ANALISIS
*Pertaruhan KPK Bongkar Skandal Century di Tahun Politik*
CNN Indonesia | Kamis, 15/11/2018 08:39 WIB
Pertaruhan KPK Bongkar Skandal Century di Tahun PolitikKPK berusaha
membongkar kembali skandal korupsi Bank Century dengan membuka
penyelidikan baru menjelang Pemilu 2019. (CNN Indonesia/ Astari
Kusumawardhani)
Jakarta, CNN Indonesia --*Komisi Pemberantasan Korupsi
<https://www.cnnindonesia.com/tag/kpk>* (KPK) membuka kembali
penyelidikan baru kasus dugaan *korupsi
<https://www.cnnindonesia.com/tag/korupsi>*pemberian Fasilitas Pendanaan
Jangka Pendek (FPJP) dan penetapan*Bank Century
<https://www.cnnindonesia.com/tag/bank-century>* sebagai bank gagal
berdampak sistemik. Dalam kasus itu, lembaga antirasuah baru menjerat
Budi Mulya.
Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang IV Pengelolaan Moneter dan
Devisa itu telah divonis 15 tahun penjara, di tingkat kasasi Mahkamah
Agung (MA), pada 2015. Setelah itu KPK tampak tak melakukan pergerakan
untuk memproses pihak lain.
Setelah tiga tahun berjalan, sidang praperadilan PN Jakarta Selatan
mengeluarkan putusan dengan nomor 24/Pid.Prap/2018/Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan, pada 9 April terkait kasus itu. Praperadilan itu
sendiri diajukan oleh Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia
(MAKI) Boyamin Saiman.
Lihat juga:
KPK Sudah Periksa 21 Orang di Penyelidikan Baru Kasus Century
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181113190145-12-346271/kpk-sudah-periksa-21-orang-di-penyelidikan-baru-kasus-century/>
Pengadilan memerintahkan KPK melanjutkan penanganan kasus Bank Century
dan segera memproses hukum Boediono, Muliaman D Hadad, Hartadi, Miranda
Swaray Gutom, dan Raden Pardede.
KPK lantas memulai kembali penyelidikan kasus yang disinyalir merugikan
negara hingga Rp8 triliun itu. Sekitar 21 orang yang berasal dari unsur
Bank Indonesia (BI), kementerian, dan pihak swasta, telah diminta
keterangannya.
Kemarin, penyelidik KPK memanggil mantan Deputi Gubernur Senior BI
Miranda Swaray Goeltom dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) Wimboh Santoso.
Bank Century dan Potensi Kecil Terjun Bebas Suara DemokratFoto: CNN
Indonesia/Timothy Loen
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengisyaratkan bakal ada tersangka baru
dalam kasus Bank Century. Namun, Saut meminta semua pihak bersabar
menunggu penyelidikan baru yang tengah dilakukan ini.
"Sabar dulu, saatnya akan ada [tersangka baru]. Semua diatur oleh
KUHAP," kata Saut kepada/CNNIndonesia.com/, Rabu (14/11).
Saut menegaskan pengusutan kasus Bank Century yang kembali dilakukan
pihaknya tak ada kaitan dengan kontestasi Pemilu 2019. Menurutnya, KPK
hanya akan memproses kasus jika ada bukti keterlibatan pihak lain.
Lihat juga:
'Sentilan' SBY dan Polemik Kasus Century
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180422152639-32-292643/sentilan-sby-dan-polemik-kasus-century/>
"Tidak [berkaitan dengan Pemilu 2019] lah. Kriminal ya kriminal saja.
Kalau bisa dibuktikan, ya diproses," cetus dia.
Upaya KPK membuka penyelidikan baru soal kasus Bank Century di tahun
politik bagaimanapun jadi sorotan dari kaca mata politis.
Kasus dugaan korupsi Bank Century terjadi saat Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY), yang juga Ketua Umum Partai Demokrat, menjadi Presiden RI. Selain
itu, salah satu nama yang disebut dalam putusan Budi Mulya adalah
Boediono, yang merupakan wakil presiden yang mendampingi SBY pada
periode keduanya, 2009-2014.
SBY sendiri sudah buka suara mengenai tudingan keterlibatannya dalam
kasus dugaan korupsi Bank Century. Dia mengaku menahan emosi selama 10
tahun karena kerap dicurigai terlibat dalam kasus Bank Century.
Pertaruhan KPK Bongkar Skandal Century di Tahun PolitikSusilo Bambang
Yudhoyono. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
"Saya menahan emosi saya karena selama hampir 10 tahun ini saya pribadi,
keluarga dan PD terus dituduh dicurigai bahkan difitnah seolah-olah ada
kejahatan yang kami lakukan. Seolah-olah menerima aliran dana dari Bank
Century. 10 tahun saya dan keluarga dan Demokrat menahan segala perasaan
itu," kata SBY dalam pidato penutupan pembekalan caleg DPR RI dari
Partai Demokrat di Jakarta, Minggu (11/11).
SBY juga berharap agar seluruh masyarakat Indonesia bisa ikut merasakan
apa yang ia rasakan.
"Perasaan kami sudah sangat lelah dan sebenarnya menderita kami
dicurigai, dituduh dan difitnah seolah terima aliran dana Century," ujarnya.
Eks Wapres Boediono saat bersaksi dalam sidang lanjutan terdakwa korupsi
SKL BLBI Syafruddin Arsyad di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 19 Juli.Eks
Wapres Boediono saat bersaksi dalam sidang lanjutan terdakwa korupsi SKL
BLBI Syafruddin Arsyad di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 19 Juli. (CNN
Indonesia/Safir Makki)
Terlepas dari kegeraman SBY, pengamat menganggap pengaruh penyelidikan
kasus Bank Century terhadap citra SBY dan suara Partai Demokrat tak akan
signifikan seperti yang terjadi pada Pemilu 2014. Pasalnya, kasus ini
belum menyeret langsung kader Partai Demokrat.
"Menurut saya cenderung tidak cukup besar. Karena ibarat ini seolah-olah
sedang mengungkit persoalan lama di tahun politik," kata pengamat
politik dari Universitas Padjadjaran, Idil Akbar
kepada/CNNIndonesia.com/, belum lama ini.
Namun, menurut Idil, tetap tak bisa dihindari bila masyarakat mengaitkan
kasus Bank Century dengan Presiden keenam RI itu. Terlebih, SBY adalah
patron di Demokrat.
"Karena ini menyasar pada sosok SBY, patron dari Demokrat ini akan
berikan pengaruh," ujarnya.
Lihat juga:
Ketua KPK Pastikan Kasus Century Lanjut seperti BLBI
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180417182007-12-291499/ketua-kpk-pastikan-kasus-century-lanjut-seperti-blbi/>
Hal ini akan berbeda dengan kasus pada Pemilu 2014. Saat itu, raihan
suara Partai Demokrat terjun bebas lantaran sejumlah kasus korupsi yang
langsung menjerat kadernya.
Diketahui, pada Pemilu 2009, Demokrat mendapat 21,7 juta suara atau
20,85 persen. Kemudian pada Pemilu 2014, Demokrat hanya mendapat 12,7
juta atau 10,19 persen suara.
Ketika itu, sejumlah kader partai berlambang bintang mercy yang menjadi
tersangka di KPK, antara lain Angelina Sondakh, Anas Urbaningrum,
Muhammad Nazaruddin, hingga Andi Mallarangeng.
Bank Century dan Potensi Kecil Terjun Bebas Suara DemokratFoto:
CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Berdasarkan survei LSI Denny JA terkait elektabilitas partai jelang
Pemilu 2019 pada September 2018, Demokrat hanya mendapat 5,2 persen.
Perolehan hasil dari survei itu berada tipis di atas ambang batas
parlemen sebesar 4 persen.
"Jadi saya kira memang kenapa kemudian Demokrat berupaya keras untuk
kemudian mencoba meningkatkan elektabilitas itu dengan fokus mereka
untuk Pemilu," kata Idil.
Lihat juga:
Hakim Praperadilan Dimutasi karena Minta KPK Seret Boediono
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180426161814-12-293833/hakim-praperadilan-dimutasi-karena-minta-kpk-seret-boediono/>
Eks Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat Angelina Sondakh, di
Pengadilan Tipikor Jakarta, beberapa waktu lalu.Eks Anggota DPR dari
Fraksi Partai Demokrat Angelina Sondakh, di Pengadilan Tipikor Jakarta,
beberapa waktu lalu. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)
Kepala Divisi Hukum dan Advokasi DPP Demokrat Ferdinand Hutahaean
menegaskan kasus dugaan korupsi Bank Century sama sekali tak terkait
dengan Demokrat. Pihaknya pun mendukung KPK menuntaskan kasus tersebut.
"Bagi kami, Century itu sudah selesai dan tidak ada lagi kaitannya
dengan Demokrat. Rekomendasi DPR jelas dulu, tidak ada menyebut
Demokrat," kata Ferdinand.
"Kami tentu akan mendukung KPK untuk menuntaskan kasus Century," tutup dia.
*(fra/arh)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com