https://www.antaranews.com/berita/774922/menperin-indonesia-tinggalkan-
ekspor-bahan-mentah-sebagai-sumber-pertumbuhan
Menperin: Indonesia tinggalkan
ekspor bahan mentah sebagai
sumber pertumbuhan
Rabu, 5 Desember 2018 19:29 WIB
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (ANTARA/Biro Humas Kementerian
Perindustrian)
Kami dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional sekarang ini semua
sedang membuat manufaktur menjadi 'mainstream' kembali
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia akan kembali menjadikan industri
manufaktur sebagai sumber terbesar pertumbuhan ekonomi, ketimbang terus
bergantung pada ekspor bahan mentah yakni sumber daya alam, namun perlu
penyempurnaan kebijakan pengembangan teknologi dan kualitas sumber daya
manusia untuk reindustrialisasi.
"Kami dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional sekarang ini semua
sedang membuat manufaktur menjadi /mainstream/ kembali. Salah satu dari
tujuan industri 4.0 adalah mengembalikan manufaktur menjadi arus utama,"
kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam sebuah diskusi
terkait penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
2020-2024 di Jakarta, Rabu.
Menjadikan manufaktur sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi, kata
Airlangga, akan termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) 2020-2024. RPJMN tersebut kini sedang disusun oleh
Bappenas dan instansi pemerintah terkait lainnya.
Saat ini, menurut data Bappenas, kontribusi industri manufaktur terhadap
Produk Domestik Bruto (PDB) baru 20 persen. Angka itu dinilai belum
ideal. Berkaca pada beberapa dekade silam, kontribusi industri
manufaktur terus mengalami penurunan hingga kini. Pada awal 1990-an,
kontribusi manufaktur terhadap PDB mencapai 27 persen.
Menurunnnya kontribusi manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi karena
Indonesia sudah terlalu lama mengandalkan ekspor bahan mentah seperti
kelapa sawit dan batu bara sebagai mesin pertumbuhan. Padahal ekspor
komoditas mentah sangat rentan terhadap pergerakan harga di pasar
global, dan tidak berkelanjutan karena kurang memiliki nilai tambah.
Menurut Airlangga, sebagai negara kaya sumber daya alam, industri
manufaktur memiliki potensi yang besar untuk pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Terlebih, saat ini pemerintah sedang mendorong industri 4.0
yang akan menciptakan efesiensi dan digitalisasi industri.
Berdasarkan RPJMN 2020-2024 yang sedang disusun pemerintah, pertumbuhan
industri manufaktur perlu mencapai 5,4-7,05 persen. Bappenas juga ingin
mempertahankan kontribusi manufaktur terhadap PDB stabil di kisaran 20
persen, untuk mencapai 27 persen pada 2030.
Dengan asumsi itu, pertumbuhan ekonomi pada 2020-2024 dapat mencapai
rentang 5,4-6 persen.
Sementara itu Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
Bambang Brodjonegoro optimistis pertumbuhan manufaktur pada tahun 2024
tumbuh signifikan. Kata Bambang, hal ini salah satunya dengan
memprioritaskan industri manufaktur menjadi laju utama ekonomi Indonesia.
"Di 2024, kita ingin membalikkan, karena sekarang ini kan trennya
menurun secara kontribusi. Nah kita mau mengembalikan lagi.
Mengembalikan kan tidak mudah dan tidak bisa hanya dengan program rutin
makanya kita angkat masalah reindustrialisasi supaya kontribusinya
kembali," kata Bambang.
Kepala Bappenas/Menteri PPN Bambang Brodjonegoro memberikan keterangan
kepada wartawan di Jakarta, Rabu, (Indra Arief Pribadi)
*Baca juga: Stafsus Presiden: Pengetahuan jadi tantangan ekonomi masa
depan
<https://www.antaranews.com/berita/774913/stafsus-presiden-pengetahuan-jadi-tantangan-ekonomi-masa-depan>*
*Baca juga: Menperin yakini kinerja manufaktur tumbuh positif hingga
akhir tahun
<https://www.antaranews.com/berita/774534/menperin-yakini-kinerja-manufaktur-tumbuh-positif-hingga-akhir-tahun>*
Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018
* TAGS:
* Airlangga Hartarto <https://www.antaranews.com/tag/airlangga-hartarto>
* Menperin <https://www.antaranews.com/tag/menperin>
* Pertumbuhan Ekonomi <https://www.antaranews.com/tag/pertumbuhan-ekonomi>