Siapa si yang tidak tahu moral Yusril. Menurut pengamatan saya Yusril adalah tipe orang yang cacat moral, dia adalah pendukung setia Masyumi yang pada tahun 1960 telah dibubarkan oleh Bung Karno, karena terlibat dalam pemberontakan PRRI. Karena Masyumi dibubarkan, maka pendukung Masyumi mengalihkan keanggotaannya kapada NU atau partai Islam kecil yang lain, jadi tidah heran jika Yusril saat ini bergagung dalam Partai Bulan Bintang (PBB).
Moral Yusril juga terungkap dalam dalam perbuatannya pada tahun 2000 ketiha Almarhum Gusdur dinobatkan sebagai Presiden NKRI, pada saat itu Gus Dur telah mengangkat Yusril sebagai Mentri Kehakiman, yang kemudian ditugaskan ke Belanda (Amsterdam), untuk menemui orang-orang yang tehalang pulang, oleh karena hak hidup mereka sebagai warga negara Indonesia telah dicabut oleh rezim totaliterisme militer pimpinan jenderal TNI AD Suharto, yang lazim disebut Orde Baru. Mereka yang terhalang pulang itu adalah para Mahasiswa Ikatan Dinas (Mahid) dan sejulah orang-orang Indonesia yang sedang bertugas di Luar negeri, karena meraka menolak keras kehadiran Orde Baruse bagai hasil dari kudeta merangkak yang dilakukan oleh jenderal TNI AD Suharto. Tugas Yusril ke Amsterdam antara lain adalah untuk mengurusi orang-orang yang terhalang pulang, agar supaya mereka dapat memperoleh keadilan, setelah 32 tahun berlalu mereka telah kehilangan kewarganegaraannya, karena mereka menolak untuk menandatangani surat pengakuan atas tegaknya Orde Baru sebagai hasil kudeta merangkak yang dilakukan oleh Jenderal TNI AD Suharto.. Di Amsterdam Yusril mengumbar jandi-janji yang muluk-muluk, dan berjanji akan melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan kehendak Gus Dur. Tapi setelah kembali ke Jakarta Yusril berbalik haluan, dan mengkhiyanati Gus Dur; dia Yusril berbalik memboikot semua tugas yang diberikan oleh Gus Dur, dan malah anti Gus Dur dalam kaitannya dengan kebijakan Gud Dur yang berkaitan dengan nasib orang-orang yang terhalang pulang. Sekarang Yusril nampaknya telah mengkhianati Partai yang di bentuknya sendiri yaitu PBB. Jadi memang sungguh relevan jika dikatakan bahwa Yusril adalah seorang yang mengindap cacat moral. Roeslan. Von: [email protected] [mailto:[email protected]] Gesendet: Dienstag, 6. November 2018 11:42 An: Gelora45; Noroyono 1963 Betreff: Re: [GELORA45] Yusril blak-blakan alasan tinggalkan Prabowo-Sandi Yusril kapok dengan Prabowo-Sandi ? Rupanya Thohir tahu keluh kesahnya ? On Tue, 6 Nov 2018 at 10:54, Noroyono 1963 [email protected] [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]> > wrote: Yusril blak-blakan alasan tinggalkan Prabowo-Sandi Selasa, 6 November 2018 14:51 Reporter : Sania Mashabi Yusril Ihza Mahendra. ©2018 Merdeka.com/Dwi Narwoko Merdeka.com - Advokat kondang sekaligus Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra membenarkan adanya ajakan capres-cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno untuk bergabung dalam tim pemenangan Pilpres 2019. Ajakan itu, kata dia, terjadi sekitar tiga bulan lalu langsung dari Sandiaga dan Waketum Partai Gerindra Ferry Juliantono. "Ya kira-kira sudah tiga bulan yang lalu. Tidak lama pencalonan presiden kan bulan Agustus ya, ya kira-kira di bulan Agustus-September," kata Yusril saat dihubungi merdeka.com, Selasa (6/11). Yusril akhirnya menolak bergabung dengan Prabowo-Sandi karena kecewa. Salah satunya alasannya, dia menilai ada kesan Prabowo-Sandi hanya ingin menguntungkan timnya sendiri, dan bukannya menganut sistem 'take and gift' atau timbal balik dalam koalisi. Yusril selama ini dikenal dekat dengan kubu Prabowo. Bahkan dia sebagai pengacara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kerap berseberangan dengan pemerintahan Jokowi. Tapi di Pilpres 2019, dia meninggalkan koalisi Prabowo... "Saya katakan, kami kan PBB dulu sudah pernah bantu Pak Prabowo ya, kita sudah bantu Pak Sandi maju gubernur DKI. Wagub DKI. Kami punya kepentingan juga nih kita berhasil lolos empat persen ke dalam DPR," ungkapnya. "Jadi kalau kami membantu Pak Prabowo-Pak Sandi apa yang sebaliknya bisa dibantu oleh Pak Prabowo dan Pak Sandi kepada kami. Tapi tidak ada jawaban," sambungnya. Selama ini, lanjutnya, tim Prabowo-Sandi tidak pernah merespon keinginanya. Bahkan setelah adanya draf aliansi yang dikeluarkan saat petinggi PBB bertemu Habib Rizieq di Arab Saudi. "Pak Kaban dan Pak Afriyansah Noor untuk bertemu Habib Rizieq ya dan membahas hal yang sama dan setelah itu mereka menyusun draf aliansi partai-partai dan itu diajukan ke Pak Prabowo, tapi sampai hari ini juga enggak ada respon," ungkapnya. Menurut Yusril, seharusnya dalam koalisi ada timbal balik yang sesuai. Pasalnya ia akan meluangkan banyak waktu untuk memenangkan Prabowo-Sandi. "Kalau saya diminta menjadi tim suksesnya Pak Prabowo-Pak Sandi saya kan akan all out kampanye siang malam mengkampanyekan pak Prabowo-Pak Sandi, tapi harus diingat saya juga jadi caleg di Jakut. Kan bakal habis waktu saya untuk kampanye Pak Prabowo-Pak Sandi," ujarnya. Dia menilai, Prabowo sebagai pimpinan koalisi seharusnya berbicara pada semua partai koalisinya untuk bisa sama-sama memenangkan Pileg dan Pilpres bersamaan. Hal itu, kata dia, baru disebut sebagai timbal balik... "Tapi apakah partai koalisinya juga ya semuanya bisa masuk ke parlemen itu baru namanya kita saling berkerja sama, tapi kalau cuman kami diminta bantu bapak, bapak enggak mau bantu kami gimana jadinya. Tentu tidak pernah ada jawaban waktu itu jawaban Pak Sandi dan Pak Ferry ya nanti kami akan bicarakan sama Pak Prabowo tapi sampai hari ini tidak pernah ada jawaban," ucapnya. Diketahui, Pengacara kondang Yusril Ihza Mahendra resmi menjadi kuasa hukum Capres dan Cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019. Padahal, Yusril selama ini diketahui kerap berseberangan dengan Jokowi dan lebih dekat dengan oposisi. Waketum Gerindra, Ferry Juliantono mengungkap, pihaknya sempat mengajak Ketum PBB itu untuk bergabung. Bahkan yang mengajaknya langsung Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno. "Saya sendiri bersama Pak Sandiaga Unopernah menemui Pak Yusril dalam rangka mengajak berjuang bersama," kata Ferry saat dihubungi merdeka.com, Selasa (6/11). [rnd]
