https://tirto.id/kasus-hoaks-ratna-sarumpaet-awalnya-dibela-lalu-disudutkan-c42l
Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet:
Awalnya Dibela, Lalu Disudutkan
Aktivis Ratna Sarumpaet tiba di Mapolda Metro Jaya untuk menjalani
pemeriksaan di Jakarta, Kamis (4/10/2018). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho
Gumay
<https://tirto.id/kasus-hoaks-ratna-sarumpaet-awalnya-dibela-lalu-disudutkan-c42l>
Aktivis Ratna Sarumpaet tiba di Mapolda Metro Jaya untuk
menjalani pemeriksaan di Jakarta, Kamis (4/10/2018). ANTARA
FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Oleh: M. Ahsan Ridhoi - 6 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
/Ratna Sarumpaet sempat dibela habis-habisan politikus kubu Prabowo.
Semua berubah setelah dia mengaku bohong dan kini malah disudutkan./
tirto.id <https://tirto.id/> - Setelah Ratna Sarumpaet mengaku
berbohong, Kamis (4/10/2018) sore, para politikus di kubu Prabowo
Subianto-Sandiaga Uno yang semula membela Ratna mati-matian, kini
berbalik menyudutkan.
Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Fadli Zon misalnya, menganggap dirinya
sebagai korban kebohongan Ratna. Dia juga menolak disebut melanggar
etika anggota dewan karena turut menyebarkan kabar dusta ke publik.
"Kami yang dirugikan kok," kata Fadli di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta
Pusat, Jumat (5/10/2018).
Fadli bahkan menyebut perkara Ratna ini adalah konspirasi yang
dijalankan pihak tertentu untuk menyudutkan Prabowo-Sandi dan tim dalam
konteks pemilihan presiden. Ia meminta kepolisian memeriksa kasus Ratna
sampai tuntas.
"Kami juga ingin tahu dalangnya. Interogasilah apa yang terjadi. Buka
itu /WhatsApp/-nya segala macam. Kami siap dikonfrontasi kok."
Permintaan Fadli ini berbanding terbalik dengan sikapnya ketika awal
mula kasus Ratna mencuat. Ia menjadi salah satu orang yang dengan segera
menyebarkan kabar penganiayaan terhadap Ratna di media sosial meski
bukan yang pertama.
Selasa (2/10/2018) pukul 12.50 WIB, Fadlimencuit lewat /Twitter/
<https://twitter.com/fadlizon/status/1047000756325367808>: "Jahat dan
biadab sekali," soal kasus Ratna.
Politikus Gerindra lain, Rachel Maryam terlebih dulu mencuit di platform
ciptaan Jack Dorsey, Noah Glass, Biz Stone, dan Evan Williams ini. Ia
mengatakan Ratna dianiaya pada 10.51 WIB.
Bukan cuma Fadli Zon, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, yang juga ikut
'mempabrikasi' kasus penganiayaan Ratna di media sosial, kini pun
berbalik arah.
Kepada wartawan di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta Pusat, hari ini, Fahri
menceritakan versi lain mulai tersebarnya kabar penganiayaan terhadap
Ratna. Menurutnya, Ratna menghubungi Fadli Zon dan menyatakan telah
mengalami penganiayaan seraya menunjukkan foto wajahnya dalam kondisi
lebam.
Baca juga:
* Deretan Hoaks Ratna Sarumpaet dan Ancaman Pidana yang Memburunya
<https://tirto.id/deretan-hoaks-ratna-sarumpaet-dan-ancaman-pidana-yang-memburunya-c4xp>
Setelah itu Fadli Zon melapor ke Prabowo Subianto dan Amien Rais. Hanya
saja, dua orang tersebut tidak langsung percaya dan meminta bertemu
langsung dengan Ratna.
Dalam pertemuan itulah, menurut politikus PKS ini, Ratna meyakinkan
Prabowo dan Amien telah mengalami penganiayaan. Atas pengakuan itu semua
orang lantas percaya dan terjadilah konferensi pers di Kertanegara pada
malam harinya.
"Pertanyaannya: yang berbohong siapa? Ratna, kan?" kata Fahri.
Sengaja Korbankan Ratna?
Pada Selasa (3/10/2018) malam, muncul dugaan kalau sebetulnya Ratna
adalah penyusup yang dititipkan tim Jokowi-Ma'ruf untuk menghancurkan
Prabowo-Sandi dari dalam. Hal ini dinyatakan Dahnil Anzar, Koordinator
Juru Bicara BPN Prabowo-Sandiaga.
Katanya: "kami semua akan memastikan tim ini bersih dari mereka yang mau
merusak Pak Prabowo dan Bang Sandi dari dalam" tanpa menyebut dengan
tegas nama Ratna.
Mengenai poin ini, Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf Abdul Kadir Karding
menilai kubu Prabowo-Sandi sebetulnya sedang menjalankan
strategi/playing victim./ Menurutnya itu cara paling "indah" buat
dilakukan.
"Pertama minta maaf, kedua menuduh bahwa itu permainan kami. Memang cara
berkelit paling indah ya itu [/playing victim/]," kata Karding kepada
/Tirto/, Jumat (5/10/2018).
Karding berkata, ada sejumlah alasan kenapa tuduhan itu tidak masuk
akal. Pertama, Ratna dan Prabowo sudah punya hubungan dekat sejak Pilgub
DKI Jakarta 2012. Mereka sama-sama pendukung Jokowi-Ahok.
Kedekatan terus berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya. Malah menurut
Karding sebelum tim pemenangan Prabowo-Sandi terbentuk Ratna sudah
menjadi ujung tombak Prabowo untuk meraup simpati massa selain Neno
Warisman, terutama di kalangan ibu-ibu melalui gerakan #2019GantiPresiden.
Ratna juga getol mengkritik kebijakan Jokowi, dan itu yang menurut
Karding, tak bakal dilakukan "orang Jokowi". Menurutnya tidak logis jika
Ratna dikatakan sebagai penyusup atau sengaja membohongi capres nomor
urut 02.
"Sangat kasihan karena Ratna yang dikorbankan untuk permainan politik
mereka. Dia perempuan, disuruh jadi corong, terus disuruh bersih-bersih
sendirian ketika skenario ini gagal," katanya seperti bersimpati.
Baca juga:
* Ratna Sarumpaet di antara HAM, Teater, dan Tuduhan Makar
<https://tirto.id/ratna-sarumpaet-di-antara-ham-teater-dan-tuduhan-makar-c4oz>
Sementara itu, Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf Arsul Sani menilai segala
narasi yang dibangun kubu Prabowo-Sandi sebelum dan sesudah Ratna
mengaku, adalah strategi propaganda ala Rusia. Propaganda jenis ini
dikenal dengan sebutan /firehose of the falsehood/ (PDF
<https://www.rand.org/content/dam/rand/pubs/perspectives/PE100/PE198/RAND_PE198.pdf>).
Teknik propaganda ini, menurut Arsul dalam keterangan tertulis yang
diterima /Tirto/, punya ciri khas menebar kebohongan berkali-kali. Apa
tujuannya? Tidak lain membangun ketakutan publik dengan tujuan
mendapatkan keuntungan politik sekaligus pada saat yang bersamaan
menjatuhkan lawan.
"Sebelumnya dikembangkan pemberitaan tentang pembakaran mobil Neno
Warisman yang setelah diselidiki ternyata bukan dibakar oleh orang lain,
tapi terjadi korsleting pada mobilnya," kata Arsul.
Infografik CI Kabar Bohong
Efek Politik
Pakar Politik dari UGM, Kuskridho Ambardhi, menilai adu narasi kedua
kubu sebelum dan sesudah kasus Ratna sama-sama merugikan mereka sendiri,
meski derajatnya memang lebih besar pada kubu Prabowo-Sandi.
"Ketika kebohongan itu terbongkar, Prabowo-Sandi dan orang-orangnya
sudah dianggap tidak kredibel lagi oleh publik," kata pria yang akrab
disapa Dodhi ini kepada /Tirto/, Jumat (5/10/2018).
Langkah kubu Prabowo-Sandi menghalau arus serangan dengan menyudutkan
Ratna dan mengeluarkannya dari tim koalisi juga semakin memperburuk
citra, alih-alih memperbaiki persepsi publik.
"Mereka akan erat dibilang sengaja mengorbankan temannya demi menghalau
kerugian strategis."
Pelaporan Ratna ke pihak kepolisian, kata Dodhi, juga bisa membuat
pasangan penantang itu dianggap sengaja mengkriminalisasi perempuan
setelah memanfaatkannya dalam strategi politik yang ternyata gagal.
"Memang cukup dilematis. Tapi, langkah menyudutkan Ratna memang yang
paling strategis saat ini daripada terus disebut koalisi bohong,"
tambahnya.
Sementara bagi kubu petahana, kerugian dari kasus Ratna ini adalah
menguatkan kembali anggapan kalau pemerintahan Jokowi memang benar-benar
represif.
"Di akar rumput sangat banyak yang percaya, mereka menelan mentah-mentah
info itu," tukas Dodhi.
Baca juga artikel terkait KASUS RATNA SARUMPAET
<https://tirto.id/q/kasus-ratna-sarumpaet-qvh?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya M. Ahsan Ridhoi
<https://tirto.id/author/mahsan?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Reporter: M. Ahsan Ridhoi
Penulis: M. Ahsan Ridhoi
Editor: Rio Apinino
Tadinya dibela, kini disudutkan. Demikianlah nasib Ratna Sarumpaet.