https://tirto.id/eksekusi-mati-dn-aidit-berasal-dari-perintah-soeharto-dahf
22 November 1965
Eksekusi Mati D.N. Aidit Berasal dari
Perintah Soeharto
Dipa Nusantara Aidit. tirto.id/Sabit
<https://tirto.id/eksekusi-mati-dn-aidit-berasal-dari-perintah-soeharto-dahf>
Dipa Nusantara Aidit. tirto.id/Sabit
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 22 November 2018
Dibaca Normal 4 menit
/D.N. Aidit gagal mengonsolidasi kekuatan partai setelah G30S meletus.
Ia pun tertangkap dan dieksekusi atas perintah Soeharto./
tirto.id <https://tirto.id/> - Gara-gara peristiwa G30S Kolonel Jasir
Hadibroto dan pasukannya tak jadi melakukan operasi ke Malaysia. Pada 2
Oktober 1965 ia yang saat itu berada di Kisaran, Sumatra Utara,
memperoleh kabar terjadinya gegeran di Jakarta. Kolonel Jasir lantas
dipanggil ke Jakarta untuk suatu tugas baru.
Kolonel Jasir tiba di Jakarta pada sore 13 Oktober. Tak buang waktu,
sebelum ganti hari ia melapor ke Markas Komando Cadangan Strategis
Angkatan Darat (Kostrad) di Medan Merdeka Timur. Ia langsung bertemu
dengan Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto.
“Kolonel Jasir di mana dulu ketika terjadi pemberontakan PKI Madiun
tahun 1948?” tanya Soeharto.
“Saya waktu itu baru saja dihijrahkan dari Jawa Barat. Kompi saya lalu
mendapat tugas menghadapi tiga batalyon Komunis di daerah Wonosobo,
Pak!” jawab Jasir.
“Nah yang memberontak sekarang ini adalah anak-anak PKI Madiun dulu.
Sekarang bereskan itu semua. D.N. Aidit ada di Jawa Tengah. Bawa
pasukanmu ke sana.”
“Siap kerjakan,” jawab Jasir, seperti dikisahkannya kepada /Kompas
/(5/10/1980).
Demikianlah akhirnya komandan Brigade Infanteri IV/Diponegoro itu
mendapat mandat “membereskan” orang nomor satu PKI yang buron ke Jawa
Tengah.
Pelarian Aidit
Tak sampai 24 jam sejak penculikan jenderal-jenderal TNI AD dan Letkol
Untung Syamsuri mengumumkan pengambilalihan kekuasaan melalui RRI,
gerakan itu sudah layu di tangan Mayjen Soeharto. Pemimpin-pemimpinnya
kabur entah ke mana.
/Kronik ’65 /(2017) susunan Kuncoro Hadi dan kawan-kawan menyebut bahwa
pada malam 1 Oktober, pukul 19.20, pasukan dari Resimen Para Komando
Angkatan Darat (RPKAD) berhasil merebut Gedung Telekomunikasi dan RRI.
Begitu juga kawasan Medan Merdeka berhasil dikuasai kembali tanpa
perlawanan berarti dari gerombolan G30S (hlm. 267).
Sejak itu, AD yang dipimpin sementara oleh Soeharto sudah menguasai
keadaan. Operasi selanjutnya diarahkan ke Pangkalan Udara Halim
Perdanakusuma, tempat para pimpinan utama G30S bermarkas. Tengah malam
itu juga Soeharto memberangkatkan lima kompi RPKAD berkekuatan 600
personel menuju ke sana.
Usai kontak senjata yang menewaskan tiga prajurit RPKAD dan dua prajurit
AU, Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma berhasil direbut. Namun, RPKAD
gagal meringkus Aidit dan pimpinan G30S lainnya. Dini hari, 2 Oktober
sekitar pukul 01.00, Aidit telah terbang menuju Yogyakarta dengan
pesawat Dakota T-443 (hlm. 290).
Tujuan Aidit mulanya bukan untuk kabur, tetapi mengonsolidasi kekuatan.
Meski baru tiba di Yogyakarta, Aidit langsung bertolak ke Semarang
menemui beberapa pentolan PKI yang ada di sana.
“Di Semarang, DN Aidit mengadakan rapat bersama MH Lukman dan Sakirman
bersama jajaran PKI Semarang. Rapat ini menghasilkan pernyataan bahwa
G30S adalah masalah internal AD dan PKI tidak ada sangkut pautnya dengan
gerakan ini. Rapat juga menghasilkan keputusan bahwa tugas utama partai
adalah melakukan konsolidasi,” tulis Kuncoro Hadi dan kawan-kawan (hlm.
293).
Tujuan mereka jelas: menyelamatkan partai dari serangan AD. Dari
Semarang Aidit dan Lukman lalu menuju Boyolali dan Surakarta. Di
Surakarta ia berapat dengan pimpinan PKI provinsi dan simpatisan
militer. Utomo Ramelan, wali kota Surakarta yang juga kader PKI, menolak
keputusan Semarang.
Utomo Ramelan dan beberapa kader lainnya memilih untuk mendukung G30S
dan Dewan Revolusi. Suara Aidit kalah oleh kadernya sendiri. Mereka
menuntut PKI berani melancarkan perjuangan bersenjata.
“PKI pun terbelah dalam sayap radikal dan sayap moderat yang
menjerumuskannya dalam kekacauan,” tulis sejarawan Peter Kasenda dalam
/Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI/ (2016: 135).
Selama beberapa hari kemudian Aidit berkeliling Jawa Tengah dan Jawa
Timur. Ia mencoba mencegah pecahnya pertikaian dengan pihak-pihak
antikomunis dan militer. Ia juga mencoba tetap menjalin komunikasi
dengan Sukarno melalui Panglima AU Laksamana Madya Omar Dani, berharap
Pemimpin Besar Revolusi itu masih percaya kepadanya.
Seperti yang sudah ia duga sendiri, PKI menjadi bulan-bulanan RPKAD.
Perburuan pimpinan dan kader PKI terjadi di mana-mana dalam skala yang
tak terbayangkan. Aidit tak bisa berbuat banyak dalam pelariannya.
Kuncoro Hadi dan kawan-kawan mencatat Aidit menerbitkan instruksi yang
ditujukan kepada pengurus Comite Daerah Besar PKI pada 11 Oktober.
Isinya memperbolehkan tiap cabang partai membubarkan diri jika keadaan
darurat. Ia juga melarang kader melakukan perlawanan secara frontal.
Saat itu desakan dari ormas antikomunis agar Presiden Sukarno
membubarkan PKI mulai mengemuka. Seminggu kemudian, 17 Oktober, Soeharto
selaku panglima AD yang baru mengumumkan secara resmi bahwa PKI adalah
dalang peristiwa G30S.
“Dia juga mengumumkan bahwa tanggal 1 Oktober diperingati sebagai hari
Kesaktian Pancasila,” tulis Kuncoro Hadi dan kawan-kawan (hlm. 429).
Aidit sendiri sudah tak jelas di mana jejaknya. Namun, dari tempat
persembunyiannya ia masih menerbitkan instruksi-instruksi kepada
kadernya untuk menyelamatkan partai.
Menurut Peter Kasenda, instruksi terakhir dari Aidit kepada seluruh
kader PKI terbit pada 10 November. Dalam instruksi itu Aidit meminta
para petinggi PKI untuk mempertahankan partai (hlm. 135). Instruksi ini
terasa janggal, mengingat sebelumnya Aidit membolehkan pembubaran
pengurus cabang jika darurat. Lainnya adalah instruksi untuk
mempertahankan daerah basis di Jawa, dan sekali lagi menghindari
perlawanan frontal.
Baca juga: Religiusitas Aidit, Tragedi Abdullah
<https://tirto.id/religiusitas-aidit-tragedi-abdullah-cQaj>
Aidit Dibereskan
Sesampainya di Jawa Tengah, pada 9 November Kolonel Jasir dilantik
sebagai Pelaksana Kuasa Perang (Pekuper) Daerah Surakarta. Entah
kebetulan atau memang telah diketahui sebelumnya, di kota ini pula Aidit
dikabarkan bersembunyi. Hanya saja tak terlalu terang di mana persisnya.
Untuk memuluskan rencananya, Kolonel Jasir melibatkan Sri Harto, seorang
intel AD yang disusupkan ke serikat buruh pengecoran logam di Surakarta
yang berafiliasi dengan PKI. Sri Harto berhasil mendekati pengawal Aidit
dan mendapat kepercayaan mereka. Dari upaya Sri Harto inilah posisi
persembunyian Aidit di Desa Sambeng berhasil diketahui.
Dalam pengakuannya kepada /Kompas /(29/9/1985) Sri Harto memperoleh
informasi tempat persembunyiannya dari Siswadi, ketua Baperki Surakarta.
Keduanya sama-sama tinggal di Desa Kerten. Siswadi sendiri yang meminta
tolong kepada Sri Harto untuk mencarikan tempat persembunyian bagi Aidit
pada 10 November.
Sri Harto tak langsung mengiyakan permintaan itu. Ia minta waktu
berpikir dan akan mengabari Siswadi jika ia siap. Kesempatan itu
dimanfaatkan Sri Harto untuk melapor dan suatu rencana penyergapan pun
dirancang.
Seperti dikisahkannya kepada /Kompas /(5/10/1980) Kolonel Jasir
melakukan strategi pengelabuan untuk mengendurkan kewaspadaan para
pengawal Aidit. Dalam sebuah apel yang bisa disaksikan masyarakat umum,
Kolonel Jasir menyatakan bahwa keadaan Kota Surakarta telah aman.
Karenanya, para prajurit diperbolehkan cuti selama seminggu.
Lalu pada 17 November diadakan operasi bodong ke Desa Kerten, tempat
tinggal Siswadi. Saat itu Sri Harto muncul dan mengungsikan Siswadi ke
Palur.
Akhirnya, tanpa ragu Siswadi membawa Sri Harto ke rumah persembunyian
Aidit di Sambeng keesokan harinya. Rupanya Aidit bersembunyi di rumah
seseorang bernama Kasim alias Hardjomartono. Rencananya, hari itu juga
Aidit akan diungsikan ke rumah Sri Harto.
“Lalu malamnya, atas permintaan Sri Harto, dilakukan operasi pembersihan
di sekitar Kampung Sambeng. Keesokan harinya Kasim melaporkan kejadian
itu kepada Ketua Partai. Sri Harto pun kian mendapat kepercayaan,” tulis
/Kompas/.
Sesuai rencana, lima hari kemudian operasi penangkapan dilakukan.
Lagi-lagi dengan taktik pengelabuan. Sri Harto menyampaikan kepada Aidit
dan Siswadi bahwa akan ada operasi di Kerten. Mereka pun mengungsikan
Aidit ke Sambeng, di rumah Kasim semula.
Lalu pukul 19.00, pasukan Kolonel Jasir bergerak ke Sambeng. Namun,
anehnya Aidit tak ditemukan di rumah Kasim, padahal Sri Harto sendiri
yang mengantar Aidit ke sana. Tetapi akhirnya setelah diinterogasi,
Kasim mengaku bahwa Aidit bersembunyi di suatu ruang rahasia di balik
sebuah lemari di rumahnya.
Baca juga: Ketika Aidit dan PKI Mendorong Indonesia Keluar dari IMF
<https://tirto.id/ketika-aidit-dan-pki-mendorong-indonesia-keluar-dari-imf-c7g1>
Infografik Mozaik Hari Terakhir Aidit
Operasi kedua lalu dilakukan pada tengah malam. Aidit ternyata memang
bersembunyi di ruang rahasia sesuai petunjuk Kasim. Pelarian Aidit pun
berakhir.
Pada 22 November 1965, tepat hari ini 53 tahun lalu, di pagi buta,
Kolonel Jasir membawa Aidit ke Loji Gandrung untuk diproses verbal. Dari
sana Aidit digiring menuju Semarang, ke markas Kodam Diponegoro. Namun,
Aidit tak pernah sampai ke Semarang atau bahkan diadili.
Baca juga: Jasir Hadibroto dan Eksekusi Mati D.N. Aidit
<https://tirto.id/jasir-hadibroto-dan-eksekusi-mati-dn-aidit-cPvz>
Ketika tiba di suatu desa di Boyolali, Kolonel Jasir membelokkan mobil
menuju sebuah rumah yang dijadikan markas satuan Kostrad. Di situ Aidit
digiring ke sebuah sumur tua. Kolonel Jasir mempersilakan Aidit
menyampaikan pesan terakhirnya.
Di pengujung waktunya, Aidit berpidato. Berapi-api pula. Itu bikin Jasir
kesal. Tak ingin mendengar ocehan Aidit lebih lama lagi, Jasir
meletuskan senjatanya. Aidit tewas terjungkal ke sumur.
Setelah berminggu-minggu operasi, tunai sudah tugasnya “membereskan”
Aidit sesuai perintah Soeharto.
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA
<https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
<https://tirto.id/author/fadrikazizfirdausi?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Detik-detik terakhir menjelang dieksekusi, Aidit sempat pidato berapi-api.