Rapopo Ma'ruf bercita-cita seperti itu, toh pidatonya 
di pondok pesantren ini adalah upaya menjaring pemilih 
dari kalangan santri - dalam lakon kampanye cawapres 
(kampanye di acara agama; doa bersama bagi korban 
gempa dan tsunami Sulteng). Bukankah memang begitu 
maksud Jokowi menunjuk Ma'ruf Amin sebagai cawapres? 
Untuk dijadikan "kulit identitas". Dengan tujuan, meraup 
perolehan suara dari kalangan ulama dan santri seperti 
dimaklumi sendiri oleh Ma'ruf Amin:
"Kiai Maruf mengatakan, mudah saja bila Jokowi 
hendak mengangkat calon wakil presiden dari 
kalangan profesional maupun politisi. Namun Jokowi 
justru memilih dirinya sebagai seorang kyai dan santri. 
"Beliau melihat saya sebagai kyai dan santri. Karena 
beliau memang mencintai kyai dan santri," katanya.
Jadi, jelas, Ma'ruf Amin betul-betul cuma untuk mendongkrak 
suara dukungan beridentitas ulama & santri. 

Untuk urusan ekonomi tentulah capres Jokowi sudah mengantongi 
resep baku IMF-WB.

--- roeslan12@... wrote:
    

MENGAPA KITA HARUS TINGGALKAN EKONOMI PANCASILA YANG BERDASARKAN PASAL 33 UUD 
1945 ?
Kutipan : Calon wakil presiden nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin menyebut 
mirajnomic  sebagai salah satu cita-citanya apabila terpilih pada Pilpres 2019 
mendatang (kutipan selesai).
REFLEKSI : Nasionalisme Indonesia mengharuskan terbentuknya nilai-nilai 
pemerataan dan keadilan. Dalam UUD 1945 pasal mengenai ekonomi dan perekonomian 
adalah Pasal 33 UUD 45, yang berada dalam Bab. XIV UUD 1945 dengan Judul Babnya 
Kesejahteraan Sosial jaitu :
Pertama  : Pasal 33 UUD 1945.

1.Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan

2.Cabang-cabang  produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat 
hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.
3.Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh 
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran Rakyat.

Diikuti oleh :

Kedua: Pasal 34 UUD 1945
Pasal 34 mengenai hak kaum fakir miskin, dan anak-anak terlantar didalam Bab 
yang sama

Melengkapi kedua pasal tersebut adalah Pasal 27 (ayat 2) UUD 1945, ini adalah 
merupakan target pembangunan yang cukup eksplisit.
Ketiga : Pasal 27 UUD 1945 (ayat 2) Tiap-tiap Warga negara berhak atas 
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Persoalannya adalah tiga persyaratan tersebut diatas sama sekali tidak 
dilaksanakan, di era ``reformasi`` Yang sudah 20 Tahun berlalu. Padahal dalam 
konteks kesejahteraan rakyat yang terpenting adalah mejalanlan UUD 45 naskah 
aseli, khususnya tiga Pasal tersebut diatas.

Semua Pasal-Pasal dan ayat-ayat dari UUD 45 tersebut diatas telah sepenuhnya 
memenuhi apa yang dimaksud dalam lima sila Pancasila 1 Juni 1945. Jadi Seorang 
Presiden diharuskan menjalankan semua Pasal-Pasal dan ayat-ayat UUD 45 seperti 
yang disebutkan diatas. Artinya seorang Presiden NKRI diwajibkan untuk 
menjalankan Konstitusi yaitu UUD 45 dan Pancasila 1 Juni secara utuh.

Untuk menegakkan kembali Konstitusi negara kita yaitu UUD 45 yang dalam konteks 
ini adalah Pasal 33 UUD 45 dan Pancasila 1 juni 1945, maka sungguh relevan jika 
kita katakan bahwa : Bangsa Indonesia sekarang ini menghendaki ditegakannya 
seorang peminpin yang paling tidak harus seorang yang visioner, dan  mempunyai  
akhlak disiplin ekonomi opportunnity cost; Kecuali itu ia harus seorang 
peminpin yang benar-benar memahami makna dan mampu menjalankan konstitusi 
negara kita yang berdasarkan UUD 45 yang dalam konteks ini adalah Pasal 33 UUD 
45, dan Pancasila 1 Juni1945, sehingga dapat mendorong  muculnya suatu pasar 
sempurna, yang lebih mementingkan ``Survival of the wisest``daripada survival 
of the fittes . Karena setiap peserta ekonomi kapitalis neoliberal sekarang ini 
bekerja hanya untuk kepentingannya sendiri-sendiri.  Oleh karena itu harus 
diadakan aturan main pasar sempurna ; sehingga suatu invisible hand  bisa 
muncul dan membawa seluruh peserta ekonomi dan seluruh masyarakat kesatu 
tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Selain itu  seorang pemimpin yang 
visioner berpeluang untuk membangun pilar-pilar karisma yang akan membuat dia 
bisa sempurna untuk disebut sebagai pemimpin yang karismatik. Jadi, visioner 
adalah persyaratan minimal bagi seorang pemimpin yang diharapkan oleh bangsa 
Indonesia, dan mudah-mudahan pemilu 2019 dapat menghasilkan seorang pemimpin 
(Presiden) yang visioner dan sekaligus karismatik.

Hal ini sangat perlu di ciptakan untuk menghadapi perlawanan yang sengit dari 
kaum kapitalis neolibiberal yang kini mendominasi pasar dunia, termasik di 
NKRI. Ini tercermin dalam era kekuasaan rezim-rezim ``reformasi``sampai 
sekarang ini. Oeh karena itulah sungguh relevan jika tema melawan 
Neoliberalisme harus dijadikan tema pokok dalam menyongsong pemilu 2019.
Apakah Neoliberlaisme itu ?

Neoliberlisme  adalah doktrin pasar yang tidak terkontrol, dalam konteks ini 
Neolibralisme berpendapat bahwa; Kemakmuran itu timbul dari kehendak individu 
atau kelompok, dan berpendapat bahwa untuk mencapai kemakmuran, Rakyat harus 
menunggu terjadinya peresapan kebawah dari kemakmuran para individu yang 
berkuasa dan bermodal besar, yang berlomba-lomba mengejar keuntungan bagi 
mereka sendiri; dalam persaingan pasar bebas yang brutal, bukan persaingan 
bebas yang klasik menurut teori kapitalisnya Adam Smith yang disebut invisible 
hand (tangan gaib)-nya Adam Smith, Invisible hand-nya  Adam Smith hanya akan 
muncul dalam persaingan bebas pasar sempurna, yang mengutamakan kebijksanaan 
dan kearifan yaitu : ``Survival of the wisest``, bukan ``survival of the 
fittes`` yaitu : dalam bersaing ``siapa yang menang  bersaing, adalah yang 
benar`` Dengan cara apa dan bagaimana bisa menang bersaing, tidak dipersoalkan. 
Sistem ``survival of the fittes``yang dipraktekan oleh kaum kapitalis 
neoloberal inilah yang harus kita tentang!!!

Demokrasi ekonomi yaitu die ekonomi Pancasila adalah merupakan tekat politik 
khusus dari UUD 1945 naskah asli. Pelaksanaannya menghendaki  strategi khusus, 
yaitu ``mencapai pertumbuhan ekonomi melalui pemerataan kegiatan pembangunan`` 
(GBHN), sebagai pembedaan dengan strategi konvensional utopis yang absolut 
yaitu ``mencapai pertumbuhan ekonomi dan menunggu perembesan ke bawah, yang 
sekaligus dapat diartikan strategi tak langsung dan pasif, jika ditunjau dari 
sudut pandang kepentingan usaha kecil dan mrngngah.

Sistem Neolib inilah yang sekarang diparaktekan di NKRI  oleh rezim-rezim 
´´Reformasi`` yang silih berganti, yang 100% bermuatan sifat anti 
ekologi-dalam, dan anti Pancasila, dalam struktur-struktur  sosial dan 
ekonomis, ini termanifestasikan dalam bentuk seperti : >>exploitation de 
l´homme par l´homme<< (penghisapan manusia atas manusia)  yang tercermin dalam 
sistem penjualan buruh murah bangsa Indonesia (baca:perbudakan model baru) yang 
antara lain termanifestasikan dalam bentuk TKI/TKW, korupsi besar-besaran yang 
didukung oleh budaya KKN ciptaan orde baru, selain itu juga melakukan perusakan 
genetika sumber-sumber daya alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia, yang 
tercermin dalam penomena penggundulan hutan lindung kawasan Gunung Slamet, 
dalam pelaksanaan proyek  infrastruktur dalam konteks  Pembangunan Listrik 
Tenaga Panas (PLTP ) Baturra den Gunung Slamet, perampasan lahan pertanian, 
disulap menjadi bandara seperti di Sukamulya Majalengka dan di Kulonprogo dan 
perampasan lahan pertnian di sekitar gunung Kendeng yang  dirusak sumber 
airnya, demi kepentingan  pabrik semen, yang di amini oleh rezim-rezim 
``informasi``.
Karena pelaku-pelaku ekonomi yang bebas ini, akan menyebabkan terjadinya suatu 
kesejangan  yang menyolok antar peserta ekonomi yang kaya dan yang miskin. 
Sering dikiaskan bukan invisible hand yang muncul, tapi visible hand-lah yang 
muncul. Dalam konteks ini sesama pelaku neoliberal melakukan persaingan yang 
brutal diantara mereka. Jadi sungguh relevan jika kita mengatakan bahwa sistem 
ekonomi neoliberal adalah anti Pancasila. Oleh karena itulah, sistem ekonomi 
neoliberal di NKRI harus ditinggalkan!!!
Sekarang pertanyaannya adalah : Mengapa kita tidak memiliki Fiksi yang yang 
bagus, yang dapat menggerakkan emajinasi pikiran kita untuk menggunakan akal 
sehat dan menggunakan kesempatan yang membayangkan kehidupan yang ideal yaitu 
masyarakat yang sempurna adil dan makmur (sosialis Indonesia) sebagai makhluk 
yang bebas dan berdaulat?

Padahal ada budaya yang populer, yang  telah melakukan trobosan ini; dalam 
bentuk melawan bencana pasca  penjahahan kolonialisme Belanda, dalam bentuk 
perang kemerdekaan 1945-1949, dan  bencana pembantaian massal kekuasaan rezim 
Orde baru dalam gerakkan reformasi 1998.

Budaya pop terobosan dengan ide ini telah menhasilkan Keruntuhan dipihak 
penjajah kolonialisme Belanda, dan penguasa kediktatoran militer fasir Orde 
baru selama 32 tahun lamanya. Tetapi kita sebagai makhluk hidup yang 
rasional,mengapa tidak boleh memiliki kemampuan untuk memberikan kehidupan yang 
ideal yaitu masyarakat yang sempurna, yaitu masyarakat Indonesia yang adil dan 
makmur atau sosialime Indonesia, yang diharpkan oleh Proklamasi kemerdekaan 
Indonesia 17 Agustus 1945 yang harus ditinggalkan ? dan diganti dengan budaya 
ekonomi mirajnomic?; seperti yang dikemukakan ole Pak KH  Ma’ruf Amin.

Dalam konteks ini saya berpendapat : BACK TO THE BASICS !

Artinya artinya kembali pada demokrasi ekonomi, yaitu ekonomi Pancasila yang 
berdasarkan pada UUD 45 yang jelas-jelas anti imperilisme,neoliberalisme dan 
feodalisme, yang dalam mkonteks ini adalah Pasal 33 UUD 45.

Tapi mengapa kita harus meninggalkan ekonomi Pancasila, seperti yang sudah  
saya utarakan diatas, dan banting stir menuju pada Ekonom Syariah, yang oleh 
Pak HK Ma’ruf Amin disebut ekonomi sistem mirajnomic.
Oleh karena itu sungguh relevan jika saya ajukan pertanyaan: Quovadis pak KH 
Ma’ruf Amin akan mengarahkan NKRI jika nantinya menang sebagai Wakil Presiden 
NKRI?.

Roeslan.

Von: Sunny ambon

Apakah dengan diterapkan ilmu ekonomi syariah maka ekonomi Indonesia menjadi 
baik?
https://koransulindo.com/maruf-amin-optimistis-ekonomi-indonesia-membaik/

Ma’ruf Amin Optimistis Ekonomi Indonesia Membaik

4 Oktober 2018
   
   -   

Koran Sulindo – Calon wakil presiden nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin menyebut 
mirajnomic  sebagai salah satu cita-citanya apabila terpilih pada Pilpres 2019 
mendatang.

Istilah mirajnomic kata Ma’ruf, ekonomi Indonesia 2024 sudah lepas landas dan 
lebih baik.

“‎Tidak isra (jalan di tempat) terus. Saya optimistis dengan  ekonomi miraj, 
Indonesia akan lebih maju,” kata Maruf di hadapan ratusan peserta doa bersama 
untuk Sulawesi Tengahp, di Ponpes Al Muhajirin, Purwakarta, Jawa Barat, Rabu 
(3/10).

Ma’ruf berjanji, jika terpilih mendampingi Jokowi, dirinya akan bekerja untuk 
mengentaskan kemiskinan, meningkatkan pendidikan dan layanan kesehatan.  “Hal 
ini sebagai fardhu ain, atau sesuatu yang wajib dilakukan,” kata Ma’ruf.

Ma’ruf mengajukan arus baru ekonomi kerakyatan, ekonomi keumatan, dan ekonomi 
berkeadilan yang menerapkan sila kelima Pancasila. Dengan demikian, kesenjangan 
antara kaya dan miskin bisa dihilangkan.

“Bukan berarti kita harus melemahkan yang kuat. Tapi menguatkan yang lemah 
melalui kemitraan dengan yang kuat, sehingga semuanya sama-sama kuat,” kata 
Maruf.

Ia juga akan menekan kesenjangan antara pusat dan daerah. “Jangan ada lagi 
daerah tertinggal, semua daerah harus maju,” ujar Ma’ruf.

Ma’ruf melanjutkan, Jokowi sudah meletakkan pondasi dengan membangun 
infrastruktur dan konektivitas. Termasuk cita-cita menekan disparitas produk 
nasional dengan global. Karenanya, produk Indonesia ke depan harus lebih 
kompetitif, dan bernilai tambah.

Contohnya coklat di Sulawesi Selatan cuma Rp 1.000, dibawa ke Singapura, dan 
diolah lalu dijual lagi ke Indonesia menjadi Rp 20.000.

“Besok, selisih yang Rp 19.000 harus diberikan kepada rakyat sendiri.‎ Kopi 
juga begitu. Nilai tambah ini harus diberikan kepada rakyat Indonesia. Saya 
akan terus membantu untuk menciptakan itu,” ucapnya.

Untuk itu, diperlukan sumber daya manusia yang andal melalui pendidikan. “Saya 
mohon doa, restu, dukungan, karena saya akan hijrah dari jalur kultural ke 
jalur struktural. Mudah-mudahan bersama Pak Jokowi bisa terpilih di pilpres 
mendatang,” katanya.

Pada bagian lain sambutannya Ma’ruf Amin mengaku banyak pihak yang menyindirnya 
karena dianggap sudah tua namun bersedia menjadi pendamping Joko Widodo untuk 
mengikuti Pemilu Presiden 2019.

Di hadapan Majelis Dzikir Hubbul Wathon dan Kyai Kampung yang mengikuti acara 
doa bersama untuk Sulawesi Tengah, Rabu (3/10), Kiai Maruf memberikan 
jawabannya.

Kata Kiai Ma’ruf, Jokowi tahu bahwa dirinya sudah berumur tua. Begitupun 
kebanyakan masyarakat. Tetapi, Jokowi tetap mengangkat Ma’ruf sebagai wakilnya.

“Ada yang bilang sudah tua, sudah bau tanah, masih mau jadi cawapres. Saya jadi 
teringat sebuah cerita,” kata Ma’ruf.

Alkisah, ada seorang yang sudah berumur tua menanam pohon. Aksi itupun mendapat 
teguran banyak orang. Yang menegur menyatakan, kenapa sudah tua, hidupnya sudah 
tak lama lagi, tapi tetap menanam pohon. Toh buahnya takkan bisa diambil 
hasilnya oleh orang tua itu.

“Tapi orang tua itu menjawab. Saya menanam pohon ini bukan untuk saya makan. 
Tapi untuk generasi berikutnya,” kata Kiai Maruf.

“Begitupun dengan kondisi saya. Saya sudah memakan buah hasil tanaman kakek dan 
orang tua saya. Maka saya bersedia menjadi wakil presiden karena mau membuat 
sesuatu bagi generasi yang akan datang,” kata dia.
‎Ma’ruf bersedia mendampingi Jokowi adalah melihat kualitas dirinya sebagai 
seorang pemimpin. Kiai Maruf mengatakan, mudah saja bila Jokowi hendak 
mengangkat calon wakil presiden dari kalangan profesional maupun politisi.
Namun Jokowi justru memilih dirinya sebagai seorang kyai dan santri. "Beliau 
melihat saya sebagai kyai dan santri. Karena beliau memang mencintai kyai dan 
santri," katanya.
“Beliau banyak diberikan isu negatif. Kemarin saya mau foto bareng dengan 
beliau. Pas mau foto, saya tanya beliau dimana. Ternyata Pak Jokowi lagi salat 
Ashar. Kaget saya, kalah kyai sama Pak Jokowi. Akhirnya saya tunggu foto dulu 
baru selesainya saya salat. Kagum saya sama beliau,” imbuhnya. [CHA]

Kirim email ke