Kejanggalan-Kejanggalan Teori Peluru Nyasar ke Gedung DPR
Rabu 17 Oct 2018 19:29 WIB Rep: Febrianto Adi Saputro, AmriAmrullah, Bayu Adji P/ Red: Andri Saubani REPUBLIKA.CO.ID,Peristiwa peluru nyasarterjadi pada Senin (15/10) di gedung DPR RI pukul 14.30 WIB. Tembakan tersebutkemudian bersarang di lantai 13 di ruang 1313 yang ditempati anggota Komisi IIIFraksi Partai Golkar Bambang Heri Purnama dan di lantai 17 di ruang 1201 milikanggota Komisi III DPR Partai Gerindra Wenny Warouw. PadaRabu (17/10), bekas dugaan penembakan peluru salah sasaran kembali ditemukanpada dua lokasi, yaitu di ruangan anggota Fraksi Partai Demokrat Vivi SumantriJayabaya dan anggota Fraksi PAN Totok Daryanto. Ruangan Vivi berada lantai 10 nomor1008 dan ruangan Totok berada di lantai 20 nomor 2003. Polisitelah menetapkan dua orang menjadi tersangka kasus dugaan peluru nyasar ke gedung DPR RI.Dua tersangka itu adalah pegawai negeri sipil (PNS) di sebuah kementerian. “Tersangkaberinisial IAW (32) dan RMY (34),” kata Dirkrimum Polda Metro Jaya KomisarisBesar Polisi Nico Afinta di Mapolda Metro Jaya, Selasa (16/10). MenurutNico, kedua tersangka melakukan aksi penembakan tersebut bukan karena faktorkesengajaan. Mereka sedang melakukan latihan tembak di Lapangan Tembak Senayanyang lokasinya berdekatan dengan gedung DPR RI. “Jadi,kami menepis bahwa kejadian ini ada unsur kesengajaan,” ucapnya. Darikedua tersangka, polisi menyita dua buah pucuk senjata api jenis Glock 17 danAkai Custom dengan kaliber 40 mm. Senjata tersebut, menurut Nico, adalah jenissenjata yang diperuntukkan olahraga. WennyWarouw, yang ruangannya ditembus peluru para tersangka, menduga adanyakejanggalan dari peristiwa ini. Ia mengaku telah mengecek langsung ke lokasiLapangan Tembak Senayan sehari setelah kejadian. "Darilapangan tembak reaksi, itu nggakkelihatan sama sekali. Ada tanggul kira-kira dua meter, ada lagi seng baja limameter, baru ada pohon-pohon, kokpeluru bisa tembus?" kata Wenny Warouw, Rabu (17/10). KecurigaanWenny bertambah saat mengetahui pelaku penembakan adalah seorang pegawai negerisipil (PNS) Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Menurutnya, aneh jika seorangPNS berlatih menembak pada saat jam kerja. "Kaliansekarang ini pergi dongke Menteri Perhubungan, tanya itu kokjam kerja latihan nembak?Gitu loh, danmereka punya sertifikasi Perbakin, kenapabilang bukan Perbakin?" ujarnya. AnggotaKomisi III tersebut meminta penyidik untuk melakukan uji balistik di lapangandan tidak dilakukan di ruangan rekonstruksi. Selain itu, ia juga meminta untukmemeriksa para pelaku dari mana keduanya berasal. WasekjenPartai Demokrat, Didi Irawadi Syamsuddin, juga memandang ada hal yang tidakmasuk akal dari penembakan gedung DPR dengan analisis polisi terkait peluru nyasar dari LapanganTembak Senayan. Menurutnya, ada sekitar lima ruangan tempat peluru-pelurutersebut ditembakkan dan bersarang. Iabertanya-tanya, apakah masuk akal dikatakan sebagai peluruh nyasar. Dan, apakahmungkin peluru menyasar hingga sejauh 400 meter dari lokasi penembakan.Persoalannya,menurut Didi, peluru yang nyasartersebut mengarah ke atas gedung tinggi di lima ruangan di DPR. "Patutkita curiga memang tembakan itu dengan sengaja dan penuh kesadaran telahdiarahkan dan dibidik. Kalaupun benar nyasarkarena orang latihan menembak, paling beberapa meter nyasarnya," kataDidi. Sebab,kata Didi, jarak 10 meter peluru salah sasaran dari titik bidikan saja, tentusudah terlalu jauh melesetnya, apalagi 400 meter. "Sekali lagi masukakalkah nyasar400 meter ke banyak tempat ruangan?" katanya heran. Didimerasa hal itu sangat tidak masuk akal. Namun, yang menurutnya sangat mungkinadalah penembakan tersebut dilakukan dengan kesadaran dan kesengajaan penuh.Menjadi pertanyaan, apakah tindakan itu dilakukan karena iseng atau ada motiftertentu. Karenanya,ia berharap polisi segera mengusut tuntas dan seret ke meja hijau pelakunya."Saya tegaskan, saya sepenuhnya menolak teori peluru nyasar, oleh karenanyasekali lagi meminta polisi mengusut tuntas. Bisa itu orang iseng, ataupenembakan degnan motif tertentu. Keduanya tetap biadab sebab nyawa yang jadipertaruhan," ujarnya. WakilKetua MPR Ahmad Muzani menyebut untuk kesekian kalinya Kompleks ParlemenSenayan terkena peluru nyasar.Muzani mengaku heran mengapa hanya gedung DPR yang kerap disasar peluru. "Sayatidak pernah mendengar ada penghuni hotel di Hotel Mulia kamarnya tertembakkena peluru dari latihan tembak dari lapangan tembak. Padahal, itu samaposisinya. Tapi, yang sering terjadi di gedung DPR," kata politkus PartaiGerindra tersebut, Selasa (16/10). Iamenduga, bisa saja kejadian peluru nyasartersebut adalah benar tindakan teror yang dilakukan atas nama latihan tembak.Menurutnya, kemungkinan itu bisa saja terjadi. "Sayatidak mengerti apakah ini bagian dari latihan-latihan yang biasa menyebabkanancaman pada anggota dewan, tapi yang pasti keberadaan lapangan tembak ituterus terang mengganggu eksistensi anggota DPR dalam menjalankan fungsinya,dalam menjalankan tugasnya," ujarnya. Pengamatterorisme Al Chaidar menilai, penembakan ke gedung DPR hingga menembus kacajendela merupakan faktor kesengajaan yang dilakukan kelompok teroris. Pasalnya,kata dia, selama ini ada kelompok teroris yang mengincar gedung wakil rakyatitu. "Ya,ini serangan bisa jadi dilakukan oleh kelompok teroris ya," kata dia saatdihubungi Republika.co.id,Selasa (16/10). Menurutdia, salah satu kelompok teroris yang ingin menyerang kantor parlemen ituadalah Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang barada di Banten. Namun, menurut dia,JAD bukan satu-satunya kelompok yang ingin meneror DPR. Iamenduga, ada pula kelompok yang beraliran sekuler. Bahkan, ada sejumlahkelompok yang berbasiskan partai politik. "Kelompok(terorisme) kanbukan dari kalangan Islam radikal saja," ujar dia. AlChaidar mengatakan, sulit untuk menerima bahwa peluru yang menembus kaca gedungDPR merupakan tembakan nyasar.Pasalnya, yang menjadi sasaran hanya kantor wakil rakyat itu. "Jelasitu kesengajaan, indikasinya selama ini gedung DPR sudah ditargetkan olehbeberapa kelompok teroris. Jadi, saya kira itu bentuk kesengajaan-lah," kata dia. Hasil olah TKP KepalaPuslabfor Mabes Polri Komisaris Besar Polisi Ulung Sanjaya menjelaskan secaraperinci hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) pada ruangan anggota DPR RIyang menjadi sasaran tembak peluru nyasar.Dengan senjata serupa, Puslabfor Mabes Polri menguji ulang senjata yangdigunakan tersangka, apakah benar mampu melesat jauh hingga ke lantai 13 danlantai 16. "Puslabforbersama penyidik dari Polda Metro Jaya kemarin telah melakukan olah TKP adanyapenembakan di gedung DPR di mana Puslabfor itu bekerja berdasarkan olah TKP,dan pemeriksaan barang bukti yang ditemukan di TKP," ujar Ulung di MapoldaMetro Jaya, Selasa (16/10). OlahTKP yang dilakukan Tim Puslabfor pada Senin (15/10), antara lain, langsungmendatangi ruang-ruang yang diketahui mengalami proses penembakan, ruangtersebut adalah ruang lantai 13 dan ruang lantai 16. Pada lantai 13, ditemukananak peluru masih kelihatan utuh, artinya peluru belum lepas dariselongsongnya, lalu menembus dari dinding yang dilapisi gypsum dan juga di luarnyaada logam yang tipis sampai mengenai ke dalam ruangan. Pelurukemudian mengenai dinding kayu dan melesat ke samping staf yang ada di dalamdan terkena di belakang kepalanya. Kondisinya masih kelihatan utuh karenabenturan yang tidak begitu keras dan dia lebih keras dari benda yangditabraknya. Sementarapada lantai 16, peluru pertama kali menembus kaca yang ketebalannya sekitarenam milimeter. Kaca tersebut lebih keras dari peluru sehingga peluru pecahdari jaket anak pelurunya. "Darihasil olah TKP kita temukan ini, kita lakukan perbandingan apakah dari dua anakpeluru yang dihasilkan di TKP ini berasal dari senjata," kata Ulungmenjelaskan. Daripengembangan yang dilakukan oleh penyidik, diketahui senjata tersebut merupakansenjata jenis Glock 17 yang dicurigai dipergunakan saat itu di lapangan tembak.Setelah pihaknya melihat referensi, jarak tembaknya yang dapat mencapai lantai13 dan lantai 16, memang berasal dari senjata yang dilakukan dua tersangka ini. "Kitalakukan uji tembak di laboratorium, di shootingbox, senjatanya diisi lagi, baru diadakan penembakan. Hasilnya,anak peluru yang didapat, dibandingkan kedua anak peluru yang ada di TKPternyata hasilnya identik. Artinya, identik itu garis-garis dari yangdihasilkan si anak peluru bukti maupun dari hasil uji penembakan itu segaris,ada garis-garis," paparnya. Identikberupa garis-garis ini istilahnya adalah galangan dan dataran, hanya dapatdilihat melalui mikroskop, diperbesar, difoto, dan terlihat segaris. Dari situ,menjadi bukti bahwa peluru memang berasal dari senjata yang dimaksud (Glock17).
