https://news.detik.com/kolom/d-4237035/hantu-komunisme-dan-kegenitan-politik
Senin 01 Oktober 2018, 15:50 WIB
Kolom
Hantu Komunisme dan Kegenitan Politik
Ichwan Arifin - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/ichwan.arifin.ia>
Ichwan Arifin <https://connect.detik.com/dashboard/public/ichwan.arifin.ia>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4237035/hantu-komunisme-dan-kegenitan-politik#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4237035/hantu-komunisme-dan-kegenitan-politik#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4237035/hantu-komunisme-dan-kegenitan-politik#>
2 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4237035/hantu-komunisme-dan-kegenitan-politik#>
Hantu Komunisme dan Kegenitan Politik Sebuah acara "nobar" film G30S/PKI
(Foto: Ibnu)
<https://news.detik.com/kolom/d-4237035/hantu-komunisme-dan-kegenitan-politik#><https://news.detik.com/kolom/d-4237035/hantu-komunisme-dan-kegenitan-politik#><https://news.detik.com/kolom/d-4237035/hantu-komunisme-dan-kegenitan-politik#><https://news.detik.com/kolom/d-4237035/hantu-komunisme-dan-kegenitan-politik#>
*Jakarta* -
Ada hantu yang setiap tahun selalu didatangkan ke Indonesia, mengisi
narasi dan perdebatan politik di lingkaran elite sampai obrolan warung
kopi. Hantu itu bernama komunisme. Pada masa Orde Baru, hantu-hantuan
itu telah menjadi liturgi politik tahunan yang harus diikuti rakyat.
Saat ini, pengguliran isu komunisme tidak lepas dari momentum Pemilu
2019, khususnya pemilihan presiden.
Pada September tahun ini, yang baru saja berlalu, kedatangan hantu itu
diawali lagu/Potong Bebek Angsa/. Salah satu elite politik mengunggah
video lagu tersebut di media sosial. Namun, liriknya diubah dengan
kalimat sindiran yang tentunya dialamatkan pada Pemerintahan Joko
Widodo. Di salah satu frase ada juga kalimat yang bernuansa tuduhan
sebagai Partai Komunis Indonesia (PKI). Meskipun tidak secara tegas
menyebut siapa yang dituduh komunis, namun tidak perlu orang cerdas
untuk mengetahui siapa yang dimaksud "mereka" dalam lirik "/Ternyata
merekalah yang PKI/" di lagu itu. Secara substantif, video tersebut
lebih bersifat propaganda, tuduhan, dan provokasi daripada memberikan
edukasi politik rakyat.
Isu komunis kembali digulirkan dengan pemutaran ulang film
/Pengkhianatan G30S/PKI/. Seperti tahun lalu, isu ini kemudian mengisi
kegaduhan dalam diskursus politik. Media massa pun memberikan panggung
bagi bergulirnya isu komunisme tersebut. Sayangnya, yang terjadi
bukanlah dialog konstruktif, kaya dengan referensi ilmiah, dan data,
namun cenderung menjadi debat kusir yang emosional, penuh hujatan dan
nada amarah. Misalnya, debat di salah satu televisi swasta antara mantan
petinggi Kostrad dengan Ketua YPKP 1965 yang selama ini mengadvokasi
korban Peristiwa G30S/1965. Tidak ada sisi positif dan taburan
ilmu/pengetahuan yang dapat diperoleh pemirsa dari debat itu. Media
massa seharusnya memberi panggung dialog yang lebih dapat memberikan
solusi konstruktif daripada kegaduhan politik.
*Ideologi Kiri*
Manifesto Komunis diterbitkan pada 1848 sebagai buah pikir Karl Marx
merespons situasi politik, ekonomi, dan sosial pada masa itu. Marx
meyakini bahwa ideologi ini akan membuat perubahan besar di dunia. Marx
memulai tulisannya dengan kalimat "/Ada hantu berkeliaran di
Eropa--Hantu Komunisme/" untuk menggambarkan respons pihak yang berbeda
pandangan politik yang menyebut komunisme sebagai ancaman. Selepas
Revolusi Oktober 1917 di Rusia, komunisme berkembang ke seluruh dunia
dan menginspirasi berbagai revolusi kemerdekaan di negara-negara dunia
ketiga.
Para /founding fathers/, termasuk proklamator Bung Karno juga menjadikan
Marxisme sebagai salah satu referensi politiknya. Pejuang kemerdekaan
lain pada masa itu juga akrab dengan pemikiran tokoh-tokoh kiri seperti
Rosa Luxemburg, Pieter J Toelstra, Lenin, Engels, Beatrice Webb, dan
sebagainya. Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, pemimpin Syarekat Islam
(SI), organisasi terbesar pada masa itu, pada 1924 menulis /Islam dan
Sosialisme/ yang menegaskan bahwa Islam seiring dan sejalan dengan
pergerakan rakyat dan kaum buruh dunia. Namun, saat ini komunisme sudah
bangkrut. Di negeri asalny, nyaris tidak dapat dilihat lagi bentuk
peninggalan komunisme dalam kehidupan sosial masyarakatnya.
Tahun lalu, ketika berkunjung ke negara-negara eks komunis di Eropa
Timur saya menyaksikan bahwa warisan komunisme tinggal menjadi bagian
dari sejarah. Misalnya di Republik Cheko, komunisme hanya hidup di
Museum Komunisme di Kota Praha yang menjadi salah satu tujuan wisata.
Sistem politik dan ekonomi sudah tidak lagi merefleksikan komunisme,
seperti penerapan sistem ekonomi pasar menggantikan sistem ekonomi
terpusat dan sistem demokrasi liberal. Gaya hidup warga kota juga
berubah. Seperti layaknya kota-kota di Eropa Barat, beragam pusat
perbelanjaan yang menawarkan barang-barang mewah, mobil kelas premium,
dan sebagainya dapat dengan mudah ditemui di Praha. Hal yang sulit
ditemui pada masa rezim komunis.
Namun, hal yang patut dipelajari adalah transformasi politik dari rezim
komunis yang sudah berkuasa selama 41 tahun ke arah demokrasi liberal
tidak menumpahkan genangan darah berlebihan melalui "Revolusi Beludru
(S/ametova Revoluce/)" pada 1989. Kematangan dan kedewasaan para elite
politik menentukan keberhasilan transformasi tersebut dengan cara yang
lebih beradab. Tidak ada pelabelan dan stigma politik yang dilekatkan
pada kelompok masyarakat. Label yang menjadi legitimasi negara dan
kelompok masyarakat lainnya untuk menempatkan anggota partai komunis
sebagai musuh negara yang harus dibasmi tuntas sampai pada anak
keturunannya. Dimatikan secara politik, perdata, dan dicabut hak azasi
manusianya.
*Narasi Sejarah*
Narasi sejarah sebagaimana dikemukakan sejarawan Taufik Abdullah memuat
dua sisi. Pertama, sejarah sebagaimana dikisahkan /(histoire recite)/
adalah rekonstruksi yang dapat berubah bentuk. Berpotensi subjektif
karena perbedaan sudut pandang dalam penuturan. Kedua, sejarah sebagai
realitas /(histoire realite)/ yaitu sebuah fakta dan peristiwa yang
tidak dapat diubah oleh apapun dan siapapun.
Perdebatan isu komunisme, termasuk Peristiwa G30S/1965 masuk dalam
kategori /histoire recite/. Siapa yang menuturkan akan berpengaruh pada
narasi yang dituturkan. Selama masa Orba, narasi politik dalam segala
hal, termasuk penuturan komunisme, hanya boleh dituturkan dalam satu
sisi, yaitu perspektif penguasa. Sehingga, rakyat tidak dibiasakan
melihat beragam perspektif dalam melihat satu peristiwa. Cenderung
melihat pihak yang berbeda pandangan sebagai "/liyan/" yang bahkan, jika
perlu, harus disikapi dengan kekerasan.
Karena itu, dalam konteks isu komunisme, negara tidak perlu melarang
atau pun sebaliknya menganjurkan pemutaran ulang film /Pengkhianatan
G30S/PKI/. Namun, hal yang sama juga harus diterapkan pada masyarakat
yang ingin memutar atau menonton film yang diasosiasikan dengan isu
komunisme atau Peristiwa G30S/1965 dalam narasi yang berbeda, seperti
film dokumenter /The Act of Killing (Jagal)/ karya Joshua Oppenheimer,
yang menyorot bagaimana sudut pandang pelaku pembunuhan orang-orang yang
dituduh PKI dan menjustifikasi kekejamannya sebagai perbuatan heroik.
Termasuk juga film dokumenter lainnya, /The Look of Silence (Senyap)/.
Jika film /Jagal/ menceritakan sudut pandang pelaku pembunuhan atau
pembantaian massal, maka film /Senyap/ melihat dari sisi anak korban
pembunuhan massal. Semua itu memperkaya referensi kita dalam mengkaji
sejarah dan peristiwa gelap masa lalu. Namun, realitanya, upaya
masyarakat memutar film tersebut sering mendapatkan perlakuan tidak
menyenangkan dari kelompok lainnya.
Peristiwa G30S sudah lewat 53 tahun silam. Sudah saatnya kita berdamai
dengan masa lalu. Energi untuk berkonflik akan lebih bermanfaat jika
dicurahkan dan difokuskan pada kerja kemanusiaan yang dapat memberikan
warisan tatanan yang beradab bagi generasi masa depan. Semua komponen
bangsa dengan ragam ideologi (kiri, kanan, tengah), ragam suku dan
agama, bersama-sama telah berkontribusi perjuangan kemerdekaan republik
ini. Karena itu, biarkan setiap anak bangsa mewacanakan narasinya
sendiri jika merasa sejarah yang ada tidak tepat menggambarkan peristiwa
masa lalu.
Namun, negara harus tegas untuk menyikapi setiap tindakan pemaksaan,
ancaman, dan kekerasan terhadap kelompok yang berbeda narasi. Luka
sejarah masa lalu harus disikapi secara dewasa dan jangan dijadikan
sebagai penjara, apalagi komoditas politik sesaat seperti Pilpres 2019.
*Ichwan Arifin* /mantan GMNI, alumus Pascasarjana Undip
//
/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!
komunisme <https://www.detik.com/tag/komunisme/> isu kebangkitan
komunisme <https://www.detik.com/tag/isu-kebangkitan-komunisme/>
g30s/pki <https://www.detik.com/tag/g30s+pki/> pilpres 2019
<https://www.detik.com/tag/pilpres-2019/>