Sebuah message via telpon yg saya terima dari seorang kawan di Belgi berbunyi 
sbb:
[22:14, 2018-12-2] : Sebenarnya pakde Kuslan keadaannya sangat kritis jadi 
kabar DUKA yg terkirim tidak sebenarnya apa adanya karena ketidak telitian 
kabar yg saya terima. Dengan ini mohon maaf tak terhingga dan kabar selanjutnya 
akan sesegera menyusul keadaannya. Sekali lagi pak Kuslan saat ini dalam 
keadaan yg sungguh kritis. Mohon maaf ya.[22:14, 2018-12-2]  : nggak apa, ... 
pakde Kuslan masih ADA bersama kita walaupun keadaannya sungguh sangat kritis. 
Jadi kabar DUKA tsb tidak benar adanya. Saya sedang mengabar kepada kawan yg 
saya sudah kirimkan kabar baru lalu. Begitu ... saya dapat mengambil nafas 
sedikit lega ...
Semoga Bung Kuslan segera pulih dari krisis ini.
//Tom Iljas
    Den söndag 2 december 2018 21:54:59 CET, Tatiana Lukman 
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> skrev:  
 
     

 Bung Arif,Saya terkejut sekali!! Kapan meninggalnya? Kok tidak ada beritanya 
sama sekali?
senantiasa,tatiana
    On Sunday, December 2, 2018, 9:27:42 PM GMT+1, '[email protected]' 
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:  
 
     

 Saya terkejut mendapat berita duka tentang kepergian Bung Kuslan untuk 
selama-lamanya. 
Saya kenal Almarhum seorang yg sederhana dengan sikapnya yang ramah dan 
bersahabat. 
Ikut sedih , merasa ikut kehilangan. 
Selamat jalan Bung Kuslan ketempat peristirahatan terakhir dalam kedamaian 
abadi. 
 
Arif Harsana 
========= 
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10156265291499055&id=730669054 
 
 
MENGENANG KUSLAN BUDIMAN (1935-2018) 
 
Saya memanggilnya Oom Kuslan, kadang-kadang Pakde Kuslan. Manasuka. Keduanya 
panggilan akrab. Terakhir berkunjung ke rumahnya di kota Woerden pada Juni yang 
lalu bersama kurator seni Mikke Susanto dan sahabat kami, Mas Gogol. Dalam 
pertemuan itu kami mendengar banyak cerita dari lelaki yang berusia 83 tahun 
itu: lahir pada 1935, pernah jadi guru di Pacitan, kuliah di ASRI Yogyakarta, 
melanjutkan ke pendidikan seni ke Akademi Drama dan Opera di Beijing, Tiongkok 
dan kemudian kuliah di Institut Seni Terapan di Moskow, Uni Soviet. Pak Kuslan 
seniman terkemuka pada masanya. Syair-syairnya dimuat di beberapa media 
nasional. Pernah pameran lukisan mulai Yogyakarta sampai Moskow. Ia menguasai 
paling tidak 3-4 bahasa asing. Menerjemahkan syair-syair Tiongkok dan tetap 
melukis di hari-hari tuanya. 
 
Sebelum berangkat untuk kuliah keluar negeri, Pakde Kuslan sempat menjadi guru 
di Pacitan. Dia pernah bercerita pada saya kalau kepala sekolah di mana dia 
mengajar adalah kakeknya SBY. “Kakeknya pintar nembang,” kata dia. 
 
Tiap kali ke Belanda saya berupaya menyempatkan datang ke rumah seniman gaek 
ini. Buat sejarawan terkemuka seperti Dr. Sri Margana, Pak Kuslan sudah seperti 
ayahnya sendiri. Di rumahnya lah Margana menyelesaikan disertasinya tentang 
kerajaan Blambangan. Foto kedua saat kami di Woerden sekira 2015 yang lampau. 
 
Lantas mengapa orang sehebat Kuslan terdampar di Belanda hingga usia senja? 
Semua sudah menduga. Dia adalah eksil (exile) politik yang terhalang pulang 
karena peristiwa 1965. Kuslan anggota Lekra yang seumur hidupnya tidak pernah 
terbukti membunuh siapapun atau melakukan tindak kriminal. Ia bertahan hidup di 
negeri orang karena keyakinan politiknya bertentangan dengan rezim Soeharto. 
 
Dini hari ini saya menerima sebuah kabar duka. Pakde Kuslan meninggal dunia.. 
Bagi mereka yang mengenal dekat dirinya, tentu akan sangat kehilangan, tidak 
terkecuali saya. 
 
Selamat jalan Pakde Kuslan Budiman... seniman besar yang pernah dimiliki 
Indonesia.... selamat tinggal 😭😭😭😭😭😭 
 
 
 Gesendet mit der Telekom Mail App        

Kirim email ke