https://tirto.id/manuver-politik-sby-jelang-pilpres-dukung-prabowo-puji-jokowi-c3YX
Manuver Politik SBY Jelang Pilpres:
Dukung Prabowo, Puji Jokowi
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai
Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan salam kepada media sebelum
melakukan pertemuan tertutup di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara,
Senin (30/7/2018). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.
<https://tirto.id/manuver-politik-sby-jelang-pilpres-dukung-prabowo-puji-jokowi-c3YX>
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum
Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan salam
kepada media sebelum melakukan pertemuan tertutup di
kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Senin (30/7/2018).
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.
Oleh: M. Ahsan Ridhoi - 1 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
/SBY dinilai sedang memainkan politik mendayung di antara dua karang di
Pemilu 2019. Secara partai mendukung Prabowo-Sandi, tapi tetap unjuk
diri memuji Jokowi./
tirto.id <https://tirto.id/> - Pujian Ketua Umum Partai Demokrat Susilo
Bambang Yudhoyoni (SBY) ke Presiden Joko Widodo soal tindakannya yang
cepat tanggap dalam menangani bencana gempa bumi dan tsunami di Palu dan
Donggala, Sulawesi Tengah mendapat respons beragam.
“Pak SBY memperlihatkan kalau dirinya /fair/. Harusnya tokoh politik
lainnya mencontoh beliau,” Ketua DPP Partai Nasdem Irma Suryani Chaniago
kepada /Tirto,/ Senin (1/10/2018).
Irma mengatakan, pihaknya mengapresiasi sikap politik SBY yang objektif
menilai sikap pemerintah Presiden Jokowi. Ia pun mengatakan, partainya
juga siap mengapresiasi segala kebijakan SBY yang bermanfaat untuk
Indonesia sebagai timbal balik.
Akan tetapi, respons Irma berbeda dengan Sekjen Partai Hanura, Heri
Lontung Siregar. Ia menilai pujian itu mengindikasikan SBY sebenarnya
menaruh harapan pada Jokowi untuk melanjutkan kepemimpinan di periode
kedua.
“Soal sikap partai, tentu ada pertimbangan ya dari SBY. Namun, itu jelas
kalau dia mendukung Jokowi. Jelaslah. Enggak usah dibenturkan lagi sama
sikap partainya,” kata Heri kepada /Tirto./
Baca juga:
* Pujian SBY ke Jokowi Dianggap Taktik Panjat Elektabilitas
<https://tirto.id/pujian-sby-ke-jokowi-dianggap-taktik-panjat-elektabilitas-c3Wp>
Peneliti The Political Literacy Adi Prayitno punya pandangan senada.
Menurutnya, SBY sedang memainkan politik mendayung di antara dua karang
di Pemilu 2019. Secara partai mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno,
tapi tetap membuka ruang dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf Amin.
Hal itu, menurut Adi, bisa terlihat pula dari kebijakan SBY membiarkan
kader-kader partainya di daerah untuk melabuhkan dukungan kepada
Jokowi-Ma'ruf, seperti Ketua DPD Demokrat Papua, Lukas Enembe dan
Majelis Pertimbangan Demokrat Jabar, Deddy Mizwar.
"Jadi bukan hanya main di dua kaki. Sepertinya SBY memang membiarkan
kadernya mendukung Jokowi atau Prabowo dengan dikemas alasan
demokratis," kata Adi kepada /Tirto./
Menurut Adi, pilihan itu menjadi yang paling realistis diambil SBY dalam
menghadapi Pemilu 2019. Sebab, dengan begitu, SBY berpeluang
meningkatkan suara partainya dan melakukan penyelamatan terhadap
partainya dari ditinggal kadernya.
“Kemarin kan kita tahu bahwa Ketua DPD Demokrat Sulut sudah pindah ke
Nasdem. Itu berbahaya, karena bisa menjalar ke kader-kader lainnya. Jadi
harus ditanggulangi sejak dini," kata Adi.
Selanjutnya, kata Adi, permainan politik SBY ini juga dimaksudkan untuk
memberi jalan regenerasi kepemimpinan di tubuh Demokrat dari dirinya
kepada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) maupun Edhy Baskoro Yudhoyono (Ibas).
"Jalan itu ditempuh agar putra mahkota bisa punya ruang politik nanti
ketika Pemilu 2024," kata Adi.
Lagipula, kata Adi, jika SBY ingin memaksakan mendukung Prabowo-Sandiaga
secara penuh di Pilpres 2019, kecil kemungkinan untuk mendapatkan timbal
balik elektoral maupun posisi politik bagi partainya. Sebab, menurutnya,
kegagalan AHY menjadi cawapres sudah membuktikan daya tawar Demokrat
sudah tidak sebesar pemilu-pemilu sebelumnya.
"Jadi fokusnya sekarang kalau menurut saya, Demokrat itu di pileg.
Pilpres hanya sunnah. Kalau di pileg menang, maka dia punya daya tawar
untuk menyeimbangkan parlemen, meskipun Prbaowo kalah," kata Adi.
Baca juga:
* Pujian SBY ke Megawati: Cara Agar AHY Dijadikan Cawapres Jokowi?
<https://tirto.id/pujian-sby-ke-megawati-cara-agar-ahy-dijadikan-cawapres-jokowi-cGux>
Infografik CI Puja Puji SBY untuk Jokowi
*Demokrat Pastikan All Out Dukung Prabowo-Sandiaga*
Wakil Ketua Umum Demokrat, Syarifudin Hasan membantah pernyataan Heri
dan Adi. Menurutnya, tak ada korelasi antara pujian SBY ke Jokowi dengan
sikap politik Presiden ke-6 Indonesia itu dan Demokrat di Pemilu 2019.
"Ini murni betul-betul pengakuan yang tulus. Apalagi yang menyangkut
masalah rakyat ya. Memang seharusnya begitu. Jadi kami minta juga jangan
dikaitkan dengan hal lain," kata Syarifudin kepada /Tirto./
Syarifudin pun menilai kepindahan Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi
Utara a.n. GS Vicky Lumentut ke Nasdem yang disebut Demokrat akibat
kriminalisasi oleh Jaksa Agung HM Prasetyo, bukan menjadi faktor SBY
memberikan pujian kepada Jokowi.
"Karena para kader juga tidak merasa /happy/ dengan kepindahan itu. Ya
tapi lagi-lagi itu hak individu seseorang," kata Syarifudin.
Anggota Komisi I DPR RI ini pun menyatakan, SBY sedang menyusun agenda
untuk turun gelanggang mengampanyekan Prabowo-Sandiaga dan telah
menginstruksikan seluruh kader Demokrat di daerah mendukung pasangan
nomor urut 02 ini.
"Kami tidak memanfaatkan kepala daerah. Karena ini kan pemilihan
langsung. Saya pikir pengaruh kepala daerah tidak signifikan. Ya lebih
pergerakan semua kader. Dari kampung sampai pusat," kata Syarifudin.
Baca juga artikel terkait PILPRES 2019
<https://tirto.id/q/pilpres-2019-c2Z?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya M. Ahsan Ridhoi
<https://tirto.id/author/mahsan?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Reporter: M. Ahsan Ridhoi
Penulis: M. Ahsan Ridhoi
Editor: Abdul Aziz
Syarifuddin klaim tak ada korelasi antara pujian SBY ke Jokowi dengan
sikap politik Demokrat di Pemilu 2019