https://x.detik.com/detail/intermeso/20181015/Setelah-Tsunami,-Lalu/index.php
SETELAH TSUNAMI, LALU...
"Untuk apa kami takut. Kami harus hadapi. Kalau takut, nggak bisa makan
keluarga kami. Karena tidak mungkin juga kami minta bantuan terus sama
orang."
Foto: dok. Getty Images
Senin, 15 Oktober 2018
Masuk ke Kampung Lampuuk, Lhoknga, Aceh Besar, tak pernah terbayang
kawasan ini pernah diterjang dahsyatnya gelombang tsunami hampir 14
tahun silam. Orang-orang bercengkerama di kedai-kedai kopi dan kendaraan
hilir mudik di jalan yang jembar memperlihatkan kampung ini hidup. Hanya
hamparan lantai semen sisa-sisa reruntuhan rumah di kiri dan kanan jalan
menuju kawasan Pantai Lhoknga yang menjadi pengingat kawasan ini pernah
habis tersapu tsunami.
Situasi bertambah ramai ketika makin dekat ke pantai. Dari kejauhan
sudah tampak sejumlah orang memanggil-manggil. Rupanya mereka pemilik
warung ikan bakar yang mengajak pengunjung memarkir kendaraan dekat
warung mereka. Ada kesepakatan tak tertulis bahwa pelancong harus
memesan makanan di warung terdekat dengan lokasi parkir kendaraan.
Kawasan Pantai Lhoknga memang tempat wisata favorit bagi orang-orang
dari Kota Banda Aceh dan kawasan Aceh Besar. Letaknya yang sangat mudah
dijangkau, hanya dengan waktu tempuh sekitar setengah jam dari ibu kota
provinsi, membuat Pantai Lhoknga jadi kawasan wisata primadona.
Berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, Pantai Lhoknga menjadi salah
satu titik di daratan Aceh yang pertama digulung tsunami pada 26
Desember 2004. Pada hari itu, hanya tersisa bangunan Masjid Rahmatullah
di Lampuuk yang tegak setelah tsunami lewat. Sisanya rata dengan tanah.
"Tenda-tenda dan warung sekarang ini sama persis posisinya sebelum
tsunami," ujar Jufri, salah seorang pemilik warung ikan bakar, kepada
*detikX*, Sabtu pekan lalu.
*Baca Juga : Pelajaran dari Tsunami Aceh
<https://x.detik.com/detail/intermeso/20181014/Pelajaran-Dari-Tsunami-Aceh/index.php>*
Gapura pintu masuk Kampung Lampuuk, Lhoknga, Aceh Besar, Aceh, Oktober
2018.
*Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX*
Pada Minggu pagi di hari yang celaka itu, Jufri bergegas menuju pantai.
Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.30 WIB. Tak ada pertanda, tak ada
firasat apa pun di pikiran Jufri, kala itu berusia 23 tahun, hari itu
akan datang sebuah bencana. Memang tugasnya setiap pagi membersihkan
tenda-tenda warung ikan bakar milik keluarganya. Apalagi setiap akhir
pekan, jumlah tamu pasti membeludak.
Biasanya Jufri dibantu ayahnya menyiapkan warung yang letaknya hanya
sekitar 100 meter dari bibir pantai itu. Tapi hari itu ayah, ibu, dan
saudara-saudaranya sedang berada di Medan, Sumatera Utara. "Mereka
kebetulan lagi antar nenek yang mau berangkat naik haji," ujar Jufri.
Karena semua hancur, terpaksa kami bersih-bersih lagi. Saya pikir
setelah itu tidak ada apa-apa lagi."
Baru saja pekerjaannya selesai, pukul 8 kurang satu menit, tiba-tiba
tanah tempatnya berpijak bergoyang. "Saya ingat tiga kali goyangan
kuat," kata Jufri. Kaca jendela warung miliknya hancur berantakan.
Begitu juga dengan puluhan warung lainnya. "Karena semua hancur,
terpaksa kami bersih-bersih lagi. Saya pikir, setelah itu, tidak ada
apa-apa lagi."
Selesai membereskan pecahan kaca, Jufri bergegas mengambil sepeda motor.
Maksudnya ingin menengok kondisi rumahnya di kampung, yang hanya
berjarak 2 kilometer dari pantai. "Sampai di kampung, orang-orang sudah
berada di luar rumah," katanya. Mengetahui rumahnya dalam kondisi baik,
Jufri memutuskan kembali ke pantai.
Belum lagi berbelok masuk ke arah pantai, terdengar teriakan. "Air laut
naik, air laut naik," ujar Jufri menirukan suara dari arah pantai. Warga
Kampung Lampuuk panik. Mereka tunggang langgang berhembalang
kebingungan, berlarian tak tentu arah asalkan menjauhi pantai. Ada yang
menuju Kota Banda Aceh, ada juga yang berlari menuju masjid naik ke kubah.
Salah satu sudut Banda Aceh pada Januari 2005 dan sepuluh tahun kemudian
*Foto: dok. Getty Images*
Jufri, yang berboncengan dengan kawannya, memutuskan melarikan motornya
ke arah Kota Banda Aceh. Dalam perjalanan, ia masih sempat mengangkut
dua balita bersaudara yang diserahkan orang tuanya untuk diselamatkan.
"Pokoknya saya larikan motor sekencang-kenangnya sambil bunyikan
klakson," kata Jufri.
Belum lagi masuk ke Kota Banda Aceh, dia melihat dari arah kota orang
menuju ke arahnya. "Ternyata tsunami juga masuk ke kota," katanya. Jufri
lantas berbalik dan mencari bukit yang paling dekat dengan jalan.
"Untungnya di daerah Lampisang ada bukit. Kami semua naik ke situ," katanya.
Empat hari lamanya orang-orang bertahan di perbukitan tersebut, termasuk
Jufri. Tiap pagi, mereka turun cari bantuan makanan lalu naik lagi.
"Selalu ada terdengar cerita bahwa air laut akan naik lagi," katanya.
Baru hari kelima mereka berani turun ke posko pengungsian di sekitar
masjid. "Saya baru ketemu keluarga seminggu setelah peristiwa itu."
Marzuki Yunus juga selamat dalam bencana tersebut. Yunus meninggalkan
kampungnya hanya beberapa belas menit sebelum gempa terjadi. "Saya punya
toko kelontong di Kota Banda Aceh, pagi-pagi sudah ke sana untuk
jualan," ujar Yunus. Dia belum sampai ke toko kelontongnya saat gempa
terjadi. "Rumah-rumah kacanya hancur berantakan."
Tanpa pikir panjang, Yunus memutar motornya kembali ke arah kampungnya.
Pikirannya tertuju ke orang tuanya yang berada di rumah. Saat keluar
dari jalan besar dan berbelok masuk ke jalan kampung, Yunus melihat
orang-orang berlarian sambil berteriak air laut naik. Dia terpaksa
kembali memutar motor menjauhi kampung. "Saya larikan motor ke
perbukitan di Mata Ie," katanya. Saat masa konflik, menurut Yunus,
perbukitan itu dikuasai prajurit Tentara Nasional Indonesia.
Satu keluarga tengah memanjatkan doa di lokasi pemakaman massal di Banda
Aceh pada Desember 2014.
*Foto: dok. Getty Images*
Tiga hari lamanya Yunus berada di perbukitan. Setelah mengumpulkan
keberanian, hari keempat dia memutuskan kembali ke Lampuuk. Hatinya
hancur. Bangunan yang masih tegak berdiri hanya Masjid Rahmatullah.
Semua rumah di kampungnya tak ada yang tersisa, termasuk rumah
keluarganya, yang berjarak 500 meter dari masjid. Sejumlah peneliti
menyebut gelombang tsunami di Lhoknga setinggi 30-51 meter.
Ayah, ibu, dan tiga saudara kandungnya terseret gelombang. Hanya jenazah
ayahnya yang dia temukan. "Sisanya sampai sekarang hilang. Mungkin
dikebumikan massal karena sudah sulit dikenali," kata Yunus. Beberapa
bulan kemudian muncul wacana seluruh warga kampung akan direlokasi ke
kawasan dekat perbukitan. "Tapi kami berkeras tidak mau. Ini kampung
halaman kami. Sayang juga masjidnya yang masih berdiri tegak."
Jufri, salah seorang korban tsunami Aceh yang selamat dan kini membuka
warung ikan bakar
*Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX*
Jufri dan keluarganya juga enggan meninggalkan Lampuuk. Setelah setahun
bencana, Jufri kembali ke pantai. Dia membuka warung kecil-kecilan.
"Cuma warung rokok dan kopi buat nelayan. Warung ikan masih dilarang,"
katanya. "Untuk apa kami takut. Kami harus hadapi. Kalau takut, nggak
bisa makan keluarga kami. Karena tidak mungkin juga kami minta bantuan
terus sama orang. Semua kan perlu makan." Empat tahun kemudian, kata
Jufri, kawasan pantai kembali ramai oleh warung-warung ikan bakar.
Antropolog Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Reza Idria
menuturkan, bagi masyarakat Aceh, gempa dan tsunami yang terjadi pada
2004 semacam 'berkah dalam kemalangan'. Saat itu kondisi Aceh tak
menentu, terutama persoalan keamanan. Kontak senjata hampir setiap saat
terjadi karena status darurat militer kemudian darurat sipil yang
ditetapkan pemerintah pusat. "Untuk /survive /saja sudah oke. Tidak mati
di jalan sudah bagus zaman itu. Mau kena peluru TNI atau GAM," ujarnya.
Reza, yang sedang menyelesaikan program doktor di Universitas Harvard,
Amerika Serikat, mengatakan bencana itu memaksa perubahan tatanan
politik di tanah Aceh. "Kesepakatan damai di Helsinki itu tak mungkin
ada kalau tsunami tidak terjadi," katanya. Hikmah di balik bencana ini,
kata Reza, membuat orang-orang Aceh sedikit berbeda memaknai bencana
besar yang terjadi pada pengujung 2004 itu.
Kesepakatan damai di Helsinki itu tak mungkin ada kalau tsunami tidak
terjadi."
Antropolog Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Reza Idria
Jufri di depan warung ikan bakarnya
*Foto: Pasti L Mappapa/detikX*
Secara kasatmata, masyarakat Aceh memang sudah pulih dari trauma
dashyatnya bencana. Di mana-mana bermunculan kedai-kedai kopi dan selalu
ramai. Kemacetan pun terjadi di pusat kota, terutama saat jam pulang
kerja. Tapi Reza menampik jika orang Aceh layak disebut memiliki
kemampuan daya tahan dan beradaptasi dengan bencana yang lebih baik.
"Kalau dibilang orang Aceh lebih hebat menerima sebuah bencana, ya tidak
juga," ujar Reza.
Pascabencana, setelah selesainya tahap rehabilitasi dan rekonstruksi,
menurut Reza, Aceh justru kembali ke zaman sebelum bencana yang
serbatertutup untuk dunia luar. "Politik sempit kini mengambil alih
Aceh. Ada tendensi untuk menjadi eksklusif muncul lagi. Satu kelompok
membawa narasi syariah Islam, kelompok lain membawa narasi identitas
keacehan," katanya.
Padahal, kata Reza, saat masa penanganan bencana, bantuan berdatangan
dari berbagai penjuru, dari dalam negeri maupun internasional. Bantuan
yang sangat besar itu, kata Reza, datang atas dasar kemanusiaan dengan
melihat bahwa orang Aceh adalah korban yang harus ditolong. Saat ini
justru ada segelintir orang Aceh ingin membangun sekat-sekat baru yang
membuatnya kembali terisolasi dari dunia luar.
"Waktu itu semua bantuan diterima dan dipakai untuk menjadi hidup lebih
baik. Sekarang sedikit-sedikit tanya, dia siapa? Ada tembok-tembok baru
yang dibentuk. Jadi hubungan antarmanusia tidak jadi lebih baik," kata Reza.
Satu sudut Banda Aceh pada 5 Januari 2005
*Foto: dok. Getty Images*
------------------------------------------------------------------------
*Reporter/Penulis:* Pasti Liberti
*Editor:* Sapto Pradityo