MENYEDIHKAN! Tiongkok Jual Murah Paket Wisata ke Bali, Ini Modusnya…
SENIN, 15 OCT 2018 10:17 | EDITOR : ALI MUSTOFA
https://radarbali.jawapos.com/read/2018/10/15/98685/menyedihkan-tiongkok-jual-murah-paket-wisata-ke-bali-ini-modusnya
paket murah, pariwisata bali, turis tiongkok, asita bali
<https://imageradar.jawapos.com/uploads/radarbali/news/2018/10/15/menyedihkan-tiongkok-jual-murah-paket-wisata-ke-bali-ini-modusnya_m_98685.jpeg>
JONGKOK: Dua wisatawan Tiongkok jongkok di Bandara Ngurah Rai sesaat
akan terbang ke negaranya./(Miftahuddin Halim/Radar Bali)/
Berita Terkait
* Siapkan Tujuh Destinasi Wisata, Bisa Raup Untung USD 60 Juta
<https://radarbali.jawapos.com/read/2018/02/24/52202/siapkan-tujuh-destinasi-wisata-bisa-raup-untung-usd-60-juta>
* Branding Bali Kuat, ASITA Dukung Pengembangan Destinasi New Bali
<https://radarbali.jawapos.com/read/2017/11/18/27567/branding-bali-kuat-asita-dukung-pengembangan-destinasi-new-bali>
*DENPASAR*– Bali selalu didengungkan menjadi destinasi wisata terbaik di
dunia. Tidak kalah dengan yang lain. Bahkan, kegiatan internasional
kerap dilaksanakan di Pulau Dewata ini.
Tapi, ada yang mengganggu akhir-akhir ini karena Bali murah bagi
wisatawan Tiongkok. Ada dugaan pariwisata Bali dijual sangat murah alias
“diobral” di Tiongkok.
Ironisnya, hal itu diakui beberapa tokoh pariwisata yang selama ini
menangani wisatawan Tiongkok.
Mulai Ketua Bali Liang (Komite Tiongkok Asita Daerah Bali) Elsye
Deliana, Wakil Ketua Bali Liang Bambang,
Sekretaris Bali Liang (Komite Tiongkok Nasional) Herman, Komite Tingkok
Nasional Chandra Salim dan Ketua Komite Tiongkok DPP Asita (Nasional)
Herry Sudiarto.
Elsye Deliana mengatakan, tidak bisa dipungkiri wisatawan Tiongkok doyan
berwisata ke Bali. Bahkan, kini wisatawan Tiongkok menduduki peringkat
pertama jumlah kunjungan paling tinggi.
Namun, dibalik itu ada praktik-praktik tak patut lantaran paket wisata
ke Bali di Tiongkok dijual dengan harga murah.
“Kasarnya begini ya, Bali itu dijual sangat murah di Tiongkok oleh agen
– agen tertentu. Sangat murah, bahkan semakin berlomba untuk lebih
murah,” jelasnya.
Ia menyebut fenomena ini sudah berlangsung sekitar 2 sampai 3 tahun di
Bali. Tahun-tahun terakhir sudah semakin parah.
Elsye mengatakan sebelumnya Bali dijual 999 RMB (Renminbi) atau sekitar
Rp 2 juta. Itu sudah termasuk tiket pesawat pulang pergi, makan dan
hotel lima hari empat malam.
“Coba dibayangkan, dengan uang Rp 2 juta orang Tiongkok sudah bisa ke
Bali, menginap di Bali 5 hari 4 malam dan sudah dapat makan,” kata Elsye.
Yang lebih parah lagi, adalah belakangan dijual lebih murah lagi.
Setelah angka 999 RMB atau Sekitar Rp 2 juta, kemudian turun menjadi 777
RMB sekitar Rp 1,5 juta.
Kemudian turun lagi menjadi 499 RMB atau sekitar Rp 1 juta dan sudah
sampai 299 RMB sekitar Rp 600 ribu.
“Coba dipikir, dengan Rp 600 ribu bisa dapat tiket ke Bali dan balik
lagi ke Tiongkok. Dapat makan dan hotel selama 5 hari 4 malam. Jadi
kualitasnya seperti apa,” tanyanya.
“Yang menjadi pertanyaan saat ini, kenapa sampai bisa dengan harga
seperti ini? Istilah kami zero tour fee (perjalanan biaya murah),”
sambungnya.
Selain itu, dikatakan, ada pengusaha dari Tiongkok yang membangun usaha
Art shop di Bali. Dengan jumlah yang sudah cukup banyak di Bali, toko –
toko ini memberikan subsidi wisatawan dengan biaya murah itu ke Bali.
Namun, mereka wajib untuk masuk ke toko – toko itu. “Ada subsidi dari
art shop besar yang punya beberapa di Bali. Subsidi ini yang bisa
membuat harga murah,” ungkapnya.
Wisatawan ini kemudian membeli barang – barang berbahan latex, seperti
kasur, sofa, bantal dan lainnya.
“Dengan alasan bahwa Indonesia penghasil karet, sehingga barangnya jauh
lebih murah. Padahal barang itu sebenarnya barang buatan Tiongkok juga,”
Kata Bambang Putra.
Ironisnya, dalam lima hari empat malam, selama empat hari hanya masuk
toko – toko milik orang Tiongkok juga.
Bahkan diduga pembayarannya juga dengan wechat (pola Tiongkok) dengan
system barcode.
“Jadi transaksinya berputar saja, datang ke Bali dari Tiongkok, belanja
ke Toko Tiongkok, kemudian system pembayaran masih ala Tiongkok,” ungkap
Elsye.
Uniknya lagi, ada yang mengambil barang di Bali, ada juga yang mengambil
barang di Tiongkok. “ Bali itu bagi mereka isinya hanya toko – toko yang
jual latex karena Indonesia penghasil karet,” imbuh Elsye.
*(rb/feb/mus/JPR)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com