Belum kelihatan kapan UUPA dapat dilaksanakan.
Kelihatannya kok yang gampang2 saja yang dikerjakan : Petani di pinggir
hutan boleh tanam2 di bawah pohon dalam hutan.
Kemungkinan kedua : Tanah konsesi perkebunan yang sudah habis masa
kontraknya, akan dibagikan ke petani ?
Tidak tahu apa sampai sekarang masih banyak tanah perkebunan yang dikuasai
KODAM seperti jaman tahun 60 an ?
Apa sekarang masih banyak tuan tanah besar ? Kalau UUPA dijalankan, perlu
ganti kerugian. Di negeri lain ada yang ganti
kerugiannya sebesar 3 X hasil tanah dalam setahun. Ini yang bayari
pemerintah dulu, dan kemudian baru petani yang dapat
tanah harus mencicilnya (ada yang dalam 3 tahun).
Di Taiwan landreform lebih gampang dilaksankan. Tuan2 tanah besar adalah
orang2 jepang, yang begitu kalah perang, langsung
lari balik ke Jepang. Kalau yang punya tuan2 tanah orang Taiwan, diganti
dengan saham perusahaan besar.
Kalau di Jepang, bisa jalan dengan dipaksakan oleh Komandan Tertinggi
Jendral MacArthur yang takut kalau landreform tidak
dilakukan, pasti dilakukan oleh partai Komunis Jepang.
Di Korea Selatan, mula2nya landreform  hanya dilakukan terhadap tanah2 yang
dulunya dikuasai Jepang. Tentara pendudukan
tidak berani melakukan landreform pada tanah2 milik tuan tanah orang Korea
Selatan sendiri, yang banyak jadi anggota partai
berkuasa di Korea Selatan. Tetapi beberapa tahun kemudian, orang2 dari
partai ini justru melihat perlunya dilaksanakan landreform,
dan dilakukan.
Tidak tahu bagaimana dengan tanah adat, apa boleh untuk transmigrasi, dan
bagaimana ganti ruginya ?

On Mon, 1 Oct 2018 at 13:52, Noroyono 1963 [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> wrote:

>
>
> Jika Beliau memang "Titisan Allah", maka imbauan saya yg paling mendesak
> adalah:
> - Selamatkan *UUPA Tahun 1960* (yg notabene dalam keadaan *coma* saat
> ini).
> - Periksa kembali berbagai perizinan dan sertifikat tanah milik para
> konglomerat, yg menurut pengamatan saya,    keabsaannya sangat patut untuk
> diragukan.
> - Tegakkan dengan konsisiten *Rule of Law (Rechtsstaat). *
> - Jernihkan berbagai kasus* pelanggaran berat HAM *di masa lampau.
>
> "Selamakan NKRI", kan mesti ada perwujudannya yg konkret; nyata bukan
> maya! Jika tidak demikian, ya tinggal "omdo" alias omomg doang.
>
> Yg berkomentar tidak bersalah, yg membaca patut waspada. Saya hanya orang
> biasa. [*Noroyono, 01/10/2018*]
>
>
> Op maandag 1 oktober 13:07 2018 schreef "Sunny ambon [email protected]
> [GELORA45]" <[email protected]> het volgende:
>
>
>
>
>
> https://www.kaskus.co.id/thread/5bb1ee539a095132798b4567/jokowi-mungkin-titisan-allah-selamatkan-nkri
> anonympoliticia <https://www.kaskus.co.id/profile/6521460>Hari ini 16:52
> Kaskus Maniac
>
>    -
>
> Jokowi Mungkin Titisan Allah Selamatkan NKRI
>
>
> Quote:
>
>
> RMOL. Presiden Joko Widodo (Jokowi) berasal dari rakyat kecil ternyata
> mampu memimpin bangsa ini dengan penuh prestasi.Hal itulah yang menjadi
> anggapan bahwa Jokowi merupakan titisan Allah untuk menyelamatkan NKRI.
>
> Demikian disampaikan politisi PDIP Imam Suroso saat ditemui di Komplek
> Parlemen, Jakarta, Senin (1/10).
>
> “*Jokowi itu mungkin titisan Allah untuk menyelamatkan NKRI*. Mentalnya
> hebat dan dia dari orang miskin,” ungkap Imam.
>
> Anggota Komisi IX DPR tersebut menegaskan hal itu terbukti dalam riwayat
> Jokowi yang lulus kuliah dari UGM langsung merantau untuk cari kerja hingga
> ke Aceh.
>
> “Lulus dari UGM langsung cari kerja, ini kan bukti kalau dia bukan dari
> orang yang berada. Akhirnya ke Aceh jadi tukang kaso,” tambahnya.
>
> Ketika tanggal 21 September lalu, saat pengundian nomor urut, Imam semakin
> yakin bahwa Jokowi merupakan orang yang dipilih Allah untuk memimpin
> Indonesia ketika mendapatkan nomor 01.
>
> “Itu (nomor 01) tandanya optimis, maknanya sebagai sang juara, ini berkat
> doanya Pak Kiai Ma’ruf,” beber Imam Suroso.
>
> Menurut Imam Suroso, Jokowi adalah orang yang tepat untuk mengembalikan
> kejayaan Indonesia saat ini. Kebijakan dan tingkah laku Jokowi membuat
> negara-negara lain gemetar.
>
> “Lihat saja Freeport, Amerika juga tidak bisa apa-apa, Australia juga
> waktu warganya dihukum mati. Walaupun sudah diancam-ancam, Jokowi tetap
> ‘medeni wong’ (menakutkan orang),” pungkas Imam Suroso. [jto]
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke