MENGAPA KITA HARUS TINGGALKAN EKONOMI PANCASILA YANG 

BERDASARKAN PASAL 33 UUD 1945 ?

 

Kutipan : Calon wakil presiden nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin menyebut
mirajnomic  sebagai salah satu cita-citanya apabila terpilih pada Pilpres
2019 mendatang (kutipan selesai).

 

REFLEKSI : Nasionalisme Indonesia mengharuskan terbentuknya nilai-nilai
pemerataan dan keadilan. Dalam UUD 1945 pasal mengenai ekonomi dan
perekonomian adalah Pasal 33 UUD 45, yang berada dalam Bab. XIV UUD 1945
dengan Judul Babnya Kesejahteraan Sosial jaitu :

Pertama  : Pasal 33 UUD 1945.

1.Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas
kekeluargaan

2.Cabang-cabang  produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.

3.Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran Rakyat. 

 

Diikuti oleh : 

Kedua: Pasal 34 UUD 1945

Pasal 34 mengenai hak kaum fakir miskin, dan anak-anak terlantar didalam Bab
yang sama

 

Melengkapi kedua pasal tersebut adalah Pasal 27 (ayat 2) UUD 1945, ini
adalah merupakan target pembangunan yang cukup eksplisit. 

Ketiga : Pasal 27 UUD 1945 (ayat 2) Tiap-tiap Warga negara berhak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

 

Persoalannya adalah tiga persyaratan tersebut diatas sama sekali tidak
dilaksanakan, di era ``reformasi`` Yang sudah 20 Tahun berlalu. Padahal
dalam konteks kesejahteraan rakyat yang terpenting adalah mejalanlan UUD 45
naskah aseli, khususnya tiga Pasal tersebut diatas.

 

Semua Pasal-Pasal dan ayat-ayat dari UUD 45 tersebut diatas telah sepenuhnya
memenuhi apa yang dimaksud dalam lima sila Pancasila 1 Juni 1945. Jadi
Seorang Presiden diharuskan menjalankan semua Pasal-Pasal dan ayat-ayat UUD
45 seperti yang disebutkan diatas. Artinya seorang Presiden NKRI diwajibkan
untuk menjalankan Konstitusi yaitu UUD 45 dan Pancasila 1 Juni secara utuh ..

 

Untuk menegakkan kembali Konstitusi negara kita yaitu UUD 45 yang dalam
konteks ini adalah Pasal 33 UUD 45 dan Pancasila 1 juni 1945, maka sungguh
relevan jika kita katakan bahwa : Bangsa Indonesia sekarang ini menghendaki
ditegakannya seorang peminpin yang paling tidak harus seorang yang visioner,
dan  mempunyai  akhlak disiplin ekonomi opportunnity cost; Kecuali itu ia
harus seorang peminpin yang benar-benar memahami makna dan mampu menjalankan
konstitusi negara kita yang berdasarkan UUD 45 yang dalam konteks ini adalah
Pasal 33 UUD 45, dan Pancasila 1 Juni1945, sehingga dapat mendorong
muculnya suatu pasar sempurna, yang lebih mementingkan ``Survival of the
wisest``daripada survival of the fittes . Karena setiap peserta ekonomi
kapitalis neoliberal sekarang ini bekerja hanya untuk kepentingannya
sendiri-sendiri.  Oleh karena itu harus diadakan aturan main pasar sempurna
; sehingga suatu invisible hand  bisa muncul dan membawa seluruh peserta
ekonomi dan seluruh masyarakat kesatu tingkat kesejahteraan yang lebih
tinggi. Selain itu  seorang pemimpin yang visioner berpeluang untuk
membangun pilar-pilar karisma yang akan membuat dia bisa sempurna untuk
disebut sebagai pemimpin yang karismatik. Jadi, visioner adalah persyaratan
minimal bagi seorang pemimpin yang diharapkan oleh bangsa Indonesia, dan
mudah-mudahan pemilu 2019 dapat menghasilkan seorang pemimpin (Presiden)
yang visioner dan sekaligus karismatik.

Hal ini sangat perlu di ciptakan untuk menghadapi perlawanan yang sengit
dari kaum kapitalis neolibiberal yang kini mendominasi pasar dunia, termasik
di NKRI. Ini tercermin dalam era kekuasaan rezim-rezim ``reformasi``sampai
sekarang ini. Oeh karena itulah sungguh relevan jika tema melawan
Neoliberalisme harus dijadikan tema pokok dalam menyongsong pemilu 2019.

 

Apakah Neoliberlaisme itu ?

 

Neoliberlisme  adalah doktrin pasar yang tidak terkontrol, dalam konteks ini
Neolibralisme berpendapat bahwa; Kemakmuran itu timbul dari kehendak
individu atau kelompok, dan berpendapat bahwa untuk mencapai kemakmuran,
Rakyat harus menunggu terjadinya peresapan kebawah dari kemakmuran para
individu yang berkuasa dan bermodal besar, yang berlomba-lomba mengejar
keuntungan bagi mereka sendiri; dalam persaingan pasar bebas yang brutal,
bukan persaingan bebas yang klasik menurut teori kapitalisnya Adam Smith
yang disebut invisible hand (tangan gaib)-nya Adam Smith, Invisible hand-nya
Adam Smith hanya akan muncul dalam persaingan bebas pasar sempurna, yang
mengutamakan kebijksanaan dan kearifan yaitu : ``Survival of the wisest``,
bukan ``survival of the fittes`` yaitu : dalam bersaing ``siapa yang menang
bersaing, adalah yang benar`` Dengan cara apa dan bagaimana bisa menang
bersaing, tidak dipersoalkan. Sistem ``survival of the fittes``yang
dipraktekan oleh kaum kapitalis neoloberal inilah yang harus kita tentang!!!

 

Demokrasi ekonomi yaitu die ekonomi Pancasila adalah merupakan tekat politik
khusus dari UUD 1945 naskah asli. Pelaksanaannya menghendaki  strategi
khusus, yaitu ``mencapai pertumbuhan ekonomi melalui pemerataan kegiatan
pembangunan`` (GBHN), sebagai pembedaan dengan strategi konvensional utopis
yang absolut yaitu ``mencapai pertumbuhan ekonomi dan menunggu perembesan ke
bawah, yang sekaligus dapat diartikan strategi tak langsung dan pasif, jika
ditunjau dari sudut pandang kepentingan usaha kecil dan mrngngah.

 

Sistem Neolib inilah yang sekarang diparaktekan di NKRI  oleh rezim-rezim
´´Reformasi`` yang silih berganti, yang 100% bermuatan sifat anti
ekologi-dalam, dan anti Pancasila, dalam struktur-struktur  sosial dan
ekonomis, ini termanifestasikan dalam bentuk seperti : >>exploitation de
l´homme par l´homme<< (penghisapan manusia atas manusia)  yang tercermin
dalam sistem penjualan buruh murah bangsa Indonesia (baca:perbudakan model
baru) yang antara lain termanifestasikan dalam bentuk TKI/TKW, korupsi
besar-besaran yang didukung oleh budaya KKN ciptaan orde baru, selain itu
juga melakukan perusakan genetika sumber-sumber daya alam, tumbuh-tumbuhan,
binatang, dan manusia, yang tercermin dalam penomena penggundulan hutan
lindung kawasan Gunung Slamet, dalam pelaksanaan proyek  infrastruktur dalam
konteks  Pembangunan Listrik Tenaga Panas (PLTP ) Baturra den Gunung Slamet,
perampasan lahan pertanian, disulap menjadi bandara seperti di Sukamulya
Majalengka dan di Kulonprogo dan perampasan lahan pertnian di sekitar gunung
Kendeng yang  dirusak sumber airnya, demi kepentingan  pabrik semen, yang di
amini oleh rezim-rezim ``informasi``.

Karena pelaku-pelaku ekonomi yang bebas ini, akan menyebabkan terjadinya
suatu kesejangan  yang menyolok antar peserta ekonomi yang kaya dan yang
miskin. Sering dikiaskan bukan invisible hand yang muncul, tapi visible
hand-lah yang muncul. Dalam konteks ini sesama pelaku neoliberal melakukan
persaingan yang brutal diantara mereka. Jadi sungguh relevan jika kita
mengatakan bahwa sistem ekonomi neoliberal adalah anti Pancasila. Oleh
karena itulah, sistem ekonomi neoliberal di NKRI harus ditinggalkan!!!

 

Sekarang pertanyaannya adalah : Mengapa kita tidak memiliki Fiksi yang yang
bagus, yang dapat menggerakkan emajinasi pikiran kita untuk menggunakan akal
sehat dan menggunakan kesempatan yang membayangkan kehidupan yang ideal
yaitu masyarakat yang sempurna adil dan makmur (sosialis Indonesia) sebagai
makhluk yang bebas dan berdaulat? 

 

Padahal ada budaya yang populer, yang  telah melakukan trobosan ini; dalam
bentuk melawan bencana pasca  penjahahan kolonialisme Belanda, dalam bentuk
perang kemerdekaan 1945-1949, dan  bencana pembantaian massal kekuasaan
rezim Orde baru dalam gerakkan reformasi 1998.

Budaya pop terobosan dengan ide ini telah menhasilkan Keruntuhan dipihak
penjajah kolonialisme Belanda, dan penguasa kediktatoran militer fasir Orde
baru selama 32 tahun lamanya. Tetapi kita sebagai makhluk hidup yang
rasional,mengapa tidak boleh memiliki kemampuan untuk memberikan kehidupan
yang ideal yaitu masyarakat yang sempurna, yaitu masyarakat Indonesia yang
adil dan makmur atau sosialime Indonesia, yang diharpkan oleh Proklamasi
kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang harus ditinggalkan ? dan diganti
dengan budaya ekonomi mirajnomic?; seperti yang dikemukakan ole Pak KH
Ma’ruf Amin.

 

Dalam konteks ini saya berpendapat : BACK TO THE BASICS !

 

Artinya artinya kembali pada demokrasi ekonomi, yaitu ekonomi Pancasila yang
berdasarkan pada UUD 45 yang jelas-jelas anti imperilisme,neoliberalisme dan
feodalisme, yang dalam mkonteks ini adalah Pasal 33 UUD 45.  

Tapi mengapa kita harus meninggalkan ekonomi Pancasila, seperti yang sudah
saya utarakan diatas, dan banting stir menuju pada Ekonom Syariah, yang oleh
Pak HK Ma’ruf Amin disebut ekonomi sistem mirajnomic.   

 

Oleh karena itu sungguh relevan jika saya ajukan pertanyaan: Quovadis pak KH
Ma’ruf Amin akan mengarahkan NKRI jika nantinya menang sebagai Wakil
Presiden NKRI?.

 

Roeslan.

 

 

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Donnerstag, 4. Oktober 2018 11:54
An: undisclosed-recipients:
Betreff: [GELORA45] Ma’ruf Amin Optimistis Ekonomi Indonesia Membaik

 

  

Apakah dengan diterapkan ilmu ekonomi syariah maka ekonomi Indonesia menjadi
baik?

https://koransulindo.com/maruf-amin-optimistis-ekonomi-indonesia-membaik/


Ma’ruf Amin Optimistis Ekonomi Indonesia Membaik


4 Oktober 2018

*        

Koran Sulindo – Calon wakil presiden nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin menyebut
mirajnomic  sebagai salah satu cita-citanya apabila terpilih pada Pilpres
2019 mendatang.

Istilah mirajnomic kata Ma’ruf, ekonomi Indonesia 2024 sudah lepas landas
dan lebih baik.

“‎Tidak isra (jalan di tempat) terus. Saya optimistis dengan  ekonomi miraj,
Indonesia akan lebih maju,” kata Maruf di hadapan ratusan peserta doa
bersama untuk Sulawesi Tengahp, di Ponpes Al Muhajirin, Purwakarta, Jawa
Barat, Rabu (3/10).

Ma’ruf berjanji, jika terpilih mendampingi Jokowi, dirinya akan bekerja
untuk mengentaskan kemiskinan, meningkatkan pendidikan dan layanan
kesehatan.  “Hal ini sebagai fardhu ain, atau sesuatu yang wajib dilakukan,”
kata Ma’ruf.

Ma’ruf mengajukan arus baru ekonomi kerakyatan, ekonomi keumatan, dan
ekonomi berkeadilan yang menerapkan sila kelima Pancasila. Dengan demikian,
kesenjangan antara kaya dan miskin bisa dihilangkan.

“Bukan berarti kita harus melemahkan yang kuat. Tapi menguatkan yang lemah
melalui kemitraan dengan yang kuat, sehingga semuanya sama-sama kuat,” kata
Maruf.

Ia juga akan menekan kesenjangan antara pusat dan daerah. “Jangan ada lagi
daerah tertinggal, semua daerah harus maju,” ujar Ma’ruf.

Ma’ruf melanjutkan, Jokowi sudah meletakkan pondasi dengan membangun
infrastruktur dan konektivitas. Termasuk cita-cita menekan disparitas produk
nasional dengan global. Karenanya, produk Indonesia ke depan harus lebih
kompetitif, dan bernilai tambah.

Contohnya coklat di Sulawesi Selatan cuma Rp 1.000, dibawa ke Singapura, dan
diolah lalu dijual lagi ke Indonesia menjadi Rp 20.000.

“Besok, selisih yang Rp 19.000 harus diberikan kepada rakyat sendiri.‎ Kopi
juga begitu. Nilai tambah ini harus diberikan kepada rakyat Indonesia. Saya
akan terus membantu untuk menciptakan itu,” ucapnya.

Untuk itu, diperlukan sumber daya manusia yang andal melalui pendidikan.
“Saya mohon doa, restu, dukungan, karena saya akan hijrah dari jalur
kultural ke jalur struktural. Mudah-mudahan bersama Pak Jokowi bisa terpilih
di pilpres mendatang,” katanya.

Pada bagian lain sambutannya Ma’ruf Amin mengaku banyak pihak yang
menyindirnya karena dianggap sudah tua namun bersedia menjadi pendamping
Joko Widodo untuk mengikuti Pemilu Presiden 2019.

Di hadapan Majelis Dzikir Hubbul Wathon dan Kyai Kampung yang mengikuti
acara doa bersama untuk Sulawesi Tengah, Rabu (3/10), Kiai Maruf memberikan
jawabannya.

Kata Kiai Ma’ruf, Jokowi tahu bahwa dirinya sudah berumur tua. Begitupun
kebanyakan masyarakat. Tetapi, Jokowi tetap mengangkat Ma’ruf sebagai
wakilnya.

“Ada yang bilang sudah tua, sudah bau tanah, masih mau jadi cawapres. Saya
jadi teringat sebuah cerita,” kata Ma’ruf.

Alkisah, ada seorang yang sudah berumur tua menanam pohon. Aksi itupun
mendapat teguran banyak orang. Yang menegur menyatakan, kenapa sudah tua,
hidupnya sudah tak lama lagi, tapi tetap menanam pohon. Toh buahnya takkan
bisa diambil hasilnya oleh orang tua itu.

“Tapi orang tua itu menjawab. Saya menanam pohon ini bukan untuk saya makan.
Tapi untuk generasi berikutnya,” kata Kiai Maruf.

“Begitupun dengan kondisi saya. Saya sudah memakan buah hasil tanaman kakek
dan orang tua saya. Maka saya bersedia menjadi wakil presiden karena mau
membuat sesuatu bagi generasi yang akan datang,” kata dia.

‎Ma’ruf bersedia mendampingi Jokowi adalah melihat kualitas dirinya sebagai
seorang pemimpin. Kiai Maruf mengatakan, mudah saja bila Jokowi hendak
mengangkat calon wakil presiden dari kalangan profesional maupun politisi.

Namun Jokowi justru memilih dirinya sebagai seorang kyai dan santri. “Beliau
melihat saya sebagai kyai dan santri. Karena beliau memang sangat mencintai
kyai dan santri,” katanya.

“Beliau banyak diberikan isu negatif. Kemarin saya mau foto bareng dengan
beliau. Pas mau foto, saya tanya beliau dimana. Ternyata Pak Jokowi lagi
salat Ashar. Kaget saya, kalah kyai sama Pak Jokowi. Akhirnya saya tunggu
foto dulu baru selesainya saya salat. Kagum saya sama beliau,” imbuhnya.
[CHA]

 



  _____  

Posted by: Sunny ambon <[email protected]> 

  _____  

 

 

 

 

 

 

 

 

Kirim email ke