remaja yang membaca Marx, mungkin saya 
merupakan salah satu dari mereka yang mendekati Marx. Pertama-tama, bukan 
sebagai filsuf dengan gagasan-gagasan agungnya, melainkan sebagai seorang 
pribadi. Pribadi yang mengagumkan. Mungkin kekaguman saya pada Marx, –agar 
terdengar ilmiah–, bisa juga dijelaskan melalui ungkapan Erich Fromm, yang 
melihat Marx sebagai pemikir yang ‘menempatkan pentingnya faktor manusia dalam 
karyanya’ (At every stage of his work he emphasized the importance of human 
factor). 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn5>
 [5] Bahkan, di kalangan aktivis saat itu banyak yang mengatakan, seandainya 
ada nabi di abad modern, maka Marx-lah yang paling layak menjadi nabi tersebut.

Saking kagumnya, saya pun membuat resensi atas karya Nyoto tersebut dan tulisan 
singkat untuk mading pesantren berjudul “Marx dan Al-Ghazali”. Tulisan yang 
terakhir lebih berisi cerita tentang ibu saya yang mengira gambar Marx di kaos 
yang saya pakai sebagai gambar Al-Ghazali. Karena memang rambut dan jenggot 
kedua tokoh tersebut sekilas terlihat mirip. Sama-sama panjang dan acak-acakan. 
Ibu bahagia sekali melihatnya. Saking senangnya hingga cerita ke saudara kalau 
saya santri tulen, sampai memakai kaos bergambar Al-Ghazali. Saya diam dan 
bahagia melihat ibu bahagia. Karena memang Marx dan Al-Ghazali begitu dekat di 
hati saya. Keduanya layak menjadi tauladan. Selain rambut dan jenggot, mereka 
juga punya banyak kemiripan. Sama-sama tekun belajar dan memilih hidup melarat. 
Tapi mungkin Al-Ghazali lebih zuhud ketimbang Marx. Marx masih punya Jenny von 
Westphalen, semantara Al-Ghazali hidup membujang hingga akhir hayatnya.

***

Nyoto-lah, saya kira, melalui karyanya, yang mampu menggambarkan dengan baik 
pada sisi apakah Marx itu pantas menjadi tauladan yang baik (uswah hasanah). Di 
bab pertama ‘Marxisme Sebagai Ilmu’, Nyoto menjelaskan cara kerja ilmiah Marx 
dengan mengutip kembali Paul Lafargue dalam karyanya, Reminiscences of Marx.. 
Di situ diceritakan, sebagai seorang pemikir, Marx sangat hati-hati dan 
cermat.. Marx tak akan membicarakan sesuatu yang belum dipelajarinya dengan 
sungguh-sungguh. Ia tak pernah menerbitkan satu pun karya sebelum meninjaunya 
kembali berulang-ulang hingga menemukan bentuk yang paling tepat. Bahkan, Marx 
tak pernah muncul di depan publik sebelum ia memiliki persiapan yang cukup. 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn6>
 [6]

Lebih lanjut, Nyoto menjelaskan, Marx mempelajari cukup banyak bahasa untuk 
kepentingan pekerjaan ilmiahnya. Dia bisa mengarang dalam bahasa Jerman, 
Inggris dan Prancis dengan sangat bagusnya. Dia juga membaca Dante dalam bahasa 
Italia dan membaca Demokritos dalam bahasa Yunani, dia mengerti bahasa Belanda 
dan bahasa Hongaria, bahasa Denmark dan bahasa Spanyol. Dan ketika berusia 50 
tahun, dia merasa masih cukup muda untuk mulai mempelajari bahasa Rusia, dan 
enam bulan kemudian dia sudah pandai menikmati syair-syair Puskin dan 
novel-novel Gogol dalam bahasa aslinya. 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn7>
 [7] Saya bayangin, kalau di pesantren, Marx pasti sudah digelari al-alim 
allamah karena kecerdasan dan penguasaannya atas banyak bidang pengetahuan.

Bahkan, saking jeli dan rajinnya, berbeda dengan kita, Marx tidak menyusun 
buku-buku di dalam lemari bukunya menurut ukuran besarnya atau ukuran tebalnya, 
juga tidak menurut serinya, melainkan menurut isinya, sesuai dengan kebutuhan 
pekerjaannya. 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn8>
 [8]

Diceritakan betapa dia kurang makan roti, tetapi tidak pernah dia kurang makan 
bacaan. Bukunya di rumah cukup banyak, buku-buku yang dia himpun dengan teliti 
selama beberapa puluh tahun. Dan ketika dia bertandang ke kota-kota besar, ke 
Berlin atau London, ke Amsterdam atau Paris, sebagian besar waktunya dihabiskan 
untuk ‘menjelajahi’ isi bibliotek dari museum-museum di kota-kota tersebut. Ini 
berbeda dengan pemuda saat ini ketika melancong yang dicari adalah café terbaik 
untuk menghabiskan malam dengan sebungkus rokok dan segelas kopi. Atau malah 
berharap-harap menemukan kekasih baru di kota baru..

Namun demikian, Nyoto mengingatkan bahwa kejeniusan Marx bukanlah ‘bisikan 
wahyu,’ melainkan hasil dari pekerjaan yang luar biasa, keuletan, ketekunan, 
ketelitian dan ketajaman otak. 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn9>
 [9] Persis sebagaimana kiai saya dulu mengatakan bahwa kejeniusan al-Ghazali, 
dan Imam Syafii, bukanlah karena ilmu laduni yang given sebagaimana umum 
dipercaya banyak orang, melainkan buah dari kerja keras dan ketekunan belajar. 
Marx, meski sebagian besar waktunya digunakan untuk penyelidikan di lapangan 
ekonomi hingga melahirkan karya agungnya, Das Kapital, 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn10>
 [10] perhatiannya tak hanya terbatas pada soal-soal kemasyarakatan tapi 
merambah pada ilmu-ilmu alam pada umumnya, seperti matematika dan biologi.

Sebagai tambahan, ini penting khususnya bagi santri! Untuk mengetahui secara 
umum sosok Marx, Pidato Engels di saat pemakaman Marx, saya kira cukup mampu 
menggambarkan seperti apa sosok Marx yang jauh sekali dengan yang sering 
diomongin Taufiq Ismail.

“Misi hidupnya adalah untuk menyumbang dengan satu cara atau cara lainnya untuk 
menggulingkan masyarakat kapitalis… untuk menyumbang bagi pembebasan kaum 
proletariat masa kini yang untuk pertama kalinya didasarkan oleh Marx akan 
kedudukan dan kebutuhan-kebutuhan mereka, akan kondisi-kondisi yang 
memungkinkan mereka mendapatkan kebebasannya. Perjuangan adalah salah satu 
unsur Marx. Dan ia berjuang dengan suatu semangat, suatu kegigihan dan suatu 
keberhasilan yang hanya sedikit orang yang dapat menyamainya… dan karenanya 
menjadi orang yang paling dibenci dan paling banyak difitnah pada masanya… ia 
meninggal, dicintai, dipuja dan ditangisi oleh berjuta-juta teman-teman pekerja 
yang revolusioner dari pertambangan-pertambangan di Siberia sampai 
pantai-pantai California, di semua tempat-tempat di Eropa dan Amerika… namanya 
dan karyanya akan terus abadi sepanjang zaman”. 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn11>
 [11]

“Perjuangan adalah salah satu unsur Marx”. Ungkapan Engels tidaklah berlebihan 
untuk menilai Marx. Mungkin ia merupakan sedikit dari filsuf-pejuang yang mampu 
mengaitkan antara teori dan praksis. Ia tidak menulis sebagaimana penulis 
kebanyakan saat ini yang hanya mengejar akreditasi atau menulis karena pesanan 
donor. Ketika Das Kapital baru saja terbit, penerbitnya membayar honorarium 
yang begitu kecilnya kepada Marx sehingga, kata Marx sendiri, honorarium itu 
tidak cukup buat membeli rokok yang diisapnya selama dia menyelesaikan Das 
Kapital. 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn12>
 [12] Karena memang ia menulis bukan mau tenar dan kejar honor saja. Tapi jihad 
membela manusia.

http://transisi.org/wp-content/uploads/2018/05/Karl-Marx.jpg

 

Credits to: blogs.canterbury.ac.uk

***

Apa itu yang disebut dengan meneladani Marx?

Tentu saja, tanpa harus mengkultuskan pribadi Marx bak nabi. Tetapi, pertama, 
mengamalkan cara kerja ilmiah Marx, yang oleh Marx dikatakan mempunyai lima 
tingkatan: penyelidikan, percobaan atau eksperimen, pencatatan, perenungan, dan 
penyimpulan atau penggeneralisasian. 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn13>
 [13] Kedua, menyatukan teori dan praktik. Karena menjalankan salah satunya, 
atau membangun separasi di antara kedunya, telah dengan sendirinya offside dari 
apa yang dibangun Marx. Ketiga, hidup ugahari. Bagaimana kita hendak 
memperjuangkan nasib kelas pekerja kalau cara hidup kita lebih borjuis 
ketimbang kaum borjuis itu sendiri. Persis dai-dai yang latah dakwah tentang 
kehidupan nabi yang tidurnya di atas pelepah kurma sementara dirinya sendiri 
tidur di atas spring bed yang mahal dan nyaman. Cerita nabi naik onta yang 
sangat kurus dan jelek sementara dirinya naik mobil keluaran terbaru yang 
sangat mahal..

Di tengah situsai global saat ini, yang secara umum penuh dengan janji 
kebahagiaan semu oleh kapitalisme yang kemaruk dan terus menjalar ke rongga 
paru-paru kehidupan kita, bagi saya, meneladani Marx juga berarti bahwa 
perjuangan tak cukup hanya dengan kepalan tangan dan pekik perlawanan jika 
tanpa mengelaborasi kondisi mutakhir kapitalisme. Menjadi Marxis juga harus 
menjadi seseorang yang terbuka dengan banyak gagasan-gagasan baru yang datang 
belakangan jauh setelah Marxisme. Bukannya beringsut dari persoalan mutakhir 
sebagaimana seorang Marxis militan hanya memberi solusi revolusi dengan slogan: 
‘apapun masalahnya revolusi solusinya’ yang persis sama dengan iklan di tv, 
‘apapun makanannya teh botol sosro minumnya.’

Seorang Marxis yang baik mesti mampu menjawab persoalan-persoalan baru yang 
terus berkembang. Seperti munculnya sistem baru yang disebut David Harvey 
sebagai “akumulasi fleksibel”, yakni makin berkuasanya modal keuangan 
internasional di atas negara bangsa yang semakin mandul; globalisasi pasar 
tenaga kerja yang menyebabkan semakin cepatnya migrasi tenaga kerja murah asing 
dan melemahnya gerakan serikat pekerja; penyempitan ruang dan waktu melalui 
inovasi teknologi. Semua itu mesti diberikan jawabannya; 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn14>
 [14] Semakin terorganisirnya kapitalisme secara ketat melalui persebaran, 
mobilitas geografis, dan respon luwes terhadap pasar tenaga kerja, 
proses-proses perburuhan, dan pasar konsumen, yang semuanya dibarengi dengan 
begitu besarnya inovasi institusional, produk dan teknologi. 
<http://transisi.org/marx-dan-tauladan-bagi-remaja-memperingati-200-tahun-karl-marx/#_ftn15>
 [15]

Dan yang tak kalah penting, meneladani Marx dan membaca Marxisme, bukan demi 
terlihat gagah, apalagi pongah dan menakutkan bagi banyak orang. Tapi tugas 
maha berat memanggul kembali harapan Marx untuk mengubah dunia yang lebih 
berkeadilan dan damai bagi seluruh umat manusia. Marxisme mesti didekati 
sebagai ilmu, bukan dogma. Maka itu setiap tafsir, elaborasi atas pemikiran 
Marx, peng-amal-an atas pemikiran Marx dan pekik perlawanan atas ketidakadilan 
dan ketimpagan yang diciptakan kapitalisme, haruslah dimaknai sebagai ikhtiar 
mengubah dunia menjadi lebih baik dan damai. Marx merupakan pribadi tawadlu. 
Kejeniusannya, menurut saya, campuran antara kerja keras dan ke-tawadlu-annya, 
sampai-sampai ia mengatakan: Ich bin kein Marxist. Dengan itu, saya kira, ia 
hendak mengatakan bahwa orang tak boleh mandeg, jumud, dan sekedar taklid buta, 
tapi mesti terus menggali dan mengoreksi modus produksi kapitalisme.

Ini sama dengan ketika kita membaca ayat “dzalika al-kitab la raibafihi” di 
awal surat al-Baqarah yang berarti: “tidak ada keraguan di dalamnya (kitab 
al-Qur’an)”. Bukan berarti sama sekali tidak boleh menyangsikannya, atau 
sekedar bertanya. Tidak! Justru dengan bertanya itulah seseorang akan sampai 
pada keyakinan yang kokoh. Karena menjadi seorang marxis tidaklah sama dengan 
cheerleaders yang kerjanya hanya sorak saja. Tapi membuktikan bahwa sosialisme 
ilmiah Marx, benar-benar ilmiah. Kalau memang benar sosialisme ilmiah Marx 
relevan untuk semua tempat dan waktu sebagaimana diungkapkan Nyoto, maka tugas 
seorang marxis adalah mampu menunjukkan letak kesahihan sosialisme ilmiah Marx. 
Jangan sampai sama dengan ustadz-ustadz di tv yang mengatakan “Islam salih li 
kulli zaman wa makan,”Islam benar di tiap waktu dan tempat. Namun gagal 
menujukkan kebenarannya. Seorang Marxis yang baik, sama dengan seorang Muslim 
yang baik, yaitu mampu menjelaskan kebenaran apa yang dipeganginya dengan 
bukti-bukti objektif.

Saya tak pernah menganggap Marx tengah menggelar gagasannya untuk sekedar 
dirapal, semacam mantra mujarab yang dengan mengutipnya maka selesai semua 
persoalan.. Maka kita tak perlu heran jika suatu saat nanti ada yang men-syarah 
(memberi komentar) “Theses on Feurbach” dan “Manifesto Komunis” dengan berbagai 
lapangan pengetahuan baru yang tengah berkembang. Juga jangan menuduhnya 
sebagai ahlul bid’ah (bidaah), seandainya nanti ada anggota MUI yang menafsir 
Marx dengan kaedah fiqihnya. Siapa tahu ada.

Marx, melalui Nyoto (tentu juga Aidit), telah menjadi teman seperjalanan saya 
di masa remaja, di sela-sela mengaji di pesantren. Sedemikian, Marx, selain 
jenggot dan rambutnya yang acak-acakan serta kemalangan hidupnya. Ketimbang 
meneladani artis semacam Raffi Ahmad dan Syahrini atau politisi semacam Ruhut 
Sitompul, Marx layak menjadi taudalan semuanya, wa bil khusus bagi remaja.

Tambahan: Marx tak pernah hidup ugal-ugalan sebagaimana sering diomongin Taufiq 
Ismail.

 

Wallahu’alam bi al shawab***

Penulis aktif di Litbang Front Nahdliyin Untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam

Esai pernah disampaikan dalam diskusi Rabu-an Kelompok Epistemik SALIK (Santri 
Anti Liberalisme dan Kapitalisme).

 



Kirim email ke