http://www.balipost.com/news/2018/11/04/60441/Dampak-Kemarau,Hektaran-Tanaman-Perkebunan...html
Dampak Kemarau, Hektaran Tanaman
Perkebunan di Kintamani Layu
Minggu, 4 November 2018 | 19:09:25
Berbagi di Facebook
<https://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2018%2F11%2F04%2F60441%2FDampak-Kemarau%2CHektaran-Tanaman-Perkebunan...html>
Tweet di Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Dampak+Kemarau%2C+Hektaran+Tanaman+Perkebunan+di+Kintamani+Layu&url=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2018%2F11%2F04%2F60441%2FDampak-Kemarau%2CHektaran-Tanaman-Perkebunan...html&via=balipostcom>
*
*
Tanaman jeruk yang dilanda kekeringan di Kintamani. (BP/ist)
BANGLI, BALIPOST.com – Musim kemarau sejak beberapa bulan terakhir
mengakibatkan hektaran lahan perkebunan di wilayah Kintamani
mengalami kekeringan. Dampaknya, tanaman holtikultura milik petani,
seperti jeruk dan tomat yang kini tengah berbuah kondisinya layu dan
terancam mati.
Seperti yang terjadi di Desa Sukawana. Salah seorang petani setempat, I
Wayan Armada mengngkapkan, dampak kemarau tahun ini telah mengakibatkan
tanaman jeruknya layu. Dirinya tidak bisa melakukan penyiraman maksimal,
lantaran membutuhkan air yang banyak. Melihat kondisi tanamannya saat
ini, dirinya pun mengaku hanya bisa pasrah. Dirinya kini hanya bisa
melakukan penyemprotan dengan obat-obatan sambil menunggu hujan.
Menurut Armada, jika dalam sebulan ini hujan tak juga turun, dipastikan
tanaman jeruknya akan mati. Sebaliknya, jika hujan turun dalam waktu
dekat, maka tanaman jeruknya yang sudah layu akan bisa selamat. “Kalau
tak juga turun hujan, ya petani tentu akan menderita kerugian yang tidak
sedikit. Sekarang kita hanya bisa pasrah menunggu hujan,” ujarnya,
Minggu (4/11) kemarin.
Keringnya lahan perkebunan warga akibat dampak kemarau juga diakui
Perbekel Desa Sukawana, Ketut Nonog. Dia mengatakan kemarau yang melanda
wilayah desanya sejak empat bulan terakhir telah mengakibatkan banyak
tanaman milik petani layu dan mati. Terbatasnya air membuat petani tidak
bisa menyiram semua lahan perkebunannya setiap hari. “Sumber air ada.
Tapi tidak cukup kalau dimanfaatkan semua warga untuk menyiram lahan
perkebunan,” ujarnya.
Baca juga: Pulihkan Populasi, Ratusan Ribu Benih Ikan Ditebar di Danau Batur
<http://www.balipost.com/news/2017/04/28/7014/Pulihkan-Populasi,Ratusan-Ribu-Benih...html>
Nonog mengatakan dengan kondisi kekeringan saat ini, sejumlah petani di
desanya kini hanya bisa pasrah. Warga berharap kemarau panjang ini
segera berakhir dan segera berganti dengan musim hujan. “Harapan biar
cepat hujan. Sekarang cuaca teduh-teduh seperti ini, kemungkinan akan
cepat hujan,” kata Nonog.
Sementara itu, tak hanya di Sukawana, kekeringan akibat dampak kemarau
juga melanda lahan perkebunan warga di Desa Pinggan. Salah seorang
petani setempat I Made Darmawan menngatakan, kemarau kali ini telah
mengakibatkan banyak tanaman jeruk dan tanaman sayuran lainnya seperti
tomat , terung dan cabai menjadi layu. Dirinya mengaku tidak mampu
membeli air setiap hari untuk menyiram tanaman, mengingat lahan yang
dimiliki cukup luas dan kondisi cuaca yang panas. (dayu rina/balipost)