Cagar budaya Sembalun di Lombok belum terurus pascagempa
Senin, 3 Desember 2018 10:26 WIB
Cagar budaya Sembalun di Lombok belum terurus pascagempa
Arsip Foto. Dua rumah adat di Senaru, Lombok Utara, NTB, pada 18 Agustus
2018. (ANTARA)
Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (ANTARA News) - Cagar budaya yang
meliputi tujuh rumah adat berusia 600 sampai 700 tahun di Desa Sembalun
Lawang, Kabupaten Lombok Timur, yang rusak berat akibat gempa pada Juli,
hingga kini belum terurus.
Gempa membuat dua dari tujuh rumah adat beratap jerami atau rumput
ilalang dengan dinding anyaman bambu dan lantai tanah berlapis kotoran
sapi itu rata dengan tanah. Empat rumah adat lainnya rusak pada bagian
lantai.
"Seperti itu kondisinya. Rencananya pemerintah desa akan melakukan
renovasi pada 2019 dengan konsep yang sama," kata Hamidun, Humas Karang
Taruna Desa Sembalun Lawang yang juga pengelola Rumah Adat Bukit Selong
di Sembalun, Senin.
Hamidun mengatakan bahwa setelah gempa tidak ada lagi wisatawan yang
berkunjung ke kompleks rumah adat peninggalan nenek moyang warga
Sembalun itu.
"Seperti yang dilihat, kondisinya memprihatinkan. Hanya sapi yang
berkeliaran. Kami sudah minta warga untuk tidak membiarkan sapinya masuk
ke areal cagar budaya tersebut," katanya.
Hamidun selaku pengelola rumah adat sudah mengajukan proposal ke
pemerintah desa agar memperbaiki cagar budaya tersebut menggunakan dana
desa. Permohonan bantuan untuk perbaikan rumah adat juga sudah diajukan
ke Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, dan Pemerintah Provinsi Nusa
Tenggara Barat.
"Kami ingin itu segera diperbaiki karena banyak wisatawan domestik dan
mancanegara yang datang untuk melihat peninggalan bersejarah ini," kata
Hamidun sambil menunjuk ke satu rumah adat yang rata dengan tanah.
Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur Mertawi mengakui
pemerintah daerah belum memberikan perhatian khusus pada Rumah Adat
Sembalun pascagempa.
"Rumah adat tersebut juga destinasi wisata, pasti ada upaya perbaikan,"
katanya.
Ia mengatakan pemerintah daerah akan membantu perbaikan rumah adat
tersebut, yang merupakan peninggalan tujuh keluarga yang memulai
kehidupan baru di Sembalun setelah Gunung Samalas (Gunung Rinjani)
meletus pada 1257.
"Bangunan berusia ratusan tahun tersebut memiliki filosofi yang tinggi
dan erat kaitannya dengan kebudayaan warga Sembalun pada zaman kerajaan
yang diwariskan hingga saat ini," kata Mertawi, yang juga Ketua Lembaga
Adat Sembalun Lawang.
*Baca juga:Area perbukitan Sembalun longsor pascagempa 6,5 SR
<https://www.antaranews.com/berita/738908/area-perbukitan-sembalun-longsor-pascagempa-65-sr>*
Pewarta:Awaludin
Editor: Maryati
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com