BERJUANG SAMPAI TITIK MALU PENGHABISAN
Eko
Kuntadhi<https://www.blogger.com/profile/18038130295833043739>#EkoKuntadhi
<http://www.ekokuntadhi.com/search/label/%23EkoKuntadhi?max-results=7>Bali
<http://www.ekokuntadhi.com/search/label/Bali?max-results=7>IMF
<http://www.ekokuntadhi.com/search/label/IMF?max-results=7>World Bank
<http://www.ekokuntadhi.com/search/label/World%20Bank?max-results=7>Oktober
06, 2018
<http://www.ekokuntadhi.com/2018/10/berjuang-sampai-titik-malu-penghabisan.html>
http://www.ekokuntadhi.com/2018/10/berjuang-sampai-titik-malu-penghabisan.html
Bali
<https://3.bp.blogspot.com/-oLpMeBgi2Ig/W7hxQgTohFI/AAAAAAAACAA/AEV1-P7P2Rw--TG8wXlOR9bPt7_itXziwCLcBGAs/s1600/Annual%2BMeeting%2BBali.jpg>
IMF-World Bank
Setelah kedok hoaxnya atas kasus Ratna Sarumpaet dibuka ke publik, para
pendukung Mr. P mengalihkan tembakan ke pertemuan IMF-World Bank yang
akan diselenggarakan di Bali. Mereka menuntut pertemuan kelas dunia
tersebut dibatalkan.
Dibatalkan? Mereka pikir pertemuan IMF-WB ini kayak arisan emak-emak?
Serangan ini lebih terkesan untuk menutupi malu ketimbang sebagai kritik
sehat.
Apa yang mereka tuntut? Biaya pertemuan tersebut Rp885 miliar. Kata
mereka cuma buang-buang duit doang. Apalagi Lombok dan Bali baru saja
terkena bencana. Disusul Palu dan Donggala.
Iya, anggaran yang disiapkan pemerintah untuk perhelatan tersebut memang
Rp885 miliar. Biayanya untuk vanue, penyelenggaraan, promosi acara
sampai keamanan. Sementara penginapan, makan, hotel, transportasi
seluruh peserta ditanggung masing-masing.
Artinya duit itu bukan buat mengongkosi orang asing beraktifitas di
Indonesia. Tapi sebagai tuan rumah, kita perlu melayani menyiapkan diri
dengan baik.
Anggaran yang keluar dari pemerintah juga akan berputar di Indonesia.
Bukan terbang ke luar negeri. Secara ekonomi dari anggaran itu saja
sudah memberikan dampak bagi rakyat.
Belum lagi pengeluaran yang akan dibawa oleh 32 ribu delegasi dari 189
negara. Mulai dari kepala negara, Menteri Keuangan, Gubernur Bank
Sentral sedunia, pengusaha kelas kakap, sampai eksekutif perusahaan
semua tumplek.
Kalau orang jenis VVIP yang datang, jangan disamain sama liburan kelas
kambing. Yang tidurnya di mushollah dan numpang mandi di toilet mall.
Tapi sibuk selfie-selfie di depan Hard Rock Hotel, buat diupload di FB.
Kalau kelas VVIP yang datang, gak cukup sewa satu kamar hotel. Biasanya
mereka datang dengan asisten, sekretaris, atau ajudan. Coba hitung saja
berapa biaya nginap, makan, transportasi, hiburan plus beli oleh-oleh.
Semua duit itu dibawa mereka dari luar negeri, untuk dibelanjakan
disini. Yang akan menikmati ya, Pak Made yang buka toko Souvenir di
Kuta. Atau Sugiono, yang membuka bisnis rental mobil di Legian.
Hitungan kasar, diperkirakan duit yang akan dibelanjakan peserta bisa
mencapai Rp1,5 triliun. Sedangkan duit untuk perhelatan yang disiapkan
pemerintah Rp885 miliar. Itu juga baru kepakai separuh lebih sedikit.
Yang harus diingat, semua duit itu berputar di Indonesia. Dampaknya ya,
buat rakyat Indonesia juga. Minimal buat masyarakat Bali.
Dari event ini saja ekonomi Bali menggeliat luar biasa. Pertumbuhan yang
tadinya 5,9% langsung melonjak jadi 6,5%. Bukan hanya Bali. Masyarakat
lain juga kecipratan. Ekonomi di Bayuwangi juga meningkat. Bahkan Lombok
yang habis terkena gempa juga akan terbantu. Paket wisata menuju ke
Mandalika atau Gili Trawangan dan Gili Air diserbu peserta.
Sebagian peserta akan menghabiskan sisa waktunya untuk berwisata. Mereka
menyebar ke Lombok, Sumatera Utara, Jogjakarta, Labuan Bajo, sampai Raja
Ampat. Disana gak mungkin mereka cuma bengong doang. Pasti belanja
belanji. Pasti keluarkan duit. Siapa yang akan mendapat duitnya? Ya,
rakyat Indonesia!
Ketika Singapura mengadakan event serupa pada 2006, dampak langsung yang
dibawa peserta kepada ekonomi Singapura mencapai 170 juta dolar AS.
Padahal dari sisi peserta pertemuan di Singapura jauh lebih sedikit
dibanding dengan IMF-WB Meeting di Indonesia. Dalam sejarahnya,
pertemuan ini merupakan yang terbesar. Bahkan jauh lebih besar dari
pertemuan di Davos.
Kita belum bicara dampak gak langsungnya. Ingat. Disana berkumpul
puluhan ribu petinggi perusahaan kelas dunia. Akan ada ribuan peluang
kerjasama bisa dihasilkan. Kesempatan ini membuka peluang untuk
dimanfaatkan pengusaha Indonesia.
Belum lagi kesempatan pemerintah Indonesia mengundang investor asing
masuk. Pemerintah bisa menjadikan ajang ini sebagai promosi menawarkan
keuntungan ekonomis. Nah, para investor asing itu akan gelontorkan
duitnya, bikin pabrik, ikut membangun infrastruktur, bikin usaha.Membuka
lapangan kerja. Duit berputar di Indonesia. Pajak masuk.
Tapi ada status twitter yang ditulis Hasan Haikal, yang menuntut acara
tersebut dibatalkan karena hanya berisi canda, tawa, pesta.
Lho, acara meeting IMF-WB disamain dengan pesta ulang tahun ABG? Dia
pikir bule-bule yang datang ke Bali untuk acara ini sekelas bule gembel
di Jalan Jaksa? Kayanya ustad ini butuh paket data, biar lebih terbuka
isi kepalanya.
Kalau seorang Hasan Haikal yang ngomong ngelantur, kayaknya kita maklum.
Ekonomi bukan bidang dia. Tapi ada juga ekonom seperti Rizal Ramli yang
minta pertemuan ini dibatalkan. Mungkin karena dia harus menutup malu
sudah ikut-ikutan menebar hoax Ratna Saumpaet. Hingga terpaksa pakai
jurus dewa mabuk.
Yang paling aneh adalah, para pengkritik itu membenturkan acara ini
dengan kondisi gempa di Palu dan Donggala. Mereka yang kemarin
mengabaikan korban gempa tapi malah asyik menyebar hoax, sekarang bicara
soal korban gempa?
"Kalau malu gak ketulungan, mending wajahnya dioperasi plastik aja
ketimbang malah nyinyir" ujar Abu Kumkum. Saya setuju.
Yang gak mereka hitung, satu-satunya jalan untuk memulihkan kondisi
pasca gempa adalah aktivitas ekonomi harus kembali normal. Korban gempa
tidak mungkin pulih hanya dengan bantuan. Kehidupan mereka akan bangkit
apabila ekonomi mereka berputar kembali.
Nah, pertemuan ini juga bisa mendorong investor asing untuk menanamkan
modalnya membangun kembali Palu dan Donggala. Memulihkan ekonomi yang
sempat hancur akibat bencana.
Jadi justru disaat inilah pertemuan IMF-WB itu sangat berarti bagi
Indonesia. Tapi kenapa malah diminta batal? Aneh.
"Ingat slogan mereka, mas. Berjuang sampai titik malu penghabisan," ujar
Abu Kumkum lagi.
Husss...
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com