https://www.antaranews.com/berita/770756/debat-capres-yang-mencerdaskan
Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Debat capres yang mencerdaskan
Kamis, 22 November 2018 20:56 WIB
Dokumentasi - Debat Capres Terakhir Capres Joko Widodo (kanan)
menyampaikan visi misi disaksikan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta
Rajasa (kiri) saat debat final di Jakarta, Sabtu (5/7). (ANTARA
FOTO/Prasetyo Utomo/pras/14)
Sebagaimana yang sudah dirancang oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU),
rangkaian kampanye menuju Pemilihan Presiden 2019 antara lain diisi
dengan forum debat yang melibatkan calon presiden dan calon wakil presiden.
Publik sangat berharap bahwa KPU dapat memformat perdebatan itu
sedemikian rupa dengan memilih moderator yang netral tak berpihak pada
salah satu capres dan pasangannya sehingga forum itu menjadi ajang
pertarungan gagasan dan argumentasi yang bermutu, tak mengecewakan salah
satu kubu capres-cawapres.
Tugas yang paling berat bagi KPU adalah memilih moderator dan tokoh
netral yang akan dilibatkan dalam forum debat itu. Dalam percaturan
politik dan proses bernegara selama lima tahun belakangan ini,
kebanyakan kaum intelektual bersuara dan memperlihatkan inklinasi mereka
terhadap salah satu kandidat yang akan berlaga pada Pilpres 2019.
Pilpres 2019 adalah pertarungan ulang Pilpres 2014 untuk figur capres,
namun para cawapresnya tak satu pun yang berlaga sebagai cawapres pada
pemilihan presiden sebelumnya.
Poin penting lain yang perlu dipertimbangkan oleh KPU adalah menentukan
tema-tema substansi debat, yang tentu saja bisa ditawarkan kepada publik
sebelumnya lewat jajak pendapat. KPU bisa melibatkan masyarakat untuk
mengusulkan tema-tema penting dan menarik sebagai bahan perdebatan.
Tema-tema yang bisa menghadirkan perdebatan hangat bahkan panas seperti
isu hak asasi manusia, korupsi, pengangguran, peradilan yang belum ideal
agaknya tak boleh diabaikan.
Mengacu pada perdebatan capres-cawapres pada Pilpres 2014, tata cara
jalannya debat tampaknya perlu diperbaiki untuk memberikan kesempatan
kepada masing-masing kandidat beradu opini.
Artinya: sesi pertanyaan oleh moderator lalu dijawab oleh kandidat
secara bilateral perlu dikurangi. Yang harus diperbanyak adalah
membiarkan perdebatan langsung antara masing-masing capres-cawapres yang
sedang berkompetisi.
Dengan kata lain, berikanlah ruang yang lebih leluasa kepada petahana
dan penantang untuk beradu opini dan argumentasi, dan moderator tinggal
menjadi wasit yang adil ketika salah satu kandidat terlalu banyak
mendominasi penggunaan waktu berdebat.
Menurut beberapa hasil jajak pendapat oleh lembaga survei, performa
kandidat dalam forum perdebatan punya dampak positif terhadap
elektabilitas masing-masing capres-cawapres, meskipun nilainya tak
begitu signifikan.
Namun, sejarah membuktikan bahwa ketangkasan dan kejenialan capres dalam
forum debat tak menjamin kemenangan dalam pilpres. Itu dibuktikan oleh
fakta dalam sejarah pilpres di Amerika Serikat ketika kandidat presiden
dari Partai Republik Ronald Reagan berkompetisi melawan Walter Mondale,
capres yang diusung Partai Demokrat.
Pengamat politik menilai bahwa dalam perdebatan itu, argumen-argumen
Mondale lebih bernas dan kuat dibandingkan dengan tanggapan Reagan dalam
membahas suatu masalah. Namun hasil akhir memperlihatkan bahwa Reagan
lah yang memenangi pertarungan Pilpres AS pada 1984 itu.
Kecemerlangan intelektual Mondale itu tak sanggup mengalahkan daya pukau
Reagan yang citranya dibangun secara profesional dalam budaya audio
visual yang sanggup membuat sang tokoh jauh lebih menawan berkharisma
ketimbang aslinya.
Sebagai masukan buat memilih tema perdebatan, para komisioner di KPU
tampaknya bisa mengindahkan atau mempertimbangkan beberapa pendapat
pengamat politik Yudi Latif tentang isu-isu besar, bukan remeh temeh,
untuk diperbincangkan di forum debat capres-cawapres.
Apa tema-tema yang diusulkan itu? Pertama, tema pengembangan
mental-spiritual yang diarahkan untuk membentuk bangsa yang
berkepribadian. Kedua, tema pengembangan institusi sosial-politik yang
diarahkan untuk mewujudkan demokrasi yang bercita kerakyatan. Dan
ketiga, tema pengembangan material teknologis yang diarahkan untuk
mewujudkan masyarakat sejahtera.
Tema-tema besar ini, menurut pengamat politik yang juga peneliti di
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu, dapat menjadi alternatif
buat percaturan gagasan yang selama ini terlalu berat ke masalah-masalah
kurang substansial seperti kebohongan dan pertikaian antar kubu.
Yang berlu dikomentari dari opini Yudi Latif tersebut adalah bahwa
tema-tema yang ditawarkan memang mengandung muatan nilai akademis yang
cukup menantang bagi kalangan cendekiawan, tapi boleh jadi kurang
menarik buat didiskusikan atau diperdebatkan oleh capres yang tak punya
latar belakang akademis tulen seperti capres petahana Joko Widodo, yang
lulusan Fakultas Kehutanan maupun sang penantang Prabowo Subianto, yang
lulusan akademi militer.
Bagi mayoritas publik, tema paling menarik adalah langkah-langkah
konkret apa yang ditawarkan kedua kandidat dalam mengatasi pengangguran,
kemiskinan, dan melemahanya daya beli.
Tawaran solusi yang digulirkan kedua kubu selama ini dalam mengatasi
problem di atas sebenarnya cukup gamblang. Kubu petahana antara lain
berargumen bahwa dengan membangun infrastruktur di mana-mana, lapangan
kerja terbuka dan percepatan arus lalu lintas dapat memotong biaya
transportasi logistik sehingga harga-harga menjadi lebih murah.
Kubu penantang berpandangan bahwa pekerja asing yang memasuki lapangan
kerja buat buruh kasar di Tanah Air akan dipangkas dan diberikan kepada
angkatan kerja domestik.
Tak ada salahnya bila publik berharap bahwa opini-opini yang sudah
terlontar dalam polemik di ruang publik selama ini antara kubu petahana
versus kubu penantang tak akan diulangi lagi di forum debat yang
difasilitasi KPU.
Pada titik inilah moderator dituntut kepiawaiannya untuk memandu para
capres dengan menggiring mereka menghindari argumen-argumen normatif dan
klise yang membuat perdebatan kurang menggairahkan dan mencerahkan.*
*Baca juga: Fahri Hamzah usul perbanyak debat calon presiden-wakil
presiden
<https://www.antaranews.com/berita/748456/fahri-hamzah-usul-perbanyak-debat-calon-presiden-wakil-presiden>
Baca juga: Sandiaga menolak debat menggunakan bahasa Inggris
<https://www.antaranews.com/berita/748362/sandiaga-menolak-debat-menggunakan-bahasa-inggris>*
Pewarta: Mulyo Sunyoto
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018
* TAGS:
* debat capres <https://www.antaranews.com/tag/debat-capres>
AddThis Sharing ButtonsShare to Facebook