*Maruf Amin berkebudayaan gurun pasir dan pasti tahu apa itu ”tagyya”. Jadi
hari ini bisa bilang ”pancasila yes” besok lusa akan bilang ”pencasilat”.
Jangan dilupakan bahwa Maruf Amin dipilih oleh Jokowi.*

https://republika.co.id/berita/kolom/resonansi/18/10/16/pgntfv440-pesan-buat-cawapres-kh-maruf-amin

Rabu, 8 Safar 1440 / 17 Oktober 2018

Pesan Buat Cawapres KH Ma'ruf Amin

Selasa 16 Okt 2018 04:38 WIB

Red: Elba Damhuri

Ahmad Syafii Maarif

Foto: Republika/Daan

*Indonesia adalah Bumi Pancasila, Bumi Bhinneka Tunggal Ika, dan Rumah Kita
Bersama*

REPUBLIKA.CO.ID *Oleh: Ahmad Syafii Maarif*



Berdasarkan info dari pihak pimpinan PDIP Daerah Istimewa Yogyakarta dan
dari kepolisian, Senin, 15 Oktober 2018 pukul 12.30-13.00, cawapres KH
Ma’ruf Amin akan menemui saya di Nogotirto bersama tim kampanye yang
mendampinginya. Sekalipun saya bersikap kritis atas proses pencalonannya
sebagai cawapres, terhadap tamu menurut ajaran Islam dan kultur Indonesia,
kedatangannya harus diterima dengan sebaik-baiknya.

Ada beberapa pesan yang akan saya sampaikan kepadanya, sekiranya jadi
berkunjung. Jika berhalangan, semoga pesan ini akan sampai juga kepadanya.

Selain itu, ada pula titipan pesan dari dua intelektual muda NU papan atas,
ZM dan SQ, untuk disampaikan pula kepada kiai ini, jika nanti terpilih jagi
wapres. Titipan itu kita sebut lebih dulu. Dari ZM, agar fatwa MUI tidak
dijadikan sebagai keputusan negara; MUI harus dijadikan lembaga pembentukan
moral dan karakter bangsa; fatwa soal Ahmadiyah punya dampak negatif di
bawah karena warga Ahmadiyah menjadi telantar dan dipersekusi.

Kemudian dari SQ, ada pesan singkat agar Kiai Ma’ruf kelak menjaga
pentingnya toleransi agama di Indonesia. Pesan dari ZM dan SQ itu perlu
menjadi perhatian serius dari Kiai Ma’ruf agar MUI, siapa pun ketua umumnya
nanti, bisa menjadikan lembaganya sebagai payung moral umat Islam
Indonesia. Politik praktis harus dihindari sebab akan menurunkan
martabatnya.

Pesan dari saya sendiri ada tiga yang penting. Pertama, jika terpilih
sebagai wapres, Kiai Ma’ruf mesti mendudukkan dirinya sebagai wapres
seluruh rakyat Indonesia, bukan wapres dari parpol-parpol pendukung.

Ini perlu ditekankan, sebab sekali seseorang menempati posisi nomor 1 atau
nomor 2 di republik ini, dia bukan lagi milik satu atau beberapa partai
atau golongan, melainkan secara konstitusional sudah menjadi milik seluruh
bangsa yang harus diperlakukan secara adil, tanpa pilih kasih.

Kedua, sejalan dengan semangat di atas, Kiai Ma’ruf tidak hanya mahir
menyebut 'Islam Nusantara' sebagai produk dari wawasan kebangsaan NU,
tetapi pada saat yang sama perlu pula menyebut 'Islam Berkemajuan' sebagai
produk pemikiran Muhammadiyah. Selintas, masalah ini terkesan sepele,
tetapi bagi perasaan umumnya manusia punya nilai penting dalam mengukuhkan
pilar-pilar integrasi nasional.

Kiai Ma’ruf tentu sangat paham dengan apa yang saya sampaikan ini. Sebab,
dia selama puluhan tahun telah malang melintang dalam dunia politik
Indonesia melalui berbagai partai yang dimasukinya.

Pengalamannya di panggung politik nasional pasti telah mengkristal dalam
pemikirannya sebagai modal utama baginya untuk berkiprah lebih bijak dan
lebih adil sekiranya posisi wapres berhasil diraihnya nanti.

Ketiga, terhadap kelompok Syi’ah dan Ahmadiyah, Kiai Ma’ruf agar mau
berpikir ulang. Mereka harus diperlakukan sebagai warga negara penuh,
sekalipun kita tidak setuju dengan pandangan keagamaannya. Pengusiran dan
persekusi terhadap mereka harus dihentikan sekali dan untuk selama-lamanya.

Indonesia adalah Bumi Pancasila, Bumi Bhinneka Tunggal Ika, dan Rumah Kita
Bersama yang wajib dijaga dan dilindungi secara bersama pula. Sampai hari
ini, kelompok-kelompok ini masih belum merasa aman hidup di tanah airnya
sendiri.

Pimpinan ABI (Ahlul Bait Indonesia), salah satu komunitas Syi’ah di negeri
ini setidaknya sudah dua kali menemui saya di Jakarta beberapa waktu yang
lalu. Mereka masih saja dibayangi ketakutan hidup di Bumi Pancasila ini,
gara-gara adanya fatwa keagamaan MUI yang tidak arif dan tidak
konstitusional atas keberadaan mereka.

Memang tidak dapat dimungkiri, teman-teman Syi’ah dan Ahmadiyah sering
bersikap eksklusif dalam pergaulannya dengan umat Islam yang lain. Sikap
semacam ini dapat mengundang kecurigaan dari pihak lain.

Satu-satunya jalan lempang untuk mengatasi masalah ini adalah diktum
Alquran dalam surah al-Hujurât (49) ayat 10: “Sesungguhnya orang-orang
beriman itu tidak lain melainkan bersaudara, maka oleh sebab itu
damaikanlah antara dua saudara kamu, dan takwalah kepada Allah agar kamu
beroleh rahmat.”

Itulah beberapa pesan yang perlu diketahui oleh Kiai Ma’ruf Amin!

Kirim email ke