https://nasional.tempo.co/read/1131627/pertanyaan-yang-belum-terjawab-dalam-peristiwa-
g30s-1965/full&view=ok
Pertanyaan yang Belum Terjawab dalam
Peristiwa G30S 1965
Reporter:
Ryan Dwiky Anggriawan
Editor:
Ninis Chairunnisa
Senin, 1 Oktober 2018 09:52 WIB
Warga nonton bareng (nobar) pemutaran film pengkhianatan G30S/PKI di
Lapangan Hiraq Lhokseumawe, Aceh (23/9) malam. ANTARA FOTO
<https://statik.tempo.co/data/2017/09/24/id_650325/650325_720.jpg>
Warga nonton bareng (nobar) pemutaran film pengkhianatan G30S/PKI di
Lapangan Hiraq Lhokseumawe, Aceh (23/9) malam. ANTARA FOTO
TEMPO.CO, Jakarta - Rae Sita Michel, perempuan kelahiran 16 April 1994,
mendengar kisah tentang gerakan 30 September 1965 atau G30S 1965 ketika
dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Oleh pemerintah kala itu,
gerakan itu dilabeli G30S PKI.
"Waktu pelajaran PPKN, G30S itu kaya ada tujuh orang TNI atau ABRI
dibunuh sama PKI terus mereka dimasukin ke Lubang Buaya," kata Rae pada
sebuah wawancara dengan Tempo Institute pada 2012.
Baca: Soeharto, Militer, dan Pembunuhan Massal Pasca G30S 1965
<https://nasional.tempo.co/read/1131083/soeharto-militer-dan-pembunuhan-massal-pasca-g30s-1965>
Ia lupa apa alasan ketujuh jenderal itu dibunuh, ia hanya ingat kisah
G30S memiliki berbagai macam versi. Versi pertama, peristiwa G30SPKI
terjadi karena ada keterlibatan Soekarno pada PKI. "Terus ada juga yang
bilang kalau itu cuma akal-akalannya presiden Soeharto supaya dapat
kuasa gitu," ujarnya.
Rae juga pernah mendengar Soeharto mengeluarkan Undang-Undang untuk
siapapun yang pernah terlibat dalam PKI, baik langsung maupun tidak,
untuk dilarang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau masuk Perguruan
Tinggi Negeri (PTN).
Menurut Rae, ia merasa kasihan pada siapapun yang terdampak dengan
kebijakan tersebut. "Kan itu mungkin kaya kesalahan nenek moyang kok
kena juga sebagai generasi muda?"
Baca: Kisah Jess Melvin Menelusuri Pembunuhan Massal Pasca G30S 1965
<https://nasional.tempo.co/read/1131199/kisah-jess-melvin-menelusuri-pembunuhan-massal-pasca-g30s-1965>
Di akhir wawancara, Rae berpesan pada generasi muda seperti dirinya
untuk lebih peka dengan sejarah negara sendiri. Menurut dia, sejarah
adalah apa yang membentuk identitas diri dan membentuk bangsa ini. "Kita
harus tahu sejarah yang sebenarnya," ujarnya.
Sejarawan Asvi Warman Adam mengatakan sejarah peristiwa G30S 1965 memang
masih menyisakan pertanyaan. Setidaknya menurut dia ada dua hal yang
belum terjawab secara jelas, yaitu jumlah korban dan siapa yang
bertanggungjawab atas peristiwa itu.
Mengenai jumlah korban, kata Asvi, ada banyak versi yang beredar. Angka
terendah dari Komisi Pencari Fakta yang pernah dibentuk presiden
Soekarno menyebut korbannya mencapai sekitar 78 ribu orang. "Angka yang
paling tinggi sampai 3 juta (jumlah korban) oleh Sarwo Edhi," ujarnya.
Sarwo Edhi Wibowo adalah mantan Komandan Pasukan Resimen Para Komando
Angkatan Darat (RPKAD). RPKAD adalah pasukan yang berperan dalam
penumpasan PKI pada 1965. Sedangkan Komnas HAM yang melakukan pencarian
fakta pada 2008-2012 menyebut jumlah korban berkisar 500 ribu hingga 3
juta orang.
Baca: Komunisme dan PKI: Yang Telah Mati, yang Terus Dipolitisasi
<https://nasional.tempo.co/read/1131440/komunisme-dan-pki-yang-telah-mati-yang-terus-dipolitisasi>
Seperti jumlah korban, persoalan siapa yang bertanggungjawab pun masih
menjadi pertanyaan. Namun menurut Asvi, teka-teki tersebut makin jelas
dengan ditemukannya bukti-bukti baru. Ia menyebut salah satunya adalah
temuan peneliti Australia Jess Melvin dalam buku /The Army and the
Indonesian Genocide: Mechanics of Mass Murder./
Melvin menemukan sejumlah dokumen militer yang berisi perintah
pemusnahan PKI sampai ke akar-akarnya. Surat pertama muncul dari
Soeharto sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) kepada
Komandan Militer Wilayah Aceh Ishak Djuarsa pada pagi hari, 1 Oktober
1965. Dia mengabarkan telah terjadi kudeta di Jakarta di bawah pimpinan
Letnan Kolonel Untung.
Surat tersebut kemudian direspon oleh Komandan Mandala I (Panglatu)
Sumatera Letnan Jenderal Ahmad Junus Mokoginta dengan surat perintah
pemusnahan PKI yang berbunyi "/Segenap anggota Angkatan Bersenjata untuk
setjara tegas/tandas, menumpas contra-revolusi ini dan segala bentuk
pencianatan2 dan sematjamnja sampai keakar2nja/."
Menurut Asvi, Melvin beruntung bisa mendapat dokumen tersebut karena ini
adalah kali pertama analisa peristiwa 1965 didasarkan pada dokumen
militer sendiri. "Laporan ini sangat rinci menjelaskan secara rinci
operasi militer, waktu, kronologi, tempat dan jumlah korban" ujarnya.
Saat ini, sejarah mengenai peristiwa G30S 1965
<https://www.tempo.co/tag/g30s-1965> didasarkan pada versi pemerintah
Orde Baru bahwa PKI adalah dalang terjadinya serangkaian pembantaian.
Karena itu, kata Asvi, peristiwa itu disebut G30S PKI seperti yang
diajarkan di sekolah-sekolah. "Padahal yang benar seharusnya G30S, bahwa
dalangnya itu PKI atau yang lainnya itu bisa diperdebatkan," ujarnya.