http://id.beritasatu.com/home/ekonom-rupiah-15000dolar-as-ekuilibrium-baru/181670

*Ekonom: Rupiah 15.000/Dolar AS Ekuilibrium Baru*
Rabu, 17 Oktober 2018 | 21:23

*JAKARTA*- Ekonom Agustinus Prasetyantoko menilai level Rp15.000-an per
dolar AS saat ini merupakan titik keseimbangan (ekuilibrium) baru yang
mencerminkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Menurut dia, di Jakarta, Rabu, rupiah akan sulit kembali menguat daripada
level saat ini mengingat ketidakpastian global diperkirakan masih akan
berlanjut hingga 2019 sehingga arus modal asing yang masuk ke Tanah Air
tidak akan sederas tahun-tahun sebelumnya dan likuiditas cenderung ketat.

"Dengan pasokan dan likuiditas yang terbatas, kita tidak akan kembali ke
Rp13.000 atau Rp14.000. Rp15.000 inilah titik keseimbangan baru buat rupiah
kita," ujarnya yang juga Rektor Universitas Katolik Atma Jaya itu.

Menurut Prasetyantoko, kendati ketidakpastian ekonomi global masih
membayangi ekonomi Indonesia dari sisi eksternal, namun pelemahan rupiah
diyakininya tidak akan terjadi lebih dalam lagi.

Ia mengenang kondisi ekonomi menjelang tahun politik pada 2013 lalu dengan
rupiah juga sempat tertekan, namun kemudian dapat kembali bangkit setelah
ada kepastian pemenang pemilu.

"Kira-kira situasinya mirip dan kita dapat *take off* dari situasi itu.
Tampaknya kita tidak perlu terlalu *worry*, mungkin rupiah akan melemah
sedikit tapi melemah tajam rasanya tidak," katanya.

Prasetyantoko menambahkan, dalam jangka pendek, langkah Bank Indonesia
menaikkan suku bunga acuan sudah tepat untuk meredam gejolak terhadap
rupiah dan diperkirakan akan kembali dinaikkan apabila Bank Sentral Amerika
Serikat The Federal Reserve kembali menaikkan suku bunganya.

Kendati demikian, lanjut Prasetyantoko, dalam jangka menengah panjang
kinerja ekspor harus dapat diperbaiki sehingga defisit transaksi berjalan
dapat ditekan dan nilai tukar pun dapat lebih tahan dari gejolak eksternal.

"Secara strategis struktural, problem domestik kita yaitu impor lebih besar
dari ekspor. Jangka menengah, ekspor harus didorong sehingga bisa melebihi
impor dan kita terbebas dari situasi defisit transaksi berjalan seperti
sekarang ini," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Grup Surveillans dan Stabilitas Sistem Keuangan
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Dody Arifianto mengatakan, fenomena super
dolar memang memberikan tekanan terhadap nilai tukar di sejumlah negara
berkembang, termasuk Indonesia.

Pelemahan rupiah tidak lepas dari normalisasi kebijakan The Fed dan juga
ketegangan perang dagang antara AS dan China serta sejumlah negara yang
diperkirakan masih akan terus berlanjut.

Walaupun begitu, upaya pemeirntah melakukan reformasi seperti realokasi
subsidi BBM, menggenjot pembangunan infrastruktur, serta menciptakan iklim
yang kondusif bagi dunia usaha, diapresiasi oleh pasar.

"Dengan kondisi yang di-*trigger* oleh hal-hal tersebut, semoga
Rp15.200-Rp15.300 itu adalah suatu ekuilibrium baru," ujar Dody.

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar
AS pada Rabu ini mencapai Rp15.178 per dolar AS atau menguat dibandingkan
hari sebelumnya Rp15.206 per dolar AS. (ant/gor)

Kirim email ke