Jokowi Tidak Boleh Kalah, Sontoloyo 
https://www.ngopibareng.id/timeline/jokowi-tidak-boleh-kalah-sontoloyo-4431210 
03 Nov 2018 21:01 Politik https://www.ngopibareng.id/timeline/category/politik
 
 Seperti orang yang tidur berselimutkan kain sarung yang kependekan. Bila 
terlalu ditarik ke atas, bagian tubuh bawah akan kedinginan. Sementara bila 
ditarik ke bawah, bagian atas tubuh yang kedinginan. Tamsil itu sangat pas 
untuk menggambarkan dilema Jokowi saat ini.


 

 Persiapan Presiden Jokowi menghadapi Pilpres 2019 sempurna sudah. Seluruh 
desa, kota dan orang miskin, sudah berada dalam genggamannya. Pemerintah akan 
segera mengucurkan dana kelurahan. “1 Januari,” kata Menteri Keuangan Sri 
Mulyani seusai Rapat Terbatas, Jumat (2/11) di Istana Bogor.
 Rencana pengucuran dana kelurahan sebesar Rp 3 triliun inilah yang sempat 
memicu umpatan Jokowi, “Politikus Sontoloyo.” Jokowi mengaku tak mampu menahan 
kekesalannya karena politisi oposisi menentang usulan pemerintah untuk 
pemberian dana tersebut.
 Bagi kalangan oposisi, bukan masalah dananya yang dipersoalkan. Tapi masalah 
timingnya. Waktunya pengucuran dana yang dilakukan berdekatan dengan 
pelaksanaan Pilpres 2019 pada 17 April, rawan disalahgunakan. Mereka 
menghendaki, pelaksanaannya dilakukan setelah Pilpres. Toh dari sisi waktu 
tidak terlalu lama, dan dana tersebut tidak terlalu mendesak.
 
 Sebaliknya bagi Jokowi, pengucuran dana sebelum Pilpres tentu sangat penting. 
Program ini akan melengkapi berbagai program populis lain yang telah ditebar. 
Sebelumnya pemerintah telah memiliki program dana desa. Alokasi dana desa dalam 
RAPBN tahun 2019 sebesar Rp 832,3 triliun. Jumlah itu meningkat 9 persen dari 
tahun sebelumnya, atau meningkat 45,1 persen dari realisasinya di tahun 2014 
sebesar Rp 573,7 triliun. Dana ini disalurkan melalui  Kementrian Desa, Daerah 
Tertinggal, dan Transmigrasi.
 

 Di luar dana tersebut, melalui Kementrian Sosial, pemerintah juga telah 
memiliki Program Keluarga Harapan (PKH). Program ini merupakan bantuan dana 
untuk para keluarga miskin, semacam program Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada 
masa Presiden SBY.
 Pada tahun ini anggaran untuk PKH meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan 
tahun 2018. Dari sebelumnya hanya Rp 17 triliun, pada tahun 2019 meningkat 
menjadi Rp 32 triliun. Dana PKH ini diberikan kepada 10 juta keluarga miskin di 
seluruh Indonesia. Dengan asumsi setiap KK terdiri empat jiwa, maka program ini 
telah menjangkau 40 juta jiwa.
Sistem pemberiannya juga diubah. Dari sistem flat, masing-masing KK menerima Rp 
1.890.000,-, menjadi non flat. Untuk keluarga yang memiliki lansia, wanita 
hamil, dan anak-anak usia sekolah bisa menerima bantuan sampai sebesar Rp 3.5 
juta/KK, minimal Rp 2 juta/KK.
 
 Program-program semacam ini berkaca pada apa yang dilakukan oleh SBY, sangat 
efektif untuk menjaring dukungan dari masyarakat. Kalangan masyarakat kelas 
bawah  pasti tidak bisa membedakan, antara anggaran negara, dengan anggaran 
milik pribadi. Yang mereka tahu, pada masa pemerintahan Jokowi mereka menikmati 
bantuan yang melimpah.
 

 Berdasarkan sejumlah survei, elektabilitas Jokowi di kalangan pemilih 
pedesaan, pendidikan rendah, dan miskin, sangat kuat. Sebaliknya di kalangan 
pemilih perkotaan, terdidik, dan ekonomi menengah, dukungan terhadap Jokowi 
masih lemah. Dalam konteks inilah dana kelurahan yang menjangkau masyarakat 
perkotaan menjadi sangat penting. Sangat wajar bila Jokowi sangat geram dan 
sampai mengeluarkan umpatan, karena merasa dihalang-halangi rencananya.
 Sudah menjadi rahasia umum bahwa berbagai bantuan tersebut akan dimanfaat 
sepenuhnya oleh pemerintah menjadi program pencitraan. Sangat efektif untuk 
dikapitalisasi menjadi alat kampanye. Itu memang menjadi keuntungan seorang 
inkumben seperti Jokowi.
  
 Ironi di tengah bencana
 
 Gelontoran berbagai dana yang dengan mudah dikeluarkan oleh Jokowi, ditengah 
keterbatasan anggaran pemerintah ini, menjadi sebuah ironi. Apalagi bila 
dikaitkan dengan amburadulnya penanganan berbagai bencana.
 

 Di Lombok para korban bencana sampai harus berunjukrasa menuntut pencairan 
bantuan yang dijanjikan pemerintah.
 Secara simbolis ketika mengunjungi lokasi gempa, Presiden Jokowi menyerahkan 
bantuan untuk para korban. Untuk rumah warga yang rusak berat diberikan bantuan 
sebesar Rp 50 juta, rusak sedang Rp 25 juta, dan untuk rumah rusak ringan 
diberikan bantuan Rp 10 juta. Kendati sudah tertera di dalam rekening buku 
tabungan yang diberikan oleh Jokowi, ternyata dananya tidak bisa dicairkan.
 Untuk mengatasi masalah tersebut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPD) 
NTB mempersilakan warga berhutang ke bank. “Sangat boleh utang ke bank. Nanti 
kalau dana sudah cair dari pemerintah, bisa untuk membayar utang,” kata Kepala 
BNPD NTB Muhammad Rum.
 
 Kapan dana bantuan dari pemerintah itu akan turun? Soal ini sampai sekarang 
belum ada kejelasannya. Namun sesuai dengan komitmen dengan Bank Dunia, 
pemerintah akan mendapat dana pinjaman sebesar USD 1 miliar, atau Rp 15 triliun 
untuk bantuan dana rekonstruksi di Lombok dan Sulawesi Tengah.
 

 Mengapa pemerintah memilih berhutang untuk membantu para korban bencana, namun 
disisi lain masih terus mengucurkan anggaran program populis? Agak sulit 
menepis kecurigaan hal itu erat kaitannya dengan kepentingan Pilpres 2019. 
Dana-dana tersebut sangat penting untuk menguatkan dukungan pemilih kepada 
Jokowi. Jadi ini semacam money politics, menggunakan anggaran negara.
 Pemerintah sesungguhnya juga punya pintu darurat untuk membantu para korban 
bencana, yakni melalui pemanfaatan sisa anggaran di sejumlah departemen. Dari 
tahun ke tahun penyerapan anggaran pemerintah di sejumlah departemen dan 
kementrian masih rendah.
 Berdasarkan catatan Departemen Keuangan, sampai bulan Agustus 2018, penyerapan 
anggaran baru mencapai 58.70% dari pagu APBN. Hingga 6 Agustus 2018, penyerapan 
anggaran di Kementrian PUPR baru 38,1 persen dari total Rp 113,71 triliun. 
Sementara, realisasi fisik baru 41,78 persen.
 
 Seharusnya pemerintah bisa mengusulkan perubahan anggaran (APBNP) ke DPR. 
Namun bila itu dilakukan, dipastikan program pemerintah yang dikaitkan dengan 
pencitraan akan sangat terganggu. Kementrian PUPR yang menangani berbagai 
proyek infrastruktur pasti tidak mungkin dipangkas anggarannya. Infrastruktur 
adalah jualan utama Jokowi pada Pilpres 2019. Karena itu kementrian PUPR 
merupakan departemen yang paling besar anggarannya. 
 

 Benturan kepentingan (conflict of interest)  antara pencitraan dan kebutuhan 
untuk penanganan bencana, serta anggaran-anggaran lainnya yang mendesak, 
membuat pemerintah kalang kabut untuk menentukan prioritas.
 Belum lagi berbagai program pencitraan pemerintah yang sangat berat diongkos 
seperti Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat  (JKN-KIS) melalui 
program BPJS Kesehatan. Seperti kata Dirut BPJS Kesehatan Fahmi Idris utang 
mereka yang jatuh pada akhir pekan ini sebesar Rp 7.2 triliun. Darimana 
pemerintah akan menambal kebocoran anggaran tersebut? Bila tidak dibayar, 
dampaknya akan sangat serius bagi kelangsungan program andalan Jokowi itu.
 
 Seperti orang yang tidur berselimutkan kain sarung yang kependekan. Bila 
terlalu ditarik ke atas , bagian tubuh bawah akan kedinginan. Sementara bila 
ditarik ke bawah, bagian atas tubuh yang kedinginan. Tamsil itu sangat pas 
untuk menggambarkan dilema Jokowi saat ini.
 

 Dengan target harus menang pada Pilpres 2019, wajar bila Jokowi dan para 
pejabatnya sering menunjukkan perilaku yang tidak terkontrol. Gejala stress 
karena menghadapi tekanan berat, mulai tampak. Muncullah berbagai umpatan, 
“kebangetan, kampungan, Sontoloyo,” dan entah apalagi?
 Seorang penulis feminis kelahiran Lithuania Emma Goldman pernah mengingatkan 
politicians promise you heaven before election, and give you hell after. 
Politisi akan menjanjikan surga sebelum pemilu, dan memberimu neraka 
setelahnya. end
  
 
 *) Oleh Hersubeno Arief, wartawan senior yang kini menjadi konsultan media dan 
politik

Kirim email ke