MengapaPinjaman Tiongkok menjadi tak terbayar? Oleh: Jose Maria Sison
Kepala Konsultan Politik NDFP 21 November 2018 Bukan hanya biaya bunga 2%hingga 6% yang membuat pinjaman Tiongkok untuk proyek infrastruktur akhirnyaterlalu memberatkan dan tidak dapat dibayar. Yang lebih penting lagi adalahharga terlalu mahal dari berbagai bagian dan aspek dari proyek-proyek itu yangmembuat pinjaman ini tak terbayar kembali. Perusahaan-perusahaankonstruksi Tiongkok bisa dengan seenak perutnya sendiri menetapkan harga mahal semuanya:desain, jasa teknik, penggunaan peralatan, pasokan bahan konstruksi, kontrak tenagakerja Tiongkok, dan sebagainya. Harga terlalu mahal membawabunga tersembunyi yang jauh lebih besar pada pinjaman. Penetapan harga yangmahal sekali memungkin-kan pembayaran kepada para pejabat rezim dan itu terwujuddalam amortisasi pembayaran utang pokok dan bunganya yang tak terbayar. Apa yang dilakukan kaum imperialisTiongkok serupa dengan penipuan yang dilakukan sosial imperialis Soviet terhadapTiongkok sosialis pada paruh kedua tahun 1950-an. Pembiayaan proyek-proyek Uni Soviet di Tiongkok sama sekali tidak dikenakanbunga tetapi harga yang terlalu mahal memberikeuntungan jauh lebih besar daripada bebanbunga yang dinyatakan secara terbuka. Dalam kontrak dengan bank-bankdan perusahaan konstruksi Tiongkok, ada ketentuan untuk mengubah utang yangbelum dibayar menjadi ekuitas Tiongkok serta pengambilalihan struktur yangtelah dibangun oleh perusahaan Tiongkok. Ini terpapar dengan jelas di Sri Lanka, Pakistan, Maladewa, Kenya dantempat lain. Mahatir Mohamad, perdana menteri Malaysia, telah secara terbukamemperingatkan terhadap operasi rentenir Tiongkok. Selalu haus akan sumber daya alam untukmemberi makan kepada industrinya, Tiongkok juga terkenal karena mengambil sumberdaya alam negeri-negeri kliennya yang terbelit hutang sebagai jaminan. Makaitu, rezim Duterte terang-terangan menjadi pengkhianat karena secara praktis menukarhak kedaulatan Filipina atas Laut Filipina Barat dan minyak serta gas senilai sekitar60 miliar dolar AS dan sumber daya lainnya dengan pinjaman beberapa miliardolar dengan bunga tinggi untuk proyek-proyek infrastruktur yang terlalu mahal. Ini adalah pertukaran yang tidak adil. Dengan mengijinkanTiongkok menjadi mitra dan rekan pemilik usaha bersama untuk mengeksplorasi danmengeksploitasi sumber daya energi di Laut Filipina Barat, Filipina dibuat bungkamdan menyerahkan hak kedaulatannya. Ini telah memungkinkan perusahaan Tiongkok mengeksplorasidan mengeksploitasi minyak , gas dan sumber daya lainnya, memonopoli penemuaneksplorasi dan akuntansi biaya, serta hasil eksplorasi dan eksploitasi. Di bawahrezim pengkhianat Duterte yang bodoh, Filipina tunduk pada persyaratan Tiongkokuntuk melepaskan hak kedaulatan dan warisan alam, tidak hanya dengan jatuh dalamperangkap utang yang curang tetapi juga dengan menerima ketentuan hukum danpolitik bahwa perjanjian ekonomi, perdagangan dan pinjaman diatur dan ditafsirkan sesuai denganundang-undang Tiongkok ; perselisihan dengan Filipina mengenai ketentuankontrak harus diselesaikan melalui arbitrase Komisi Arbitrase Ekonomi danPerdagangan Internasional Tiongkok. Perangkap utang Tiongkok cukup untuk mengubah Filipina menjadi koloniutang Tiongkok. Tetapiakumulasi utang Filipina dari kreditor bilateral dan multilateral tradisionalnya(AS, Jepang, Bank Dunia, IMF dan sebagainya) akan secara otomatis meningkatsebagai akibat dari pengetatan kuantitatif (peningkatan suku bunga) yang telahdimulai oleh Bank Federal AS untuk mengatasi utang publik AS yang sudahberlebihan selama periode pelonggaran kuantitatif (rezim suku bunga rendah). Satu-satunyasebab Duterte dan kroni-kroninya masuk ke dalam jebakan utang Tiongkok dantindakan pengkhianatan menyerahkan hakkedaulatan dan warisan nasional ke Tiongkok adalah karena mereka mendapatkan keuntunganpribadi dari saham kontrak dan komisi sebagai perantara transaksi dan tampaknya hadiah sudah mereka terima di muka dalambentuk pinjaman dan akomodasi yang diberikan oleh bank dan perusahaan Tiongkok kepadaDennis Uy, agen pentolan Duterte.
