http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1380-ekonomi-kolaborasi
/*Ekonomi Kolaborasi*/
Penulis: *Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group* Pada: Rabu, 28 Nov
2018, 05:30 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1380-ekonomi-kolaborasi>
<http://twitter.com/home/?status=Ekonomi Kolaborasi
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1380-ekonomi-kolaborasi
via @mediaindonesia>
Ekonomi Kolaborasi
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2018/11/1da786c2679b6c2833f55ef73adaf904.jpg>
PERINGATAN ulang tahun ke-18 Metro TV tahun ini diisi curah pendapat
tentang bagaimana sebaiknya kita menatap 2019 mendatang. Di tengah
ketidakpastian global dan tahun politik yang cenderung ‘membelah’, kita
sebagai bangsa harus melakukan yang terbaik untuk menciptakan
kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Kita tahu sekarang ini Indonesia dipenuhi anak-anak milenial. Bahkan,
menurut Saiful Mujani Research Center, 55% pemilih pada pemilihan umum
tahun depan ialah para milenial. Merekalah yang akan menjadi penentu
masa depan Indonesia.
Presiden Joko Widodo melihat kaum milenial Indonesia bukan hanya
memiliki rata-rata pendidikan lebih baik, melainkan juga mereka sangat
kreatif. Apa yang bisa dilakukan bangsa lain, bisa dilakukan anak
milenial Indonesia. Mereka paham tentang artificial intelligence, tahu
soal internet of things, cryptocurrency, dan semua yang berkaitan dengan
teknologi informasi.
Anak-anak milenial itu harus diberi ruang untuk mengembangkan terus
kreativitas mereka. Janganlah cara berpikir mereka dirusak oleh cara
pandang sempit. Jangan pikiran mereka dijejali dengan informasi yang
menyesatkan, hoaks, fitnah, dan pikiran yang memecah belah bangsa.
Dalam bidang ekonomi pun, kita harus mengedepankan kolaborasi. Sekarang
bukan zamannya kompetisi untuk saling mengalahkan, melainkan saling
menopang untuk membesarkan. Apalagi, ada teknologi yang memungkinkan
untuk dilakukannya kolaborasi.
Kita bisa melihat bagaimana perang dagang yang dilakukan AS terhadap
Tiongkok. Pembalasan yang dilakukan Tiongkok membuat akhirnya tidak ada
yang menang. Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, pertumbuhan
ekonomi AS yang tahun ini mencapai 3%, tahun depan akan turun menjadi
2,5%. Sebaliknya, inflasi akan meningkat karena konsumen harus membayar
barang kebutuhan dengan harga lebih mahal.
Seperti kata pepatah, dalam perang itu tidak pernah ada yang meraih
kemenangan. Yang kalah jadi abu, yang menang jadi arang. Tiongkok pun
dibayangi pertumbuhan tahun depan yang akan melambat akibat dari pilihan
perang dagang melawan AS.
Pengalaman perusahaan transportasi Blue Bird menarik untuk menjadi
pembelajaran. Kehadiran taksi online yang nyaris tanpa investasi membuat
Blue Bird sempat limbung. Namun, dengan adaptasi yang dilakukan serta
kolaborasi yang dilakukan dengan perusahaan berbasis teknologi, seperti
Go-Jek dan Traveloka, kini Blue Bird mampu tumbuh kembali.
Negara seperti Jepang dan Taiwan sudah sejak lama mengembangkan ekonomi
kolaborasi. Kedua negara tersebut menjelma sebagai kekuatan ekonomi
dunia bukan karena konglomerasi. Jepang dan Taiwan menjadi besar justru
karena banyaknya usaha kecil dan menengah yang ada di negara itu.
UKM di Jepang dan Taiwan memang ditopang sumber daya manusia yang kuat
dan mampu beradaptasi terhadap teknologi. Mereka mampu menjadi bagian
dari mata rantai produksi. Perusahaan kecil dan menengah itu berperan
sebagai pemasok untuk perusahaan-perusahaan besar.
Dengan sistem yang disebar banyak seperti itu, beban tidak menjadi
terlalu berat. Pegawai tidak harus menumpuk pada satu perusahaan.
Investasi tidak harus dikeluarkan dari satu kantong. Ekonomi kolaborasi
membuat semua mempunyai peran dan kemudian menikmati bagian dari peran
yang dijalankannya.
Presiden Jokowi melihat kerja sama dan kolaborasi merupakan jawaban
terhadap tantangan masa depan. Hanya, itu tidak mudah dijalankan karena
ini berkaitan dengan cara pandang, cara berpikir, dan cara bertindak.
Harus ada kemauan untuk berubah dan menjadikan kolaborasi sebagai kekuatan.
Perekonomian kita sekarang ini agak tersendat karena ada dikotomi
antarkekuatan. Seakan badan usaha milik negara dan perusahaan swasta itu
ialah dua kelompok usaha yang harus bersaing dan saling mengalahkan.
Perusahaan besar itu dianggap sebagai ancaman bagi usaha mikro, kecil,
dan menengah.
Begitu sulitnya kita hidup berdampingan. Sikap untuk saling mengalahkan
begitu kuatnya. Seakan menjadi ‘raja’ itu merupakan kehebatan. Padahal,
tanpa ada kekuatan yang mendampingi, posisi ‘raja’ tidak ada artinya.
Ketika kita besar sendiri dan tidak ada siapa pun di sampingnya, kita
sebenarnya juga menjadi tidak berarti.
Betapa indahnya apabila kebersamaan itu bisa kita bangun. Pembangunan
tol yang dilakukan BUMN akan lebih menggerakkan ekonomi lebih cepat
ketika kontraktor swasta di daerah dibagi juga pekerjaannya. Produsen
besar mengajak perusahaan kecil untuk menjadi distributor produk mereka.
Industri besar meminta perusahaan kecil untuk menjadi pemasok komponen
bagi perusahaannya. Ketika semua orang merasa mendapat peran dalam
pembangunan ini, kita bukan hanya akan bisa tumbuh lebih cepat,
melainkan juga meraih hidup sejahtera bersama-sama. Itulah yang harus
kita lakukan bersama di tahun depan.