Jadinya Pencak ilat ( ilat = lidah).

On Wed, 17 Oct 2018 at 12:54, Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <
[email protected]> wrote:

>
>
> *Maruf Amin berkebudayaan gurun pasir dan pasti tahu apa itu ”tagyya”.
> Jadi hari ini bisa bilang ”pancasila yes” besok lusa akan bilang
> ”pencasilat”. Jangan dilupakan bahwa Maruf Amin dipilih oleh Jokowi.*
>
>
> https://republika.co.id/berita/kolom/resonansi/18/10/16/pgntfv440-pesan-buat-cawapres-kh-maruf-amin
>
> Rabu, 8 Safar 1440 / 17 Oktober 2018
>
> Pesan Buat Cawapres KH Ma'ruf Amin
>
> Selasa 16 Okt 2018 04:38 WIB
>
> Red: Elba Damhuri
>
> Ahmad Syafii Maarif
>
> Foto: Republika/Daan
>
> *Indonesia adalah Bumi Pancasila, Bumi Bhinneka Tunggal Ika, dan Rumah
> Kita Bersama*
>
> REPUBLIKA.CO.ID *Oleh: Ahmad Syafii Maarif*
>
>
>
> Berdasarkan info dari pihak pimpinan PDIP Daerah Istimewa Yogyakarta dan
> dari kepolisian, Senin, 15 Oktober 2018 pukul 12.30-13.00, cawapres KH
> Ma’ruf Amin akan menemui saya di Nogotirto bersama tim kampanye yang
> mendampinginya. Sekalipun saya bersikap kritis atas proses pencalonannya
> sebagai cawapres, terhadap tamu menurut ajaran Islam dan kultur Indonesia,
> kedatangannya harus diterima dengan sebaik-baiknya.
>
> Ada beberapa pesan yang akan saya sampaikan kepadanya, sekiranya jadi
> berkunjung. Jika berhalangan, semoga pesan ini akan sampai juga kepadanya..
>
> Selain itu, ada pula titipan pesan dari dua intelektual muda NU papan
> atas, ZM dan SQ, untuk disampaikan pula kepada kiai ini, jika nanti
> terpilih jagi wapres. Titipan itu kita sebut lebih dulu. Dari ZM, agar
> fatwa MUI tidak dijadikan sebagai keputusan negara; MUI harus dijadikan
> lembaga pembentukan moral dan karakter bangsa; fatwa soal Ahmadiyah punya
> dampak negatif di bawah karena warga Ahmadiyah menjadi telantar dan
> dipersekusi.
>
> Kemudian dari SQ, ada pesan singkat agar Kiai Ma’ruf kelak menjaga
> pentingnya toleransi agama di Indonesia. Pesan dari ZM dan SQ itu perlu
> menjadi perhatian serius dari Kiai Ma’ruf agar MUI, siapa pun ketua umumnya
> nanti, bisa menjadikan lembaganya sebagai payung moral umat Islam
> Indonesia. Politik praktis harus dihindari sebab akan menurunkan
> martabatnya.
>
> Pesan dari saya sendiri ada tiga yang penting. Pertama, jika terpilih
> sebagai wapres, Kiai Ma’ruf mesti mendudukkan dirinya sebagai wapres
> seluruh rakyat Indonesia, bukan wapres dari parpol-parpol pendukung.
>
> Ini perlu ditekankan, sebab sekali seseorang menempati posisi nomor 1 atau
> nomor 2 di republik ini, dia bukan lagi milik satu atau beberapa partai
> atau golongan, melainkan secara konstitusional sudah menjadi milik seluruh
> bangsa yang harus diperlakukan secara adil, tanpa pilih kasih.
>
> Kedua, sejalan dengan semangat di atas, Kiai Ma’ruf tidak hanya mahir
> menyebut 'Islam Nusantara' sebagai produk dari wawasan kebangsaan NU,
> tetapi pada saat yang sama perlu pula menyebut 'Islam Berkemajuan' sebagai
> produk pemikiran Muhammadiyah. Selintas, masalah ini terkesan sepele,
> tetapi bagi perasaan umumnya manusia punya nilai penting dalam mengukuhkan
> pilar-pilar integrasi nasional.
>
> Kiai Ma’ruf tentu sangat paham dengan apa yang saya sampaikan ini.. Sebab,
> dia selama puluhan tahun telah malang melintang dalam dunia politik
> Indonesia melalui berbagai partai yang dimasukinya.
>
> Pengalamannya di panggung politik nasional pasti telah mengkristal dalam
> pemikirannya sebagai modal utama baginya untuk berkiprah lebih bijak dan
> lebih adil sekiranya posisi wapres berhasil diraihnya nanti.
>
> Ketiga, terhadap kelompok Syi’ah dan Ahmadiyah, Kiai Ma’ruf agar mau
> berpikir ulang. Mereka harus diperlakukan sebagai warga negara penuh,
> sekalipun kita tidak setuju dengan pandangan keagamaannya. Pengusiran dan
> persekusi terhadap mereka harus dihentikan sekali dan untuk selama-lamanya.
>
> Indonesia adalah Bumi Pancasila, Bumi Bhinneka Tunggal Ika, dan Rumah Kita
> Bersama yang wajib dijaga dan dilindungi secara bersama pula. Sampai hari
> ini, kelompok-kelompok ini masih belum merasa aman hidup di tanah airnya
> sendiri.
>
> Pimpinan ABI (Ahlul Bait Indonesia), salah satu komunitas Syi’ah di negeri
> ini setidaknya sudah dua kali menemui saya di Jakarta beberapa waktu yang
> lalu. Mereka masih saja dibayangi ketakutan hidup di Bumi Pancasila ini,
> gara-gara adanya fatwa keagamaan MUI yang tidak arif dan tidak
> konstitusional atas keberadaan mereka.
>
> Memang tidak dapat dimungkiri, teman-teman Syi’ah dan Ahmadiyah sering
> bersikap eksklusif dalam pergaulannya dengan umat Islam yang lain. Sikap
> semacam ini dapat mengundang kecurigaan dari pihak lain.
>
> Satu-satunya jalan lempang untuk mengatasi masalah ini adalah diktum
> Alquran dalam surah al-Hujurât (49) ayat 10: “Sesungguhnya orang-orang
> beriman itu tidak lain melainkan bersaudara, maka oleh sebab itu
> damaikanlah antara dua saudara kamu, dan takwalah kepada Allah agar kamu
> beroleh rahmat.”
>
> Itulah beberapa pesan yang perlu diketahui oleh Kiai Ma’ruf Amin!
>
>
> 
>

Kirim email ke