"Pil Pahit" Jokowi
Selasa , 27 November 2018 | 09:06
http://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/4916/_pil_pahit__jokowi
Sumber Foto Jokowinomics
Ilustrasi
POPULER
"Pil Pahit" Jokowi
<http://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/4916/opinidaneditorial/read/4916/%22>
Listen to this
Ibarat orang sakit, bangsa Indonesia membutuhkan pil pahit yang akan
menyembuhkan dan membuat tubuh lebih segar dan kuat. Tapi bagaimana
kalau sudah meminum pil pahit kondisi perekonomian masih saja berat?
Tentu dibutuhkan refleksi dan pemikiran lebih mendalam, apa yang perlu
dikoreksi dan perbaikan ke depan.
Presiden Joko Widodo menyebut proses perbaikan perekonomian sebagai pil
pahit, yang harus diminum agar bisa menjadi bangsa yang sehat,
produktif, kompetitif dan efisien. "Memang kadang-kadang apa yang kita
hasilkan tidak instan, tidak bisa langsung kita nikmati. Itulah pil,
kadang-kadang pahit, sakit, tapi harus minum," kata Jokowi saat bicara
dalam acara ulang tahun MetroTV yang ke-18 di Jakarta, Senin malam.
Jokowi menggambarkan kondisi awal masa pemerintahannya empat tahun lalu
ketika perekonomian tertekan karena harga-harga komoditas anjlok,
seperti batubara, sawit, karet, karena memang ekonomi dunia yang juga
dalam posisi menurun. "Masa/booming/minerba sudah selesai. Oleh sebab
itu tidak ada pilihan lain bagi ekonomi Indonesia untuk harus berubah,"
katanya.
Maka, kata Presiden, pemerintahannya harus memperbaiki pondasi-pondasi
ekonomi yang dalam keadaan menurun tersebut. "Kita bekerja keras
membangun pondasi-pondasi baru. Kita semua ingin bangsa ini hijrah.
Hijrah dari yang konsumtif ke yang produktif, kita ingin hijrah menuju
bangsa yang produktif, efisien, dan kompetitif," katanya.
Tanpa kerja keras tersebut, katanya, Indonesia akan sangat berat untuk
bersaing dengan negara-negara lain. Namun apa yang dihasilkan tidak
instan atau tidak bisa langsung dinikmati. Untuk bisa jadi bangsa yang
sehat produktif, kompetitif dan efisien, pemerintah juga telah
memperbaiki struktur fiskal. Beberapa kebijakan yang disebutnya sebagai
pil pahit tersebut antara lain:
*Pertama*, pemangkasan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Subsidi BBM
ketika itu sekitar 82 persen justru dinikmati kalangan masyarakat atas.
*Kedua*, pembangunan tidak lagi "Jawa Sentris", tapi "Indonesia
Sentris". "Kita memilih yang 'Indonesia Sentris' karena kita ingin
membangun Indonesia untuk keadilan sosial, untuk memunculkan
sentra-sentra ekonomi baru di luar Jawa," tegasnya.
*Ketiga*, pemangkasan berbagai regulasi yang berbelit-belit dan
menghambat investasi. Diberikan contoh, proses perijinan membangun
pembangkit tenaga listrik sangat panjang, ada 258 izin yang harus
ditempuh. Kini tinggal 58. “Saya bilang belum cukup, terlalu banyak izin
seperti itu. Tapi ini perlu proses tidak bisa instan, perlu proses untuk
mulai kompetitif, esien,"
Kita sependapat dengan Presiden Jokowi bahwa bangsa Indonesia harus
meninggalkan kebiasaan buruk yang terlalu konsumtif dan berubah menjadi
lebih produktif. Peningkatan produktifitas tersebut harus dimulai dari
kebiasaan masyarakat, pola pendidikan yang tepat, sikap disiplin serta
menghargai karya dan prestasi.
Beberapa hal telah bisa kita saksikan sebagai hasil yang dicapai selama
empat tahun pemerintahan Jokowi. Namun tentu saja orang bisa mengkritisi
capaian-capaian tersebut karena dalam sejumlah aspek lain kita belum
melihat kinerja yang bagus. Beberapa contoh yang sering dikemukakanpara
pengamat antara lain kinerja ekspor yang menurun, kurs rupiah yang terus
melemah, penurunan daya beli masyarakat dan beberapa hal lainnya.
Kita memang bergerak maju, namun negara-negara lain di sekitar kita
bergerak lebih cepat dari apa yang kita lakukan. Hal itu terlihat dari
beberapa indikator, misalnya, tingkat dayasaing kita masih di bawah
negara lain di Asean. Indonesia adalah negara besar yang pada masa lalu
menjadi poros penting dalam diplomasi antarbangsa, terlebih lagi di
Asean dan negara-negara berkembang, namun posisi itu kini tidak lagi
kita miliki.
Tanpa bermaksud membandingkan dengan visi politik rival Jokowi dalam
Pilpres 2019 nanti, menarik juga pandangan Prabowo Subianto ketika
bertemua PM Singapura Lee Hsien Loong, Senin (26/11).Prabowo yang akan
berbicara pada acara The Economist World in 2019 Gala Dinner di
Singapura, mengatakan Indonesia semestinya bisa menjadi negara
pengekspor energi, pangan, air. “Bukan importir," ujarnya.
Kita, tentu saja, tidak akan mudah mencapainya. Tentu akan lebih banyak
“pil pahit” yang harus diminum sehingga sebagai bangsa kita makin kuat.
Kita tidak hanya harus kuat secara ekonomi, namun sebagai bangsa kita
harus menjaga kehormatan dan integritasnya. Kita harus makin terpadu,
bukan tercerai berai, saling curiga dan “saling tabok” satu sama lain.
Pil pahit itu bukan hanya memperkuat daya tahan tubuh, namun mampu
mendinamisasi kemajuan sehingga disegani bangsa-bangsa lain.
Sumber Berita:Berbagai sumber
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com