https://tirto.id/orang-orang-jawa-di-suriname-daqZ
25 November 1975
Orang-Orang Jawa di Suriname
Ilustrasi Mozaik Suriname
<https://tirto.id/orang-orang-jawa-di-suriname-daqZ>
Ilustrasi Mozaik Suriname
Oleh: Petrik Matanasi - 25 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
/Orang-orang Jawa Suriname, meski nyaman di Suriname, tak lupa
asal-usulnya sebagai keturunan Jawa yang dikapalkan sebagai kuli./
tirto.id <https://tirto.id/> - TIDAK benar jika penyanyi campur sari
Didi Kempot hanya terkenal di Jawa dan sebagian Indonesia. Si gondrong
ikal ini juga populer hingga ke Benua Amerika bagian selatan. Tepatnya
di sebuah negara kecil berpenduduk sekitar 534 ribu bernama Suriname. Di
pulau itu, 15 persen penduduknya adalah orang-orang Jawa.
Menteri Dalam Negeri Suriname, Soewarto Moestadja, yang namanya
memperlihatkan kejawaannya, pada 2013 pernah menyebut bahwa Didi Kempot
penyanyi terkenal di Suriname. Begitu juga biduanita keroncong
Waldjinah. Didi Kempot sering diundang menyanyi ke Suriname. Lagu-lagu
berbahasa Jawa laris di sana, meskipun bahasa Jawa Suriname agak berbeda
dengan bahasa Jawa yang kita dengar sekarang di sini.
"Kami tidak menggunakan bahasa Indonesia, namun bahasa Jawa. Orang tua
saya bicara bahasa Jawa. Anak-anak saya dalam pendidikannya menggunakan
bahasa Belanda, namun di rumah kami berbahasa Jawa,” kata Raymond Sapoen
seperti dirilis BBC, Sabtu (21/3/2015)
Menurut Hein Vruggink, dalam /Surinaams-Javaans – Nederlands
Woordenboek/ (2001), sekitar 70 persen orang Jawa di Suriname berasal
dari Jawa Tengah, 20 persen dari Jawa Timur, dan 10 persen dari Jawa Barat.
Kurang lebih, 90 persennya adalah etnis Jawa, 5 persen etnis Sunda, 2,5
persen Madura, dan sisanya suku lain, termasuk juga orang-orang Betawi
asal Jakarta. Itulah mengapa bahasa jawa Suriname mirip daerah Kedu,
Jawa Tengah. Daerah Kedu adalah wilayah bekas keresidenan Kedu seperti
Magelang, Purworejo, Boyolali, dan sekitar Yogyakarta.
Bahasa Sunda dan Madura tidak lagi dituturkan. Kemungkinan keturunannya
sudah berbaur dengan orang Jawa atau lainnya. Pernah ada juga penutur
dialek Jawa Banyumasan, yang biasa disebut Ngapak, namun juga punah.
Dialek ini dianggap lucu, dan penuturnya sering diejek, karenanya
keturunan penuturnya tak memakainya lagi. Di sana, bahasa Jawa ala
Suriname dipengaruhi oleh Bahasa Belanda dan Sranan Tongo. Meski begitu,
pengaruh itu tak mempengaruhi fonologinya sehingga masih terasa Jawa.
Hingga kini, menurut Vruggink, bahasa Jawa Suriname memiliki 65.000
penutur di Suriname dan 30.000 penutur di Negeri Belanda.
Infografik Diaspora Jawa Suriname
Bagaimana asal-usulnya?
Bahasa Jawa di Suriname adalah bahasa Jawa yang berkembang ketika
orang-orang Jawa di datang ke Guyana Belanda (yang kini bernama
Suriname) secara bergelombang sejak tahun 1880an. Tentu saja karena
dibawa Belanda dari Jawa.
Baca juga: Orang-Orang Jawa di Kaledonia
<https://tirto.id/orang-orang-jawa-di-kaledonia-cpef>
Sebagian besar dari mereka adalah kuli kontrak buta huruf yang tak punya
pilihan. Akhirnya, mereka bekerja di perkebunan gula atau perkayuan.
Selama kurun waktu 1890 hingga 1939, sebanyak 33 ribu orang Jawa
dikapalkan ke Suriname sebagai calon kuli perkebunan. Mereka
menggantikan kuli asal India yang dianggap banyak ulah.
Orang-orang Jawa yang jauh dari tanah leluhur mereka itu kemudian
beranak-pinak, dan tetap berkomunikasi dalam bahasa Jawa. Kebanyakan
mereka beragama Islam seperti halnya kebanyakan orang-orang Jawa.
Nama-nama Jawa pun masih mereka pakai, setidaknya sebagai nama belakang.
Sebagian memakai nama depan ala Belanda atau Inggris.
Hubungan dengan tanah leluhur pun mereka pelihara. Beberapa di antara
mereka bahkan sudah bertemu langsung saudara dan kerabat, atau sekadar
berhubungan lewat surat elektronik. Saat ini, di Facebook terdapat grup
Sambung Roso Java Suriname-Indonesia. Anggotanya mencapai 29,1 ribu akun
facebook.
Orang-orang Jawa di Suriname pun akhirnya terlibat dalam gerakan
politik. Dulu pernah ada Persekutuan Bangsa Indonesia Suriname (PBIS)
dan Kaum Tani Persatuan Indonesia (KTPI). Saat ini, yang eksis hanya
KTPI, Pertjaja Luhur dan Pandawa Lima. Beberapa tahun terakhir,
partai-partai Jawa itu, mendapat kursi di Parlemen Suriname. Mereka yang
duduk di parlemen antara lain: Paul Somohardjo, Martha Djojoseparto,
Soetimin Marsidh, Hendrik Sakimin, dan Ronny Tamsiran.
Dengan kendaraan Pandawa Lima yang dipimpinnya, Raymond Sapoean
mencalonkan diri dalam Pemilihan Presiden 2015. Pertjaja Luhur juga
mendukung Raymond. Meski akhirnya Raymond kalah dan Desi Bouterse
terpilih kembali.
Orang-orang Jawa juga banyak yang masuk di dalam pemerintahan. Selain
Soewarto yang menjadi menteri dalam negeri, ada Hendrik Setrowidjojo
yang menduduki posisi posisi menteri pertanian, ternak dan perikanan.
Ada pula Ginmardo Kromosoeto yang menjadi menteri perencanaan
pembangunan infrastruktur fisik dan pengelolaan pertanahan dan Ismanto
Adna yang jadi menteri pemuda dan olahraga. Dari 16 menteri kabinet Desi
Bouterse, ada empat menteri Jawa. Belum lagi anggota parlemen.
Menurut Raymond, orang-orang Jawa Suriname banyak yang menjadi "dokter,
guru, polisi, pengusaha, politisi, mereka yang bergerak di industri
serta finansial.” Meski minoritas, kehidupan sosial politik orang Jawa
di Suriname terbilang baik. Walau hanya 15 persen saja, orang-orang Jawa
Suriname sangat terwakili dalam kehidupan politik.
Selain menjadi seperti yang disebut Raymond ada juga yang terkenal
sebagai penulis, seniman atau olahragawan. Karin Amatmoekrim adalah
seorang penulis. Dalam situsnya, www.amatmoekrim.com, Karin juga
bercerita soal kedatangan orang-orang Jawa ke Suriname.
Orang Jawa yang jadi seniman ada Reinier Asmoredjo dan Soeki Irodikromo.
Mereka yang jadi olahragawan juga banyak. Ada Maarten Atmodikoro dan
Sigourney Bandjar di cabang sepakbola. Ada juga yang menjadi perenang:
Ranomi Kromowidjojo. Atlet bulutangkis juga ada, di antaranya Virgil
Soeroredjo dan Mitchel Wongsodikromo.
Banyak orang Jawa di Suriname yang tidak bisa lupa tanah leluhurnya,
Jawa. Di antara mereka, tak jarang ada keinginan berkunjung ke tanah
Jawa. Beberapa dari mereka berhasil bertemu famili jauh mereka di Jawa.
Sebagian lagi harus puas dengan menginjakkan kaki di tanah Jawa saja,
karena hubungan komunikasi sudah lama terputus.
Baca juga: Jejak Para Transmigran Jawa di Lampung
<https://tirto.id/jejak-para-transmigran-jawa-di-lampung-cidw>
Setelah 1945, setelah Indonesia merdeka, banyak orang Jawa Suriname yang
ingin pulang ke Jawa. Sebanyak 7 ribu orang sempat pulang ke Indonesia,
namun pemerintah mengarahkan mereka ke Tongar, Sumatra Barat, karena
Jawa sudah padat. Buruknya fasilitas hidup yang disediakan pemerintah di
daerah tersebut membuat sebagian orang Jawa Suriname itu memilih kembali
ke Suriname.
Tentu saja. Mereka datang untuk pulang ke Jawa, tapi malah
ditransmigrasikan lagi. Mereka menolak berulangnya sejarah, seperti
terjadi pada leluhur mereka. Kembali ke Suriname yang masih Jawa, tentu
lebih baik daripada di Indonesia tapi tidak di Jawa.
Selain bahasa yang masih terkonservasi, buah budaya lain seperti makanan
khas Jawa juga masih terjaga. Rasanya memang agak berbeda, seperti yang
ditulis oleh Emha Ainun Nadjib.
“Pecel dan soto (di Pasar) Alberqueque itu ramuan dan rasanya juga tidak
nyamleng, saya bayangkan itu pecel soto abad ke-18, dimasak oleh orang
yang tidak ahli,” tulis Emha dalam Jejak Tinju Pak Kiai (2008).
Namun Emha memakluminya. Menurutnya, orang-orang Jawa yang didatangkan
ke Suriname itu hanya orang-orang yang hanya mengerti pertanian saja
yang ikut. Jika pengiriman orang-orang Jawa tersebut dalam rangka
transmigrasi bedol desa, barangkali tak hanya orang-orang tani saja yang
ikut, tapi juga kyai, pengrawit, jago silat, dan juru masak yang paling
enak masakannya.
Maka, wajar jika soto dan pecel mereka kalah enak dengan soto dan pecel
yang bisa ditemukan di restoran-restoran Indonesia di Belanda. Rasa soto
dan pecel Suriname seolah terputus dari tanah leluhurnya. Resep yang
diwariskan secara turun-temurun bukanlah resep terbaik karena bukan
berasal dari ahli masak.
Meski banyak hal terputus seperti rasa soto, tapi hubungan
surat-menyurat karen rasa rindu dan penasaran orang Jawa Suriname tetap
ada. Bagi mereka yang belum bisa menginjakan tanah nenek moyang, grup
facebook Sambung Roso Java Suriname-Indonesia, yang anggotanya mencapai
29,1 ribu, cukup membantu.
Media sosial macam Facebook pun membantu sebagian mereka bertemu
keluarga jauh. Mereka juga memperingati kedatangan mereka di Guyana
Belanda. Pada 9 Agustus, orang-orang Jawa di Suriname memperingati Hari
Imigrasi Jawa yang dikenal sebagai The Day of Wong Jawa.
Baca juga artikel terkait SURINAME
<https://tirto.id/q/suriname-fuE?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
<https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Humaniora)
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
Leluhur Jawa Suriname kebanyakan berasal dari Jawa Tengah.