Mau dia wartawan, sejarawan, atau pun hewan, yang pastipenulis artikel di
bawah kelihatan bangga punya mental jongos.Jongos kelas kambing yang begitu
gembira bisa melayani
juragan kelas VVIP yang bertamasya ke kampungnya diiringi
rombongan dayang-dayang dan sederet kacung. Perjuangan
revolusi mental jongos dalam melayani juragan-juragan penjajah
gaya baru.
"Belum lagi pengeluaran yang akan dibawa oleh 32 ribu delegasi
dari 189 negara. Mulai dari kepala negara, Menteri Keuangan,
Gubernur Bank Sentral sedunia, pengusaha kelas kakap, sampai
eksekutif perusahaan semua tumplek.
Kalau orang jenis VVIP yang datang, jangan disamain sama liburan kelas kambing.
Yang tidurnya di mushollah dan numpang mandi
di toilet mall. Tapi sibuk selfie-selfie di depan Hard Rock Hotel, buat
diupload di FB.
Kalau kelas VVIP yang datang, gak cukup sewa satu kamar hotel.
Biasanya mereka datang dengan asisten, sekretaris, atau ajudan." ...
--- jetaimemucho1@... wrote:
Nah, inilah suara sumbang para antek imperialisme serta semua lembaga
keuangannya: IMF dan Bank Dunia.... Kasihan sekali melihat orang-orang yang
"buta huruf", dan dungu seperti ini. Dan malas membaca dan belajar sejarah yang
benar.... O salah saya!! Mereka sih belajar sejarah,, tapi sudah tentu dari
perspektif yang mana??? Penulis ini wartawan atau sejarawan atau apa???
Berjalan dengan kepalanya di bawah? Tidak perlu jauh-jauh, baca saja tulisan
Kwiek Gian Gie, seseorang yang termasuk elit tapi otaknya jalan, bukan penjilat
pantat Imperialisme serta lembaga keuangannya dan menjunjung kepentingan bangsa
Indonesia.
Cari Pekerjaan Makin Sulit, Ribuan Orang 'Serbu' 49 BUMN
VIVA – Enam ribu pelamar kerja 'menyerbu' booth BUMN Career Opportunity di
arena Indonesia Business and Development atau IBD Expo 2018 di Grand City
Surabaya, Jawa Timur, pada Kamis 4 Oktober 2018.
Mereka berharap, menempati posisi dalam 6.036 lowongan kerja yang tersedia di
49 BUMN.BUMN Career Opportunity adalah rangkaian dari IBD Expo 2018 yang
digelar di Grand City Surabaya selama empat hari, Rabu-Sabtu, 3-6 Oktober
2018.Begitu lowongan kerja dibuka pada Kamis pagi, ribuan pencari kerja
langsung menyerbu. "Antusiasme masyarakat bagus," kata Ketua pelaksana IBDExpo
2018, Achmad Fachrodji.Tingginya antusiasme masyarakat di acara BUMN Career
Opportunity terlihat dari panjangnya antrean di pintu masuk venue dan ramainya
kondisi sejumlah stand BUMN........
Bank Dunia akan Kucurkan Utang Rp13,86 T untuk Enam Proyek RI
Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 06/10/2018 09:34 WIBIlustrasi utang. (CNN
Indonesia/Adhi Wicaksono)Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Dunia akan mengucurkan
pinjaman bernilai US$924,6 juta atau setara Rp13,86 triliun (kurs Rp15 ribu per
dolar AS) untuk program pembangunan di Indonesia. Menurut sumber CNNIndonesia
di Kementerian Keuangan, Jumat (5/10) ada enam program pembangunan yang akan
dibiayai dengan utang Bank Dunia tersebut.
Pertama, peningkatan pengelolaan limbah padat di kota-kota besar di Indonesia.
Untuk program ini, Bank Dunia berkomitmen memberi pembiayaan sebesar US$100
miliar atau 52 persen dari total kebutuhan proyek senilai US$192 miliar.
Dalam program ini, Kementerian Keuangan ditunjuk pemerintah sebagai pihak
peminjam. Sedangkan pelaksanaan program akan dilaksanakan oleh Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Ayo utang terus!!! Nah, ini memang yang diinginkan orang-orang pro kapitalisme
dan pro imperialis!!!!
On Sunday, October 7, 2018 6:33 AM, ChanCT wrote:
BERJUANG SAMPAI TITIK MALU PENGHABISAN
Eko Kuntadhi #EkoKuntadhi Bali IMF World Bank Oktober 06, 2018
http://www.ekokuntadhi.com/2018/10/berjuang-sampai-titik-malu-penghabisan.html
| |
| IMF-World Bank |
Setelah kedok hoaxnya atas kasus Ratna Sarumpaet dibuka ke publik, para
pendukung Mr. P mengalihkan tembakan ke pertemuan IMF-World Bank yang akan
diselenggarakan di Bali. Mereka menuntut pertemuan kelas dunia tersebut
dibatalkan.
Dibatalkan? Mereka pikir pertemuan IMF-WB ini kayak arisan emak-emak?
Serangan ini lebih terkesan untuk menutupi malu ketimbang sebagai kritik
sehat.
Apa yang mereka tuntut? Biaya pertemuan tersebut Rp 885 miliar. Kata mereka
cuma buang-buang duit doang. Apalagi Lombok dan Bali baru saja terkena bencana.
Disusul Palu dan Donggala.
Iya, anggaran yang disiapkan pemerintah untuk perhelatan tersebut memang
Rp885 miliar. Biayanya untuk vanue, penyelenggaraan, promosi acara sampai
keamanan. Sementara penginapan, makan, hotel, transportasi seluruh peserta
ditanggung masing-masing.
Artinya duit itu bukan buat mengongkosi orang asing beraktifitas di
Indonesia. Tapi sebagai tuan rumah, kita perlu melayani menyiapkan diri dengan
baik.
Anggaran yang keluar dari pemerintah juga akan berputar di Indonesia. Bukan
terbang ke luar negeri. Secara ekonomi dari anggaran itu saja sudah memberikan
dampak bagi rakyat.
Belum lagi pengeluaran yang akan dibawa oleh 32 ribu delegasi dari 189
negara. Mulai dari kepala negara, Menteri Keuangan, Gubernur Bank Sentral
sedunia, pengusaha kelas kakap, sampai eksekutif perusahaan semua tumplek.
Kalau orang jenis VVIP yang datang, jangan disamain sama liburan kelas
kambing. Yang tidurnya di mushollah dan numpang mandi di toilet mall. Tapi
sibuk selfie-selfie di depan Hard Rock Hotel, buat diupload di FB.
Kalau kelas VVIP yang datang, gak cukup sewa satu kamar hotel. Biasanya
mereka datang dengan asisten, sekretaris, atau ajudan. Coba hitung saja berapa
biaya nginap, makan, transportasi, hiburan plus beli oleh-oleh. Semua duit itu
dibawa mereka dari luar negeri, untuk dibelanjakan disini. Yang akan menikmati
ya, Pak Made yang buka toko Souvenir di Kuta. Atau Sugiono, yang membuka bisnis
rental mobil di Legian.
Hitungan kasar, diperkirakan duit yang akan dibelanjakan peserta bisa
mencapai Rp1,5 triliun. Sedangkan duit untuk perhelatan yang disiapkan
pemerintah Rp 885 miliar. Itu juga baru kepakai separuh lebih sedikit. Yang
harus diingat, semua duit itu berputar di Indonesia. Dampaknya ya, buat rakyat
Indonesia juga. Minimal buat masyarakat Bali.
Dari event ini saja ekonomi Bali menggeliat luar biasa. Pertumbuhan yang
tadinya 5,9% langsung melonjak jadi 6,5%. Bukan hanya Bali. Masyarakat lain
juga kecipratan. Ekonomi di Bayuwangi juga meningkat. Bahkan Lombok yang habis
terkena gempa juga akan terbantu. Paket wisata menuju ke Mandalika atau Gili
Trawangan dan Gili Air diserbu peserta.
Sebagian peserta akan menghabiskan sisa waktunya untuk berwisata. Mereka
menyebar ke Lombok, Sumatera Utara, Jogjakarta, Labuan Bajo, sampai Raja Ampat.
Disana gak mungkin mereka cuma bengong doang. Pasti belanja belanji. Pasti
keluarkan duit. Siapa yang akan mendapat duitnya? Ya, rakyat Indonesia!
Ketika Singapura mengadakan event serupa pada 2006, dampak langsung yang
dibawa peserta kepada ekonomi Singapura mencapai 170 juta dolar AS. Padahal
dari sisi peserta pertemuan di Singapura jauh lebih sedikit dibanding dengan
IMF-WB Meeting di Indonesia. Dalam sejarahnya, pertemuan ini merupakan yang
terbesar. Bahkan jauh lebih besar dari pertemuan di Davos.
Kita belum bicara dampak gak langsungnya. Ingat. Disana berkumpul puluhan
ribu petinggi perusahaan kelas dunia. Akan ada ribuan peluang kerjasama bisa
dihasilkan. Kesempatan ini membuka peluang untuk dimanfaatkan pengusaha
Indonesia.
Belum lagi kesempatan pemerintah Indonesia mengundang investor asing masuk.
Pemerintah bisa menjadikan ajang ini sebagai promosi menawarkan keuntungan
ekonomis. Nah, para investor asing itu akan gelontorkan duitnya, bikin pabrik,
ikut membangun infrastruktur, bikin usaha. Membuka lapangan kerja. Duit
berputar di Indonesia. Pajak masuk.
Tapi ada status twitter yang ditulis Hasan Haikal, yang menuntut acara
tersebut dibatalkan karena hanya berisi canda, tawa, pesta.
Lho, acara meeting IMF-WB disamain dengan pesta ulang tahun ABG? Dia pikir
bule-bule yang datang ke Bali untuk acara ini sekelas bule gembel di Jalan
Jaksa? Kayanya ustad ini butuh paket data, biar lebih terbuka isi kepalanya.
Kalau seorang Hasan Haikal yang ngomong ngelantur, kayaknya kita maklum.
Ekonomi bukan bidang dia. Tapi ada juga ekonom seperti Rizal Ramli yang minta
pertemuan ini dibatalkan. Mungkin karena dia harus menutup malu sudah
ikut-ikutan menebar hoax Ratna Saumpaet. Hingga terpaksa pakai jurus dewa
mabuk.
Yang paling aneh adalah, para pengkritik itu membenturkan acara ini dengan
kondisi gempa di Palu dan Donggala. Mereka yang kemarin mengabaikan korban
gempa tapi malah asyik menyebar hoax, sekarang bicara soal korban gempa?
"Kalau malu gak ketulungan, mending wajahnya dioperasi plastik aja ketimbang
malah nyinyir" ujar Abu Kumkum. Saya setuju.
Yang gak mereka hitung, satu-satunya jalan untuk memulihkan kondisi pasca
gempa adalah aktivitas ekonomi harus kembali normal. Korban gempa tidak mungkin
pulih hanya dengan bantuan. Kehidupan mereka akan bangkit apabila ekonomi
mereka berputar kembali.
Nah, pertemuan ini juga bisa mendorong investor asing untuk menanamkan
modalnya membangun kembali Palu dan Donggala. Memulihkan ekonomi yang sempat
hancur akibat bencana.
Jadi justru disaat inilah pertemuan IMF-WB itu sangat berarti bagi Indonesia.
Tapi kenapa malah diminta batal? Aneh.
"Ingat slogan mereka, mas. Berjuang sampai titik malu penghabisan," ujar Abu
Kumkum lagi.
Husss...