https://news.detik.com/kolom/d-4260786/politik-dan-kemanusiaan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.144653749.18981818.1539791134-1465997041.1539791118
Rabu 17 Oktober 2018, 15:30 WIB
Mimbar Mahasiswa
Politik dan Kemanusiaan
Fahmi Muhammad - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/kotakpesanfahmi>
Fahmi Muhammad <https://connect.detik.com/dashboard/public/kotakpesanfahmi>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4260786/politik-dan-kemanusiaan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.144653749.18981818.1539791134-1465997041.1539791118#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4260786/politik-dan-kemanusiaan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.144653749.18981818.1539791134-1465997041.1539791118#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4260786/politik-dan-kemanusiaan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.144653749.18981818.1539791134-1465997041.1539791118#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4260786/politik-dan-kemanusiaan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.144653749.18981818.1539791134-1465997041.1539791118#>
Politik dan Kemanusiaan Belajar dari Gus Dur (Ilustrasi: Mindra Purnomo)
<https://news.detik.com/kolom/d-4260786/politik-dan-kemanusiaan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.144653749.18981818.1539791134-1465997041.1539791118#><https://news.detik.com/kolom/d-4260786/politik-dan-kemanusiaan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.144653749.18981818.1539791134-1465997041.1539791118#><https://news.detik.com/kolom/d-4260786/politik-dan-kemanusiaan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.144653749.18981818.1539791134-1465997041.1539791118#><https://news.detik.com/kolom/d-4260786/politik-dan-kemanusiaan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.144653749.18981818.1539791134-1465997041.1539791118#>
*Jakarta* -
Politik selalu dicitrakan sebagai barang kotor. Soe Hok Gie mengatakan,
politik adalah barang yang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor. Tapi,
suatu saat ketika kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka
terjunlah. Kita tahu bahwa lumpur adalah tempat yang selalu dihindari.
Bahkan anak kecil pun selalu dilarang main di lumpur. Kecuali beberapa
orang terpaksa turun ke lumpur karena dibenturkan dengan kebutuhan
hidup, mengandalkan nafkahnya dari lumpur seperti petani di sawah,
tukang bata merah, tukang genteng, dan profesi yang berhubungan dengan
lumpur. /Nyemplung/ ke lumpur bagi sebagian orang dilakukan karena terpaksa.
Kondisi panggung politik terkini Indonesia menyuguhkan akrobat yang
sangat berbahaya, membuat para penonton tegang bahkan tak mau lagi
menonton pertunjukan tersebut, apalagi terlibat sebagai aktor. Sebagai
contoh dapat kita lihat di media sosial begitu mudahnya mengkafirkan,
menyalahkan, menuduh sesat, bahkan menyebar kabar hoaks sudah menjadi
kebiasaan. Hal tersebut juga dilakukan oleh para elite dalam berbagai
/talkshow/ yang diselenggarakan di beberapa televisi nasional.
Jika melihat fenomena di atas, politik sangat jauh dari rasa
kemanusiaan. Kita dapat melihat fenomena di mana manusia memakan
saudaranya sendiri. Padahal seharusnya politik merupakan alat untuk
mengabdi pada kemanusiaan, bukan menghamba pada kekuasaan. Meminjam
pendapat Aristoteles bahwa politik adalah usaha yang ditempuh warga
negara untuk mewujudkan kebaikan bersama, bukan malah memperkeruh suasana.
Namun, kita tidak perlu risau dengan politik dan menjadi apolitis.
Karena beberapa pemimpin dunia seperti Gandhi dari India dan Nelson
Mandela dari Afrika Selatan dapat mengubah wajah bengis politik menjadi
manis. Bahwa politik tidak sepenuhnya kotor, politik tidak sepenuhnya
jahat, dan politik juga dapat memanusiakan manusia.
Di Indonesia sendiri kita mengenal sosok KH. Abdurrahman Wahid dengan
sapaan akrab Gus Dur. Gus Dur merupakan politisi ulung, kiprahnya tidak
dapat diragukan lagi terutama sejak tumbangnya rezim Orde Baru. Gus Dur
turut serta mendirikan partai politik yang mengantarkannya hingga ke
singgasana orang nomor satu di Indonesia.
Selain itu Gus Dur juga dikenal sebagai bapak bangsa yang gigih dan
konsisten dalam memperjuangkan kemanusiaan, membela kaum minoritas, dan
menentang segala bentuk penindasan di muka bumi. Sebagai politisi yang
santri rupanya ia berprinsip "kemanusiaan lebih penting daripada
politik". Walaupun sepak terjangnya tak jarang menuai kontroversi
terutama di kalangan lawan-lawan politiknya.
Gus Dur, Gandhi, dan Mandela merupakan contoh tokoh yang berhasil
memadukan dua kutub yang dianggap berseberangan, yaitu politik dan
kemanusiaan.**Belajar dari mereka, seorang pemimpin yang bisa memimpin
bukan perkara mudah. Jika ingin menjadi ksatria yang perkasa, mempunyai
kesaktian dan tak dapat dikalahkan, harus digembleng terlebih dahulu di
Kawah Candradimuka.
Kawah candradimuka adalah kawah yang terdapat di alam kahyangan seperti
disebutkan dalam kisah pewayangan. Kisah tersebut menggambarkan bahwa
untuk menjadi pemimpin yang kuat, yang berjiwa kesatria membutuhkan
proses yang lama dan berjenjang, bukan karbitan seperti kebanyakan calon
pemimpin hari ini.
Tidak cukup sampai di situ seorang pemimpin juga harus mempunyai
komitmen yang tak tergoyahkan oleh badai apapun. Komitmen politik, visi
dan misi yang jelas, dan konsistensi merupakan prasyarat penting untuk
melakukan perubahan. Karena politik itu ibarat permainan bola,
prediksinya bisa menang namun hasilnya kalah. Begitu pula dalam proses
kepemimpinan, tujuan awalnya bisa baik tapi akhirnya bisa buruk,
lagi-lagi semuanya tergantung pada komitmen sang pemimpin.
Agar proses kepemimpinan berjalan dengan baik, seorang pemimpin butuh
bekerja sama dengan banyak pihak atau saat ini kita kenal dengan istilah
kolaborasi. Seorang pemimpin tidak mungkin berjalan sendirian, butuh
dukungan untuk mewujudkan komitmennya. Dan, itu hanya dapat dilakukan
jika pemimpin tersebut mampu berkolaborasi dengan siapapun, termasuk
dengan lawannya sekalipun.
Pemimpin maupun calon pemimpin yang akan datang perlu belajar dan
meneladani Gandhi, Mandela, dan Gus Dur bahwa kekuasaan bukan segalanya.
Ada yang lebih penting daripada itu, yaitu kemanusiaan. Minimal yang
harus dilakukan adalah bagaimana cara mendapatkan kekuasaan, dan
memperlakukan masyarakat sebagai konstituen utama dalam berdemokrasi
dengan cara yang beradab, tidak menghalalkan segala upaya.
Pemimpin dan calon pemimpin harus sadar bahwa yang mereka kemudikan
tidak hanya sekoci kecil, melainkan kapal besar yang bernama Indonesia.
*Fahmi Muhammad* /mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta, Dewan Pembina Asosiasi Mahasiswa Dakwah
Indonesia Korwil DIY-Jateng
/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!