*Ayo silahkan donkel mendonkel bisa juga bersepak-sepakan antara kalian.*

https://www.jawapos.com/nasional/politik/15/10/2018/ini-ciri-ciri-jenderal-yang-ingin-dongkel-tito-dari-kursi-kapolri


Ini Ciri-Ciri Jenderal yang Ingin Dongkel Tito dari Kursi kapolri

politik <https://www.jawapos.com/nasional/politik>

15/10/2018, 01:00 WIB | Editor: Dimas Ryandi

[image: Masinton PDIP]

Anggota Komisi III DPR RI Masinton Pasaribu menyebut ada skenario yang
dibangun agar Tito segera lengser dari kursi Kapolri. (Deynta/JawaPos.com)

Share this image

*JawaPos.com* - Kabar adanya skenario pelengseran Tito Karnavian dari
posisi Kapolri menuai tanggapan dari berbagai kalangan. Salah satunya
adalah Anggota Komisi III DPR Masinton Pasaribu.

Anak buah Megawati Soekarnoputri itu mencurigai adanya skenario yang
melibatkan oknum jenderal Polri dan oknum penyidik Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK).

Kecurigaan Masinton didasari dugaan bahwa saat Tito masih menjabat sebagai
Kapolda Metro Jaya, dia menerima uang dari pengusaha daging impor Basuki
Hariman (BH). Bahkan, kabar yang beredar menyebut dua penyidik KPK dari
Polri menyobek catatan keuangan Basuki tentang aliran uang ke pihak lain.

[image: Buku Merah] *Infografis Skandal Penyobekan Buku Merah
(Kokoh/JawaPos.com)*

"Saya menduga itu tidak lepas dari skenario permainan politik untuk
mendorong percepatan suksesi kepemimpinan di institusi Polri. Target
utamanya adalah untuk mengganti Jenderal Polisi Tito Karnavian dari jabatan
Kapolri," kata Masinton, Minggu (14/10).

Legislator PDIP itu juga menuturkan, salah satu celah untuk membusukkan
nama Tito adalah dengan memainkan isu korupsi. Menurutnya, isu itu tentu
menarik perhatian publik.

"Saya membacanya sebagai permainan kolaborasi segitiga, saling melempar
isu. Kolaborasi ini melibatkan kelompok *pressure group,* oknum sempalan di
KPK dan oknum jenderal di Mabes Polri yang ngebet jadi Kapolri," ucap
Masinton.

Menurut Masinton, oknum jenderal itu belum lama diangkat menjadi komjen
yang getol melakukan pencitraan. Si oknum itu baru dilantik sebagai pejabat
bintang tiga di Mabes Polri.

"Jadi si oknum ini sudah kasak-kusuk membangun lobi vertikal dan sembari
melakukan pencitraan sebagai jenderal polisi yang bersih dan
berintegritas," tegasnya.

Padahal, kata Masinton, pimpinan KPK sudah sejak setahun lalu menepis
ketidakakuratan informasi tentang catatan penerima aliran dana kasus suap
impor daging. Bahkan, Basuki Hariman sebagai pesakitan juga menepis dugaan
soal aliran uang dari perusahaannya untuk Tito semasa menjabat Kapolda
Metro Jaya.

Karena itu, dia mendorong internal Polri menyelidiki kasus itu hingga
tuntas. Karena jika dibiarkan, ke depannya pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawab akan dengan mudah secara sepihak melakukan pembunuhan
karakter terhadap orang lain yang dianggap sebagai rival dengan menggunakan
isu korupsi.

"Harus dituntaskan, Polri mesti segera melakukan penyelidikan internal,"
pungkasnya.

Sebelumnya, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan, dugaan
perusakan barang bukti berupa buku merah milik Basuki Hariman yang
berisikan nama-nama penerima aliran dana suap adalah tak benar.

“Mengenai perusakan barang bukti setelah dicek pun tidak terbukti bahwa
Ronald Rolandy dan Harun melakukan perobekan. Di CCTV tidak terbukti mereka
melakukan perobekan,” beber Setyo kepada awak media, Rabu (10/10).

Untuk itu, Setyo meminta semua pihak bisa menahan diri dan tak terpancing
dengan kabar yang beredar. Sebab, kabar tersebut belum tentu benar.

“Jangan mengadu, ini tahun politik. Mengadu antarlembaga penegak hukum
khususnya Polri dengan KPK,” tegas dia.

Jenderal bintang dua ini menerangkan, berdasar hasil pemeriksaan Basuki
Hariman, dia memang mengakui ada nama Tito Karnavian dalam bukunya. Namun,
nama itu dicatut, sementara Tito tak tahu apa-apa dan tak menerima aliran
dana.

“Basuki Hariman menyatakan bahwa dia tidak pernah menyampaikan (menyerahkan
uang) langsung ke Pak Tito. Ada catatan di buku tapi itu bukan aliran dana.
Dia mengakui menggunakan dana itu untuk kepentingan sendiri,” papar Setyo.

Dalam buku bersampul merah itu, kata Setyo, tak hanya ada nama Tito
Karnavian, namun ada juga pejabat lain yang tak sepatutnya untuk disebar ke
media.

“Tidak boleh menghukum orang tanpa bukti kuat. Ada asas praduga tak
bersalah. Jadi hormati itu,” tandas dia.

*(ce1/aim/JPC)*

Kirim email ke